Menjelang Hari Sumpah Pemuda: Menyelami Jejak, Tokoh, dan Maknanya Bagi Indonesia

750 x 100 AD PLACEMENT

Awal Kesadaran Nasional

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebuah tonggak yang menandai kelahiran kesadaran nasional modern. Namun, jauh sebelum Kongres Pemuda II 1928 melahirkan ikrar legendaris itu, bara kesadaran kebangsaan telah menyala perlahan di kalangan muda terpelajar Hindia Belanda.

Awal abad ke-20 menjadi fase penting. Tahun 1908, berdirilah Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang didirikan oleh dr. Soetomo dan para mahasiswa School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Gerakan ini menumbuhkan semangat baru: bahwa kemajuan bangsa hanya bisa dicapai lewat pendidikan dan persatuan.

Semangat ini menjalar ke berbagai daerah. Lahir Sarekat Islam (1912), Indische Partij (1912), dan berbagai kelompok pelajar di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta. Para pemuda terdidik mulai berpikir bahwa mereka bukan lagi “orang Jawa”, “orang Minang”, atau “orang Bugis”, tetapi satu bangsa yang kelak bernama Indonesia.

Lahirnya Organisasi Pemuda

Dekade 1910–1920-an menjadi masa subur bagi organisasi pemuda.
Beberapa di antaranya antara lain:

  • Jong Java (1915), organisasi pemuda pelajar asal Jawa.

  • Jong Sumatra Bond (1917), wadah bagi pelajar dari Sumatera.

  • Jong Ambon, Jong Celebes, dan Jong Minahasa, yang mewakili berbagai daerah di Indonesia Timur.

  • Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, yang banyak diisi mahasiswa seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, dan Achmad Subardjo tokoh yang kelak menjadi arsitek kemerdekaan.

Meskipun masih bercorak kedaerahan, organisasi-organisasi itu memiliki satu kesamaan: keinginan untuk bangkit dari ketertinggalan kolonial. Di sinilah benih persatuan mulai tumbuh.

Pemuda-pemuda ini mulai menyadari bahwa bangsa yang terpecah tidak akan pernah merdeka. Mereka pun bertekad menyatukan semangat perjuangan dalam satu wadah nasional.

Kongres Pemuda I: Langkah Pertama Persatuan

Tanggal 30 April – 2 Mei 1926, Kongres Pemuda I digelar di Batavia.
Kongres ini diprakarsai oleh tokoh muda PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) seperti Sugondo Djojopoespito, Muhammad Yamin, Amir Sjarifuddin, dan Djoko Marsaid.

Kongres ini dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda: Jong Java, Jong Sumatra, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, dan organisasi kepanduan.

Tujuan kongres adalah mempererat hubungan antarorganisasi pemuda dan menanamkan semangat kebangsaan. Walau belum melahirkan sumpah kebangsaan, kongres ini berhasil menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa masa depan bangsa tidak bisa dibangun di atas identitas kedaerahan.

Menurut catatan Muhammad Yamin, Kongres Pemuda I menjadi “fondasi kesadaran nasional”, tempat di mana gagasan tentang persatuan Indonesia pertama kali mendapat bentuk yang nyata.

Kongres Pemuda II: Momentum Sejarah

Dua tahun kemudian, semangat itu semakin matang.
Pada 27–28 Oktober 1928, digelar Kongres Pemuda II di Batavia, bertempat di tiga lokasi berbeda: Gedung Katholieke Jongelingen Bond di Lapangan Banteng, Gedung Oost-Java Bioscoop di Koningsplein, dan Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106 (yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda).

Ketua panitia kongres adalah Sugondo Djojopoespito, sedangkan sekretarisnya Djoko Marsaid. Tokoh-tokoh penting lain hadir, di antaranya Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, J. Leimena, Sarmidi Mangunsarkoro, dan W.R. Supratman.

Kongres ini bertujuan memperkuat tekad persatuan bangsa dan menetapkan cita-cita bersama di antara organisasi pemuda.

