NarayaPost – Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menegaskan, Amerika Serikat (AS) bakal menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan, jika mencoba menginvasi negara itu.
Miguel Diaz-Canel mengatakan, negaranya akan tetap teguh menghadapi ancaman Washington.
“Menghadapi skenario terburuk, Kuba memiliki satu jaminan, setiap agresor eksternal akan menghadapi perlawanan yang tak tergoyahkan,” kata Diaz-Canel dalam sebuah pernyataan.
Presiden AS Donald Trump memberi tekanan besar kepada pemerintah komunis republik itu.
Awal pekan ini, Trump mengaku bakal segera mengambil alih dan melakukan sesuatu dengan negara berjuluk Mutiara Antilles itu.
Negara bekas koloni Spanyol itu juga berada di bawah tekanan yang semakin berat, usai AS memberlakukan blokade minyak, dan secara terbuka menyatakan ingin mengakhiri kebuntuan dengan negara komunis itu.
BACA JUGA: Trump Bakal ‘Urus’ Kuba Setelah Iran
Awal pekan ini, pejabat Kuba mengatakan negaranya terbuka berbicara dengan AS, dan mengizinkan lebih banyak investasi.
Namun, mereka menegaskan tidak akan membahas perubahan sistem politik.
“Tidak ada sistem politik kita, tidak ada yang berkaitan dengan model politik kita maupun model konstitusional kita yang menjadi bagian dari negosiasi, dan tidak akan pernah menjadi bagian dari itu.”
“Satu-satunya hal yang diminta Kuba dalam setiap pembicaraan adalah penghormatan terhadap kedaulatan kita dan hak kita untuk menentukan nasib sendiri,” tutur Tanieris Dieguez, wakil kepala misi republik itu di Washington.
Sebelumnya, The New York Times melaporkan pemerintahan Trump menyerukan agar Republica de Cuba memecat Presiden Diaz-Canel.
Pemerintahan Trump menilai Diaz-Canel resisten terhadap perubahan.
Perekonomian negara pulau terbesar ke-16 di dunia itu kini kian genting, diperparah dengan pemadaman listrik total sejak awal pekan ini.
Negara yang namanya berarti ‘tempat yang sentral’ itu, juga kehilangan Venezuela sebagai sekutu regional utama dan pemasok minyaknya, usai operasi militer AS yang menggulingkan pemimpin sosialis Nicolas Maduro.
Negara Sangat Lemah
Senin (16/3/2026) lalu, Trump bersumpah menaklukkan Kuba, ketika negara itu terperosok ke dalam kegelapan akibat pemadaman listrik total, karena embargo minyak yang diberlakukan Washington.
Setelah hampir tujuh dekade menentang ASt, otoritas komunis Havana berada di bawah tekanan besar dari pemerintahan Trump yang bertekad membuat sejarah.
“Anda tahu, sepanjang hidup saya, saya selalu mendengar tentang Amerika Serikat dan Kuba.”
“Kapan Amerika Serikat akan melakukannya?”
“Saya yakin saya akan ..mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba.”
“Apakah saya akan membebaskannya, mengambilnya — saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya.”
“Anda ingin tahu yang sebenarnya. Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini,” celoteh Trump, dikutip dari AFP.
Itu adalah salah satu ancaman paling eksplisit yang dikeluarkan Trump terhadap negara di kepulauan Karibia tersebut.
AFP mewartakan saat ini negara yang pernah dipimpin Fidel Castro tersebut kembali menghadapi pemadaman listrik besar-besaran.
Pemadaman listrik secara nasional itu disampaikan Union Nacional Electrica de Cuba (UNE) dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan pekerjaan telah dimulai untuk memulihkan aliran listrik.
Sistem pembangkit listrik di negara itu yang sudah tua berada dalam kondisi buruk.
Pemadaman listrik harian hingga 20 jam menjadi hal biasa di beberapa bagian pulau, yang kekurangan bahan bakar yang dibutuhkan untuk menghasilkan listrik.
BACA JUGA: Donald Trump Bilang Operasi Militer Terhadap Kuba Tak Diperlukan
Sejak AS menggulingkan sekutu utama Kuba, Maduro dari Venezuela pada awal Januari lalu, perekonomian Kuba semakin terpukul karena Trump mempertahankan blokade minyak de facto.
Tidak ada minyak yang diimpor ke Kuba sejak 9 Januari, yang berdampak pada sektor energi sekaligus memaksa maskapai penerbangan mengurangi penerbangan ke pulau itu. Hal itu menjadi sebuah pukulan bagi sektor pariwisata yang sangat penting.
Dalam upaya mengurangi tekanan ekonomi dan memenuhi tuntutan AS, seorang pejabat ekonomi senior di Kuba mengumumkan para eksil sekarang dapat berinvestasi dan memiliki bisnis di tanah air mereka itu.
“Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lancar dengan perusahaan-perusahaan AS, dan juga dengan warga Kuba yang tinggal di Amerika Serikat dan keturunan mereka,” ungkap Oscar Perez-Oliva, Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Wakil Perdana Menteri Kuba, kepada NBC News.
Pemadaman listrik, serta kekurangan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya yang terjadi secara berkala, memicu frustrasi warga Kuba.
Akhir pekan lalu, kantor Partai Komunis Kuba jadi sasaran demonstran yang berunjuk rasa sambil memukul panci dan wajan di malam hari, sambil meneriakkan Libertad alias kebebasan.
Di X, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengakui ketidakpuasan yang dirasakan rakyat karena pemadaman listrik yang berkepanjangan, namun dia mendesak rakyatnya tenang dan tak melakukan kekerasan apa pun.
“Yang tidak akan pernah dapat dipahami, dibenarkan, atau diakui adalah kekerasan,” cetusnya.
Pemerintah Kuba telah membatasi penjualan bensin dan beberapa layanan rumah sakit karena kekurangan bahan bakar.
Diaz-Canel mengakui, pekan lalu pemerintahnya telah mengadakan pembicaraan dengan AS.
Trump menuduh blokade bahan bakar tersebut sebagai respons terhadap ancaman luar biasa yang ditimbulkan Kuba terhadap AS.
Trump mengatakan pada Hari Minggu, Kuba ingin membuat kesepakatan yang bisa segera terwujud, setelah pemerintahannya menyelesaikan perang melawan Iran.
“Saya pikir kita akan segera membuat kesepakatan atau melakukan apa pun yang harus kita lakukan,” kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One. (*)