NarayaPost – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menanggapi anggapan publik terkait dugaan gratifikasi atas kehadirannya dalam peresmian Gedung Balai Sarkiah di Takalar, Sulawesi Selatan, Minggu (15/2). Isu tersebut mencuat setelah beredar informasi bahwa ia menghadiri acara tersebut dengan menggunakan jet pribadi.
Saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (18/2) sore, Nasaruddin menegaskan bahwa kehadirannya murni karena undangan keluarga. Ia menyatakan tidak melihat adanya persoalan dalam kehadirannya di acara tersebut.
“Saya enggak tahu. Saya diundang untuk meresmikan madrasahnya. Tiba-tiba, masa saya tidak datang,” ujarnya.
BACA JUGA: TPUA Dibekukan Habib Rizieq, Eggi Sudjana Angkat Bicara
Ketika ditanya lebih lanjut apakah fasilitas yang diterimanya dapat dikategorikan sebagai gratifikasi, ia membantah anggapan tersebut. Menurutnya, tidak ada hubungan resmi antara dirinya sebagai pejabat negara dengan pihak yang mengundangnya.
“Enggak tahu. Terserah. Saya diundang meresmikan masa (tidak datang), apanya gratifikasi? Dia enggak ada hubungan resmi dengan kita,” katanya.
Nasaruddin menjelaskan bahwa pihak yang mengundangnya memiliki hubungan kekeluargaan dengannya. Ia menyebut istri dari pihak penyelenggara masih memiliki ikatan keluarga dengannya, sehingga undangan tersebut bersifat personal.
“Istrinya itu kan keluarga. Jadi hubungan saya kekeluargaan. Jadi keluarga yang mengundang saya untuk meresmikan pondoknya, ya masa saya enggak datang,” ucapnya.
Ia juga menyinggung asal-usul keluarganya yang memang berasal dari Takalar, Sulawesi Selatan. Menurutnya, wilayah tersebut memiliki kedekatan emosional dan genealogis dengan dirinya.
“Dia itu orang Takalar. Paman saya juga di sana, di Takalar itu. Jadi keluarga,” tambahnya.
Ketika kembali ditanya mengenai respons publik yang menilai fasilitas jet pribadi berpotensi sebagai bentuk gratifikasi, Nasaruddin menilai anggapan tersebut tidak tepat. Ia berpendapat bahwa dalam konteks hubungan keluarga, tidak ada unsur yang dapat dikategorikan sebagai gratifikasi.
“Iya kalau keluarga sih enggak ada lah,” lanjutnya.
Sebelumnya, Kementerian Agama melalui biro humas telah memberikan klarifikasi terkait kabar penggunaan jet pribadi tersebut. Dalam keterangan resminya, disebutkan bahwa kehadiran Nasaruddin Umar merupakan undangan dari Oesman Sapta Odang atau OSO.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, menjelaskan bahwa inisiatif penyediaan jet pribadi datang dari pihak penyelenggara. Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar Menteri Agama tetap dapat menghadiri acara di tengah agenda kedinasan yang padat.
“Pak OSO secara khusus mengundang dan berharap Balai Sarkiah diresmikan Menag. Pak OSO yang berinisiatif siapkan jet pribadi untuk Menag agar bisa hadir di tengah agenda Menag yang padat,” jelas Thobib dalam keterangan di Jakarta, Selasa (17/2).
BACA JUGA: Pemerintah Tak Berniat Revisi UU KPK
Ia menambahkan bahwa seluruh moda transportasi dalam perjalanan tersebut disiapkan oleh pihak penyelenggara acara, bukan oleh Kementerian Agama.
Gedung Balai Sarkiah sendiri berlokasi di Kelurahan Sabintang, Takalar, dan diproyeksikan menjadi episentrum baru bagi kegiatan keagamaan dan sosial di Sulawesi Selatan. Fasilitas tersebut dirancang sebagai pusat pemberdayaan umat, sekaligus ruang aktivitas pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Penjelasan dari Menteri Agama dan Kementerian Agama ini diharapkan dapat meluruskan polemik yang berkembang di ruang publik. Pemerintah menegaskan bahwa kehadiran Nasaruddin Umar dalam acara tersebut dilandasi undangan kekeluargaan serta tidak memiliki kaitan administratif atau kepentingan resmi yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.