Suasana Kongres dan Isi Sumpah Pemuda

Kongres berlangsung dengan semangat luar biasa. Pada hari kedua, 28 Oktober 1928, di hadapan ratusan pemuda dari berbagai daerah, dibacakan naskah bersejarah yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda:

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Naskah itu dibacakan oleh Sugondo Djojopoespito dan disetujui secara aklamasi oleh seluruh peserta.
Muhammad Yamin disebut sebagai perancang utama redaksinya, dengan pengaruh kuat dari gagasan kebangsaan Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Di akhir kongres, W.R. Supratman memperdengarkan lagu ciptaannya Indonesia Raya untuk pertama kalinya menggunakan biola. Lagu itu langsung menggetarkan semangat para pemuda dan kelak diakui sebagai lagu kebangsaan Indonesia.

Untuk pertama kalinya pula, bendera Merah Putih dikibarkan secara terbuka di forum nasional pemuda sebuah tindakan yang sangat berani pada masa kolonial.

Tokoh-Tokoh Kunci Sumpah Pemuda

  1. Sugondo Djojopoespito Ketua Panitia Kongres Pemuda II, organisator ulung yang menyatukan berbagai kelompok pemuda.

  2. Muhammad Yamin Perancang naskah Sumpah Pemuda, penyair dan pejuang gagasan “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa”.

  3. W.R. Supratman Pencipta lagu Indonesia Raya, simbol musikal dari semangat persatuan.

  4. Amir Sjarifuddin Harahap Tokoh pemuda Kristen progresif yang kelak menjadi Perdana Menteri RI.

  5. Djoko Marsaid Sekretaris Kongres yang mengatur seluruh jalannya sidang.

  6. J. Leimena Tokoh pemuda dari Jong Ambon yang menegaskan pentingnya peran pemuda dari Indonesia Timur dalam persatuan nasional.

  7. Sarmidi Mangunsarkoro Menekankan pentingnya pendidikan nasional yang berbasis kebudayaan Indonesia.

  8. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) Meski tidak hadir langsung, gagasannya tentang “pendidikan kebangsaan” sangat memengaruhi arah kongres.

Dampak Langsung: Lahirnya Kesadaran Nasional

Sumpah Pemuda menjadi puncak dari kebangkitan kesadaran nasional.
Ia menandai lahirnya identitas baru yang melampaui sekat etnis dan kedaerahan.

Pertama, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa persatuan.
Padahal, pada masa itu bahasa Melayu belum menjadi bahasa resmi. Keputusan ini terbukti visioner karena kini bahasa Indonesia menjadi jembatan komunikasi nasional bagi lebih dari 700 suku bangsa.

Kedua, semangat Sumpah Pemuda mendorong lahirnya organisasi-organisasi nasional baru seperti Indonesia Muda, Partindo, Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Ketiga, semangat itu menular ke ranah politik. Para tokoh pemuda Sumpah Pemuda kelak menjadi tokoh penting dalam perjuangan kemerdekaan.

  • Mohammad Yamin menjadi anggota BPUPKI dan pengusul konsep dasar negara.

  • Amir Sjarifuddin menjadi Perdana Menteri.

  • Sarmidi Mangunsarkoro menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

  • J. Leimena menjadi Wakil Perdana Menteri dan tokoh Kristen nasionalis.

Mereka membuktikan bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya slogan, tetapi komitmen nyata dalam membangun bangsa.

Pengaruh terhadap Proklamasi Kemerdekaan

Sumpah Pemuda 1928 memberi landasan ideologis bagi Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Tujuh belas tahun setelah kongres itu, para pemuda yang dahulu bersumpah akhirnya menyaksikan impian mereka terwujud.

Salah satu peserta Kongres Pemuda II, Achmad Subardjo, menjadi tokoh penting dalam peristiwa Rengasdengklok dan penyiapan naskah proklamasi.
Sementara itu, semangat bahasa Indonesia sebagai bahasa perjuangan mempersatukan rakyat di bawah satu bendera: Merah Putih.

