NarayaPost – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkap penyebab utama di balik maraknya kenaikan harga jual oleh produsen di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung. Menurutnya, lonjakan biaya produksi menjadi faktor dominan yang tidak bisa dihindari oleh pelaku industri, sehingga mendorong mereka melakukan penyesuaian harga demi menjaga kelangsungan usaha.
Agus menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku serta gangguan dalam rantai pasok global menjadi pemicu utama meningkatnya beban produksi. Situasi ini diperparah oleh inflasi harga bahan baku yang dalam dua tahun terakhir mencapai level tertinggi. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan menghadapi tekanan biaya yang signifikan, sehingga langkah menaikkan harga jual menjadi opsi yang dinilai paling rasional untuk menjaga stabilitas operasional.
Dalam konteks global, gangguan rantai pasok masih menjadi persoalan yang belum sepenuhnya pulih sejak pandemi dan konflik geopolitik di berbagai kawasan. Hambatan distribusi, keterbatasan pasokan bahan baku, serta fluktuasi harga energi turut berkontribusi terhadap meningkatnya biaya produksi. Akibatnya, produsen tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga produk agar tetap mampu menutup biaya dan mempertahankan margin usaha.
BACA JUGA: Strategi Kelola Finansial di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Meski menghadapi tekanan tersebut, Menperin Agus menilai sektor manufaktur Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Hal ini tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 yang berada di angka 50,1. Angka tersebut menandakan bahwa sektor manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi, meskipun tipis.
Ia mengaku sempat terkejut sekaligus bersyukur melihat capaian tersebut, mengingat tekanan global yang dihadapi saat ini cukup berat. Dalam perbandingan regional, Indonesia masih mampu berada di kelompok negara dengan PMI ekspansif di kawasan ASEAN. Thailand mencatatkan PMI sebesar 54,1, diikuti Malaysia 50,7, Myanmar 51,5, dan Filipina 51,3.
Menurut Agus, tidak semua negara mampu mempertahankan kinerja manufaktur di zona ekspansi secara konsisten. Banyak negara justru mengalami perlambatan akibat tekanan biaya dan gangguan rantai pasok yang berkepanjangan. Oleh karena itu, posisi Indonesia yang masih bertahan di atas ambang batas ekspansi menjadi indikator positif bagi ketahanan sektor industri nasional.
Ia menegaskan bahwa tekanan global saat ini bersifat merata dan dirasakan hampir oleh seluruh negara. Baik negara maju maupun berkembang menghadapi tantangan serupa, terutama dari sisi kenaikan biaya produksi dan ketidakpastian pasokan bahan baku. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk tetap bertahan di zona ekspansi menjadi pencapaian yang patut diapresiasi.
BACA JUGA: Santunan Ahli Waris Anggota UNIFIL Gugur, PBB Kasih Rp1,2 M
“Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi. Rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur tanah air,” ujar Agus dalam keterangan resminya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa ketahanan sektor manufaktur ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah yang mendukung iklim industri, termasuk upaya menjaga stabilitas pasokan bahan baku dan memperkuat rantai pasok domestik. Selain itu, diversifikasi sumber bahan baku serta peningkatan efisiensi produksi juga menjadi strategi penting yang dilakukan pelaku industri untuk menghadapi tekanan global.
Dengan kondisi yang ada, Agus berharap sektor manufaktur Indonesia dapat terus mempertahankan momentum pertumbuhan, meskipun tantangan global masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang belum pasti. Ia juga mengingatkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci utama untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan sektor manufaktur ke depan.