NarayaPost – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak mengulangi kesalahan sebelumnya.
“Pesan saya, jangan ulangi kesalahan yang Anda buat pada Juni.”
“Fasilitas bisa dihancurkan, tetapi teknologi tidak bisa dibom.”
“Tekad juga tidak bisa dibom,” kata Araghchi kepada Fox News, Rabu (14/1/2026), merujuk serangan AS ke tiga fasilitas nuklir Iran dalam perang Iran-Israel selama 12 hari.
Araghchi mengatakan, Iran tidak memiliki pengalaman positif dengan AS, namun pihaknya lebih menyukai jalur perundingan.
“Iran telah membuktikan siap bernegosiasi, siap berdiplomasi.”
BACA JUGA: Iran Menunggu Aksi Trump
“Antara perang dan diplomasi, diplomasi lebih baik, meski pengalaman kami dengan AS tidak positif,” imbuhnya, seraya menuding Washington berulang kali meninggalkan diplomasi selama dua dekade terakhir.
Terkait kerusuhan terbaru di Iran, Araghchi mengeklaim pemerintah menerapkan penahanan diri maksimal, namun menegaskan aksi protes itu telah dibajak oleh pelaku kekerasan.
Ditanya soal jumlah pengunjuk rasa yang tewas, ia menyebut pelaku kekerasan bukan demonstran sejati, melainkan sel teror yang didorong oleh rencana Israel.
“Elemen teroris dari luar memasuki protes dan menembaki polisi serta aparat keamanan.”
“Itu persis rencana Israel untuk menyeret Presiden AS ke konflik,” ungkapnya, seraya menyebut terjadi pertempuran selama tiga hari melawan teroris.
Dia pun menuduh peningkatan korban dilakukan dengan membunuh warga sipil dan aparat.
“Kini situasi tenang. Kami sepenuhnya mengendalikan keadaan.”
“Saya bisa sampaikan bahwa selama empat hari terakhir semuanya tenang.”
“Tidak ada demonstrasi, tidak ada kerusuhan,” klaim Araghchi.
Araghchi juga menepis laporan mengenai rencana hukuman gantung terhadap pengunjuk rasa.
“Tidak ada rencana untuk menggantung siapa pun,” imbuhnya.
Tutup Wilayah Udara
Iran menutup sementara wilayah udaranya untuk semua penerbangan, kecuali kedatangan dan keberangkatan sipil internasional yang telah mendapat izin terlebih dahulu.
Pemberitahuan kepada misi penerbangan tersebut menyebutkan wilayah udara Teheran akan tetap ditutup hingga 15 Januari, dengan hanya penerbangan sipil internasional yang dapat beroperasi setelah memperoleh persetujuan dari otoritas penerbangan sipil nasional.
Pembatasan tersebut berlaku bagi penerbangan yang masuk atau keluar dari Iran, sedangkan seluruh lalu lintas udara lainnya dihentikan sementara.
Pemberitahuan itu tak memberikan rincian lebih lanjut mengenai alasan teknis penutupan wilayah udara.
Trump Pantau
Presiden AS Donald Trump pada Rabu mengaku telah diinformasikan, pembunuhan telah berhenti di Iran.
Ia mengaku akan mengamati dan melihat bagaimana prosesnya.
“Kami telah menerima informasi dari sumber-sumber penting di sana, dan mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan dilakukan.”
“Pembunuhan telah berhenti.”
“Eksekusi telah berhenti.”
“Saya berharap hal itu benar,” tutur Trump di Gedung Putih.
Saat ditanya apakah intervensi militer AS terhadap Iran sudah tidak dibahas lagi, Trump mengatakan akan memantau dan melihat proses apa yang sedang berlangsung.
“Namun, kami telah menerima pernyataan sangat baik dari orang-orang yang mengetahui apa yang sedang terjadi,” imbuhnya.
Kelanjutan Perang 12 Hari
Otoritas Iran memandang eskalasi protes di negaranya sebagai kelanjutan dari perang 12 hari dengan Israel.
Iran akan menyelidiki semua kasus provokasi, baik oleh badan internasional maupun domestik.
Pada 12 Januari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, protes pada akhir Desember 2025 awalnya damai, berpusat di pasar dan serikat pekerja, dan otoritas Iran ketika itu telah terlibat dalam dialog dengan para demonstran.
BACA JUGA: Donald Trump Pertimbangkan Serius Berbagai Opsi Serang Iran
Namun, unjuk rasa itu diikuti oleh fase kedua, di mana wajah-wajah baru ikut campur, dan protes mulai meningkat menjadi kekerasan.
Dari tanggal 8 hingga 10 Januari, elemen dan kelompok teroris bersenjata muncul, bertujuan memicu pemberontakan dan pertumpahan darah.
Selama fase ketiga ini, individu bersenjata melepaskan tembakan ke arah petugas polisi dan warga sipil, berusaha memprovokasi adanya intervensi dari Pemerintah AS.
“Iran memandang fase ini sebagai kelanjutan dari ‘Perang 12 Hari.’ Kejahatan ini akan diselidiki oleh otoritas internasional dan domestik,” kata sumber tersebut.
Tahap keempat protes dimulai pada 10 Januari, tetapi sekarang situasinya terkendali, karena “banyak elemen teroris telah ditahan dengan senjata di tangan, dan kesaksian mereka akan segera dipublikasikan,” ungkap sumber diplomatik.
Sumber tersebut juga menuding beberapa peserta kerusuhan menerima 600 dolar AS (sekitar Rp10 juta) karena menyerang kantor polisi, dan 300 dolar AS (sekitar Rp5 juta) karena membakar kendaraan pemerintah. (*)