Le Cordon Bleu, Sekolah Masak Paling Bergengsi di Dunia

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Nama Le Cordon Bleu sudah lama dikenal sebagai sekolah masak paling bergengsi di dunia. Berdiri di Paris lebih dari satu abad lalu, lembaga ini menjadi simbol keunggulan kuliner Prancis dan tempat lahirnya para chef ternama dunia. Bukan hanya sekadar sekolah, Le Cordon Bleu merupakan institusi yang memadukan tradisi, teknik, dan seni memasak tingkat tinggi.

Berikut lima fakta menarik tentang Le Cordon Bleu yang menjelaskan mengapa sekolah ini begitu dihormati di dunia gastronomi modern.

BACA JUGA : Militer Myanmar Klaim Hancurkan Hampir 150 Bangunan Penipuan Daring

1. Berdiri Sejak 1895 dan Didirikan oleh Seorang Jurnalis

Le Cordon Bleu pertama kali berdiri pada tahun 1895, didirikan oleh Marthe Distel, seorang jurnalis kuliner wanita yang visioner. Awalnya, Distel hanya ingin membuat klub memasak dan majalah resep untuk para pembaca setianya. Namun karena minat masyarakat Paris terhadap seni kuliner meningkat pesat, ia mengubah ide itu menjadi sekolah memasak profesional.

Nama “Le Cordon Bleu” diambil dari istilah Prancis yang berarti “pita biru”, simbol penghargaan tertinggi untuk para juru masak kerajaan pada masa itu. Seiring waktu, istilah tersebut menjadi identik dengan kualitas dan dedikasi di bidang gastronomi.

Kini, lebih dari satu abad kemudian, Le Cordon Bleu telah berkembang menjadi jaringan global dengan lebih dari 35 kampus di 20 negara, termasuk di London, Tokyo, Sydney, Seoul, dan Bangkok. Meski tersebar di berbagai benua, seluruh cabangnya tetap mempertahankan standar pengajaran khas Prancis yang ketat dan elegan.

2. Pusat Pembelajaran Teknik Masak Klasik Prancis

Le Cordon Bleu dikenal karena fokusnya pada teknik kuliner klasik Prancis, yang menjadi dasar bagi hampir semua masakan modern. Para siswa tidak hanya belajar resep, tetapi juga filosofi di balik setiap hidangan.

Proses pembelajaran dimulai dengan penguasaan teknik dasar seperti membuat sauce béchamel, soufflé, hingga coq au vin. Setiap langkah harus dilakukan dengan presisi tinggi, mulai dari cara memotong bawang, mengatur suhu oven, hingga menata sajian di piring.

Sistem pengajaran dilakukan dengan metode “demonstrasi dan praktik langsung”. Para chef profesional memperagakan langkah-langkah pembuatan masakan, kemudian siswa menirukannya di dapur latihan. Dengan pendekatan ini, murid tidak hanya menghafal resep, tetapi memahami logika di balik tekniknya.

3. Melahirkan Ribuan Chef dan Tokoh Kuliner Dunia

Selama lebih dari seratus tahun, Le Cordon Bleu telah melahirkan ribuan alumni yang kini mewarnai dunia kuliner global. Salah satu lulusan paling terkenal adalah Julia Child, yang memperkenalkan masakan Prancis kepada publik Amerika lewat acara TV legendaris The French Chef.

Selain Julia, ada juga Mary Berry, juri acara The Great British Bake Off, serta Yuki Morishita, pastry chef asal Jepang yang meraih penghargaan dunia. Dari Asia Tenggara, sejumlah chef Indonesia seperti Petty Elliott dan William Gozali juga diketahui pernah menimba ilmu di kampus Le Cordon Bleu Bangkok dan Sydney, sebelum menjadi ikon kuliner di tanah air.

Fakta menarik lainnya, banyak alumni Le Cordon Bleu yang kemudian mendirikan restoran berbintang Michelin atau menjadi konsultan kuliner di hotel-hotel internasional. Jaringan alumni yang kuat menjadi salah satu nilai tambah utama sekolah ini.

4. Biaya Fantastis, Tapi Seimbang dengan Reputasi

Belajar di Le Cordon Bleu bukan perkara murah. Untuk mengikuti program lengkap seperti Grand Diplôme—yang mencakup kursus masakan dan pastry—biayanya bisa mencapai puluhan ribu dolar AS atau setara ratusan juta rupiah.

Namun biaya tersebut sepadan dengan kualitas pengajaran dan peluang karier yang ditawarkan. Setiap siswa mendapatkan pelatihan langsung dari chef berpengalaman yang pernah bekerja di restoran ternama di Paris, London, dan New York. Selain itu, kampus juga menyediakan fasilitas dapur profesional yang sama dengan standar restoran berbintang lima.

Bagi sebagian besar lulusannya, sertifikat sekolah masak ini bukan sekadar ijazah, tetapi tiket emas menuju karier kuliner internasional. Banyak hotel dan restoran besar di dunia yang secara khusus mencari kandidat lulusan dari sekolah ini karena reputasinya yang tinggi.

5. Perpaduan Tradisi, Inovasi, dan Keberlanjutan

Salah satu alasan mengapa Sekolah masak ini tetap relevan hingga kini adalah kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan zaman. Meski terkenal dengan ajaran klasik, sekolah ini juga membuka ruang bagi inovasi modern.

Program-program baru seperti Plant-Based Cuisine (masakan berbasis tanaman), Sustainable Gastronomy (gastronomi berkelanjutan), dan Food Business Management kini menjadi bagian dari kurikulumnya. Hal ini mencerminkan kesadaran global terhadap lingkungan dan gaya hidup sehat.

BACA JUGA : Ray Rangkuti: Kalau Soeharto Dianggap Pahlawan, Para Tokoh Reformasi Dianggap Apa?

Sekolah ini juga mengajarkan bahwa seorang chef sejati tidak hanya mahir di dapur, tetapi juga memahami etika pangan dan tanggung jawab sosial. Bagi mereka, memasak bukan hanya soal rasa, melainkan cara menghormati bahan makanan dan budaya yang melingkupinya.

Hingga kini, Le Cordon Bleu masih dianggap sebagai “Harvard-nya dunia kuliner”. Sekolah ini menjadi tolok ukur tertinggi bagi pendidikan gastronomi di seluruh dunia, memadukan teknik, disiplin, dan seni yang tak lekang oleh waktu. Bagi para calon chef, belajar di Le Cordon Bleu bukan hanya soal mengejar karier, tapi juga menyelami filosofi bahwa memasak adalah bahasa universal untuk mencintai kehidupan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like