Peristiwa itu melibatkan pemain PS Putra Jaya, Hilmi Gimnastiar, yang melayangkan tendangan ke arah dada pemain Perseta 1970 Tulungagung, Firman Nugraha, pada sekitar menit ke-71 pertandingan. Aksi tersebut terjadi di luar konteks perebutan bola di udara, sehingga dinilai sebagai tindakan brutal yang tidak memiliki justifikasi teknis dalam permainan sepak bola.
Komdis PSSI Mengecam Kekerasan dalam Sepakbola
Insiden ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Ketua Komdis PSSI, Umar Husin, menyayangkan kejadian tersebut dan menilai tindakan tersebut bertentangan dengan prinsip dasar fair play yang seharusnya dijunjung tinggi oleh setiap insan sepak bola.
BACA JUGA: Swasembada Pangan Energi Jadikan Negara Makmur
“Isu tentang keselamatan atlet ini tidak hanya monopoli keluarga sepak bola. Jadi semua olahraga itu harus menjamin keselamatan atletnya,” kata Umar dalam pernyataan resmi.
Ia menegaskan bahwa keselamatan atlet merupakan prioritas utama dalam setiap pertandingan olahraga, termasuk sepak bola. Umar menjelaskan bahwa regulasi nasional telah memberikan landasan yang jelas terkait perlindungan atlet, bahkan memungkinkan penghentian atau pembatalan pertandingan jika situasi di lapangan dinilai membahayakan.
Keselamatan Atlet Jadi Prioritas di Setiap Laga
“Jadi pertandingan bisa ditunda, bisa dibatalkan, bisa ditutup kalau mengancam keselamatan atlet dan pihak-pihak yang terlibat. Itu diatur di Undang-Undang Olahraga ya, Undang-Undang Keolahragaan Nasional, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022,” ujarnya.
Menurut Umar, undang-undang tersebut memuat banyak pasal yang menegaskan pentingnya keselamatan atlet sebagai aspek utama dalam penyelenggaraan olahraga. Ia mencontohkan bahwa memaksa atlet bertanding dalam kondisi tidak layak pun termasuk pelanggaran serius. “Misalkan atlet sakit dipaksa main, itu enggak boleh gitu,” katanya.
Lebih lanjut, Umar menjelaskan bahwa dalam konteks sepak bola, aturan mengenai perlindungan atlet juga secara spesifik diatur dalam Kode Disiplin PSSI. Penegakan aturan ini, menurutnya, menjadi kunci untuk mencegah terulangnya tindakan-tindakan brutal di atas lapangan.
“Turunannya khusus sepak bola itu ada di Kode Disiplin, ya. Memang untuk mencegah berulangnya tindakan-tindakan brutal, memang harus ditegakkan secara tegas,” lanjutnya.
Komdis PSSI Ingin Ciptakan Iklim Sehat
Ia menekankan bahwa tujuan utama Komdis bukan semata-mata menghukum, melainkan menciptakan iklim kompetisi yang sehat dan kondusif. “Pada prinsipnya kita itu ingin mengembangkan dunia sepak bola, membantu federasi mengembangkan sebuah kondisi yang kondusif untuk perkembangan sepak bola ya. Artinya bagaimana sepak bola itu berkembang dengan sehat, dengan baik, dan tidak merugikan pihak lain,” ujar Umar.
Sejalan dengan berbagai laporan media olahraga nasional, kekerasan di level kompetisi bawah kerap menjadi sorotan karena dinilai mencerminkan lemahnya edukasi fair play dan penegakan disiplin. Karena itu, Umar menegaskan bahwa sanksi berat layak dijatuhkan kepada pelaku pelanggaran keras, termasuk kemungkinan hukuman terberat berupa larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup.
BACA JUGA: Prasetyo Hadi Sebut Presiden Akan Segera Bentuk Satgas Bencana
“Kami mengimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum pihak-pihak yang melakukan pelanggaran-pelanggaran yang keras, brutal, sehingga tidak mengganggu jalannya kompetisi,” katanya.
Ia kembali menegaskan bahwa jaminan keselamatan atlet tidak hanya diatur dalam Kode Disiplin PSSI, tetapi juga dijamin secara hukum melalui Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. “Terkait kejadian tersebut kami rasa harus dihukum seberat-beratnya, seperti larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup,” tegas Umar.
Insiden ini kembali menjadi pengingat bahwa reformasi budaya disiplin dan sportivitas di sepak bola Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani secara serius dan berkelanjutan.








