NarayaPost – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, pihaknya tidak pernah mempercayai Amerika Serikat (AS) dalam hal apa pun.
“Kami tidak pernah mempercayai Amerika sebagai negosiator yang jujur.”
“Amerika Serikat tidak jujur dalam hal apa pun, dan saya rasa tidak ada yang bisa mempercayai Amerika,” kata Araghchi kepada al-Jazeera, Sabtu (13/12/2025).
Araghchi juga mengaku pihaknya kerap mendengar Israel kemungkinan akan menyerang Iran lagi, setelah perang 12 hari dilancarkan oleh Israel terhadap Iran pada Juni lalu.
“Perang psikologis adalah bagian dari perang yang sebenarnya.”
“Dan tampaknya mereka saat ini sedang berupaya melakukan perang psikologis dan menciptakan rasa takut di negara ini.”
BACA JUGA: Trump: Perang Dunia Bisa Terjadi Jika Main-main Soal Ukraina
“Ini adalah bagian dari perang yang lebih umum.”
“Tentu saja, ini bukan berarti kami mengabaikan kemungkinan perang.”
“Kami sepenuhnya siap.”
“Angkatan Bersenjata dan rakyat kami siap membela negara dalam situasi apa pun.”
“Kami tidak menginginkan perang, tetapi kami ingin menyelesaikan masalah melalui jalur diplomasi,” tutur Araghchi.
Menurutnya, seseorang mungkin bisa menghancurkan bangunan dan peralatan dengan pengeboman, tetapi teknologi tidak akan hancur oleh serangan militer, dan pengetahuan tidak bisa dihapus dari pemikiran melalui pengeboman.
Pada intinya, tegas Araghchi, kemauan suatu negara tidak bisa dihancurkan oleh pengeboman.
Araghchi mengingatkan, sebelum serangan militer, AS memboikot rakyat Iran selama bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian masalah.
Ia menekankan, tidak ada solusi lain selain negosiasi dan jalur diplomatik untuk menyelesaikan masalah yang ada.
Araghchi menegaskan, kondisi dan posisi Iran saat ini sepenuhnya tergantung pada rakyat Iran sendiri.
“Saya menyarankan Amerika Serikat menghormati rakyat Iran dan sistem yang telah dipilih rakyat Iran untuk diri mereka sendiri,” sarannya.
Tinggal Tunggu Waktu
Ketegangan antara Israel dan Iran kembali meningkat seiring peringatan baru dari pejabat militer dan analis internasional, konfrontasi langsung antara kedua negara tinggal menunggu waktu.
Media Israel Maariv melaporkan, dalam sesi tertutup Komite Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, para pejabat senior IDF memaparkan kesiapan negara itu menghadapi babak baru konflik dengan Teheran.
Seorang perwakilan militer menyebut Iran telah secara signifikan meningkatkan produksi rudal balistik dan dapat melancarkan serangan besar-besaran ke wilayah Israel.
“IDF khawatir Iran mampu menembakkan ratusan rudal balistik dalam satu gelombang,” tulis Maariv mengutip sumber militer, seperti dikutip RT, Kamis (11/12/2025).
Ketegangan ini diperparah setelah runtuhnya kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) pada Oktober lalu, yang memicu babak baru sanksi terhadap Iran dan mematikan jalur diplomasi.
The New York Times sebelumnya melaporkan, pejabat AS semakin melihat konfrontasi langsung Israel-Iran sebagai sesuatu yang sulit dihindari, mengingat kedua pihak terus mempercepat pengembangan militer dan memperluas operasi proksi.
BACA JUGA: Trump Klaim Akhiri Perang Pakai Kebijakan Dagang dan Tarif
Menurut laporan tersebut, Israel yakin Teheran menyembunyikan sebagian uranium yang diperkaya tinggi, meski Iran bersikeras telah menghancurkannya.
Negara-negara Teluk disebut semakin memandang serangan Israel sebagai “kapan, bukan jika.”
Dari sisi Iran, kapasitas ofensif juga terus meningkat.
Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, mengatakan produksi rudal Iran kini berlangsung tanpa henti.
“Pabrik rudal beroperasi 24 jam.”
“Jika perang terjadi, mereka menargetkan bisa menembakkan 2.000 rudal sekaligus untuk melumpuhkan pertahanan Israel, bukan 500 seperti Bulan Juni,” ungkap Vaez.
Sementara, situs berita Israel CursorInfo menyebut, Israel mempertimbangkan skenario perubahan rezim di Iran, sebelum masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump berakhir pada Januari 2029.
Citra satelit juga menunjukkan pembangunan fasilitas bawah tanah baru di selatan Natanz, yang disebut Gunung Pickaxe yang belum diawasi IAEA, serta bekas serangan udara AS ke situs terkait Natanz pada Juni 2025.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan, Iran menginginkan dialog, bukan tekanan.
“Kami siap kembali ke pembicaraan, tetapi hanya jika hak Iran untuk mengembangkan teknologi, pertahanan, dan program nuklir dihormati,” ucapnya.
Di sisi lain, Donald Trump mengakui keterlibatan AS dalam serangan Israel terhadap sasaran di Iran, sekaligus menyatakan kesiapan untuk melonggarkan sanksi guna membuka jalur diplomasi baru.
Namun, Trump berulang kali menegaskan AS tidak ingin terseret ke perang besar di Timur Tengah.
“Serangan terbuka akan membawa biaya politik dan ekonomi yang sangat besar bagi AS,” tulis laporan NYT mengutip pejabat administrasi.
Meski demikian, analis mengingatkan jika Israel memutuskan menyerang Iran, AS kemungkinan akan terseret meski Trump berupaya menghindarinya. (*)