Tanpa Sumpah Pemuda, bangsa Indonesia mungkin tidak memiliki “konsep kebangsaan” yang kuat untuk melawan kolonialisme. Ikrar itu menjadi semacam “pra-proklamasi” yang menyiapkan kesadaran kolektif menuju kemerdekaan.

Makna dan Pelajaran untuk Generasi Sekarang

Sembilan puluh tujuh tahun setelah ikrar itu dikumandangkan, Sumpah Pemuda masih tetap relevan.
Kini tantangan bangsa bukan lagi kolonialisme, tetapi fragmentasi sosial, polarisasi politik, dan hilangnya solidaritas kebangsaan.

Generasi muda perlu meneladani semangat para pemuda 1928 yang berani keluar dari ego sektoral. Mereka tidak memandang perbedaan agama, suku, atau bahasa sebagai penghalang, melainkan kekayaan yang menyatukan.

Dalam konteks modern, semangat Sumpah Pemuda bisa diterjemahkan sebagai:

  • Keberanian menolak disinformasi dan ujaran kebencian yang memecah belah.

  • Semangat kolaborasi lintas generasi dan daerah untuk membangun bangsa berbasis ilmu dan karakter.

  • Cinta terhadap bahasa Indonesia sebagai simbol persatuan di tengah era digital yang sarat pengaruh asing.

Sumpah Pemuda juga mengingatkan bahwa kekuatan bangsa terletak pada moral dan pendidikan. Ki Hajar Dewantara pernah menulis, “Pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat anak agar mereka menjadi manusia merdeka dan bertanggung jawab terhadap masyarakat.”
Semangat inilah yang harus dihidupkan kembali di sekolah, kampus, dan ruang publik.

Sumpah Pemuda dalam Perspektif Sejarah Dunia

Peristiwa Sumpah Pemuda 1928 tergolong unik di Asia.
Pada masa yang sama, banyak bangsa Asia masih berjuang di bawah kekuasaan kolonial. Di India, Kongres Nasional India baru memperjuangkan Home Rule; di Filipina, gerakan Katipunan baru saja direpresi; di Vietnam, Ho Chi Minh baru mendirikan Partai Komunis Indo-Cina.

Namun di Hindia Belanda, para pemuda sudah berani mengikrarkan identitas nasional sebelum negara berdiri.
Sejarawan Benedict Anderson menyebutnya sebagai “imajinasi politik luar biasa” karena bangsa Indonesia “dibayangkan” lebih dulu lewat semangat dan bahasa, bukan lewat wilayah politik.

Hal ini menjadikan Sumpah Pemuda sebagai peristiwa historis yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di Asia Tenggara.

Menatap Masa Depan: Sumpah Pemuda Digital

Di era modern, makna Sumpah Pemuda perlu dimaknai ulang.
Pemuda kini tidak lagi berbaris di kongres atau lapangan, melainkan berjejaring di ruang digital. Tantangan yang dihadapi pun berbeda: misinformasi, radikalisme daring, dan perpecahan sosial di media sosial.

Namun esensinya tetap sama: membangun identitas kebangsaan yang inklusif.
Generasi muda harus mampu menjadikan teknologi sebagai sarana memperkuat persatuan, bukan perpecahan.

Semangat “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa” dapat diterjemahkan dalam konteks kini sebagai “satu visi, satu kolaborasi, satu tujuan”: Indonesia yang maju dan berkeadaban.

Penutup

Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, kita diingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak lahir dari senjata semata, melainkan dari gagasan besar tentang persatuan.
Para pemuda tahun 1928 membuktikan bahwa perubahan lahir dari keberanian untuk bermimpi bersama, melampaui batas daerah, agama, dan bahasa.

Kini, tugas kita adalah melanjutkan warisan itu.
Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sumber energi moral bangsa. Dari Barus sampai Papua, dari kampus hingga ruang digital, semangat yang sama harus terus dijaga:
“Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

BACA JUGA : Ancaman Trump Bila Israel Nekat Caplok Blok Barat!

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like