NarayaPost – Di tengah kecaman dunia atas pembunuhan massal terhadap rakyat Lebanon, Israel tanpa malu-malu mengungkapkan niatnya mendirikan Israel Raya, dengan mencaplok wilayah negara lain.
Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengungkapkan, negaranya bakal mencaplok wilayah Gaza, Lebanon, hingga Suriah.
Negeri Zionis itu juga bakal menghapus Palestina yang kemerdekaannya diakui banyak negara.
Smotrich menyebut negaranya ingin memperluas perbatasan ke Jalur Gaza di Palestina, Lebanon, dan Suriah.
“Kita selalu bicara soal bagian militer dan kemudian bagian politik, dan ada orang-orang yang mengkritik kita, mengatakan hanya ada prestasi militer tanpa komponen politik.”
“Akan ada komponen politik di Gaza untuk memperluas perbatasan kita, komponen lain yang akan meluas ke Lebanon hingga Sungai Litani di perbatasan yang bisa dipertahankan.”
BACA JUGA: Menteri Pertahanan Pakistan Sebut Israel Negara Kanker
“Dan komponen ketiga yang akan meluas ke Suriah, berakhir di puncak Gunung Beit She’an dan setidaknya zona keamanan,” tutur Smotrich saat pidato di acara pembukaan pemukiman baru, Kamis (9/4/2026), dikutip Middle East Monitor.
Kata Smotrich, sederet langkah itulah yang dibutuhkan negaranya untuk memperkuat keamanan negara.
Menteri ekstremis sayap kanan ini turut menyinggung soal Tepi Barat dan kembali menggemakan penghapusan Negara Palestina.
“Kita berada di tahap diplomatik terakhir di Tepi Barat yang akan sepenuhnya menghilangkan gagasan negara Palestina,” kata Smotrich.
Israel, katanya, berdiri karena kekuatan militer dan kemauan politik berdasarkan keyakinan dan kecintaan terhadap tanah air.
Pernyataan Smotrich muncul saat pasukan Zionis terus menggempur secara membabi buta wilayah di Lebanon sejak 2 Maret.
Akibat serangan itu, korban tewas mendekati 2.000 jiwa.
Zionis juga meluncurkan agresi brutal ke Jalur Gaza dari Oktober 2023, dan sejak lama menduduki Tepi Barat.
Di tengah agresi tersebut, Negara Yahudi itu juga beberapa kali meluncurkan serangan ke Suriah dengan dalih membantu komunitas Druze di sana.
Kedua negara ini juga kerap berkonflik soal Dataran Tinggi Golan.
Misi Lintas Generasi
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaku konsep Israel Raya sesuai dengan visinya.
Pernyataan Netanyahu muncul saat wawancara dengan Sharon Gal dari media Israel i24.
Dia memperlihatkan peta dengan gambar yang disebut “Tanah yang Dijanjikan,” lalu menanyakan apakah Netanyahu merasa terhubung dengan visi Israel Raya.
“Saya berada dalam misi lintas generasi.”
“Jadi, jika Anda bertanya apakah saya merasa ini adalah misi bersejarah dan spiritual, jawabannya adalah iya,” kata Netanyahu, beberapa waktu lalu.
Istilah Israel Raya muncul usai Perang Enam Hari pada 1967.
BACA JUGA: Iran Curiga Israel Serang Lebanon Agar Netanyahu Tak Dibui
Saat itu, Israel menduduki Yerusalem Timur, Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Golan, dan Semenanjung Sinai.
Israel Raya secara luas dipahami sebagai visi ekspansionis mencakup wilayah yang jauh lebih luas.
Istilah tersebut digunakan di kalangan ultra-nasionalis untuk mengeklaim sebagian negara-negara Arab itu.
Kelompok ultranasionalis menyebut wilayah-wilayah itu sebagai bagian Negeri Zionis di masa mendatang.
Pada Januari lalu, Kementerian Luar Negeri Israel sempat merilis peta yang diklaim memuat sejarah negeri itu ribuan tahun sebelumnya di platform elektronik.
Peta tersebut sejalan dengan narasi Israel soal “Kerajaan Yahudi” yang mencakup sebagian wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah, dan Mesir.
Pandangan serupa juga disampaikan sederet menteri sayap kanan Netanyahu.
Tahun lalu, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendukung perluasan batas negara hingga ke Damaskus, Suriah.
Smotrich menyebut negerinya akhirnya akan berkembang mencakup seluruh wilayah Palestina serta sebagian wilayah Yordania, Lebanon, Mesir, Suriah, Irak, dan Arab Saudi.
“Telah tertulis masa depan Yerusalem adalah berkembang hingga Damaskus,” ucapnya, merujuk ke ideologi Israel Raya. (*)