Nasaruddin Umar: Pesantren Pusat Pembentukan Moral, Karakter, dan Kemanusiaan

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak Umat Kristiani memaknai Natal tahun ini sebagai panggilan untuk kembali merawat keluarga, tempat pertama di mana kasih, iman, dan harapan dilahirkan. Foto: kemenag.go.id
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, pesantren sudah berabad-abad menjadi bagian penting dari sejarah dan peradaban Bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, ia meminta semua pihak menjaga muruah pondok pesantren dan menghindari narasi yang bersifat stigma.

Nasaruddin menegaskan, pesantren adalah benteng moral bangsa yang telah melahirkan generasi ulama, pemimpin, dan tokoh nasional.

Ia pun mengajak semua masyarakat memahami pesantren secara utuh dan kultural.

“Saya merasa sangat kaget dan prihatin dengan pemberitaan yang menempatkan pesantren secara negatif.”

“Sekian ratus tahun pondok pesantren berkiprah mendidik manusia Indonesia agar menjadi masyarakat yang beradab, hingga mengkristal dalam nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.”

BACA JUGA: PWNU DKI & Alumni Pesantren Geruduk Trans7 Atas Program ‘Xpose Uncensored’

“Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi pusat pembentukan moral, karakter, dan kemanusiaan.”

“Mari bersama menjaga muruahnya,” tutur Nasaruddin di Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Pernyataan Nasaruddin tersebut merupakan respons atas tayangan program ‘Expose Uncensored’ di Trans7 yang ditayangkan pada Senin (13/10/2025) lalu, yang dinilai melecehkan tradisi kesantunan pesantren dan merendahkan penghormatan santri kepada kiai.

Gelombang protes datang dari masyarakat dan komunitas pesantren, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo, yang mendesak pihak stasiun televisi menarik tayangan, menyampaikan permintaan maaf terbuka, serta melakukan klarifikasi langsung kepada para pengasuh pesantren.

Pihak Trans Media telah meminta maaf secara terbuka kepada publik dan kepada para Kiai Pesantren Lirboyo.

Tradisi memaafkan, kata Nasaruddin, sangat kuat dalam budaya pesantren.

Ia yakin para kiai dan santri juga akan memaafkan.

“Ya, saya kira itu yang sangat penting buat kita.”

“Mudah-mudahan ini pembelajaran buat kita semuanya,” harapnya.

Pondok pesantren, lanjut Nasaruddin, bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan keadaban sosial.

“Kalau mata hati kita melihat, apa yang terjadi di pondok pesantren sekarang ini justru hal yang berkebalikan dari citra negatif.”

“Ada peningkatan yang sangat tajam, orang memasukkan anaknya ke pondok pesantren.”

BACA JUGA: Prabowo Subianto: Puluhan Tahun Saya Bela Palestina

“Tradisi pesantren mengajarkan kesantunan murid kepada kiai.”

“Dari situ lahir budaya hormat anak kepada orang tua, yang kemudian berimbas pada rakyat yang berbakti kepada pemimpinnya,” bebernya.

Keseimbangan antara rakyat yang santun dan pemimpin yang berwibawa, kata Nasaruddin, merupakan cerminan nilai-nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren.

“Di mana ada rakyat yang santun, di sana biasanya ada pemimpin yang berwibawa.”

“Dan di mana ada pemimpin yang berwibawa, di sana ada rakyat yang santun.”

“Suasana kebatinan seperti inilah yang dibentuk oleh pondok pesantren,” tuturnya.

PBNU Protes

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf protes keras terhadap tayangan program Expose Uncensored di Trans7 yang ditayangkan pada Senin (13/10/2025).

Menurutnya, tayangan tersebut tidak hanya melanggar prinsip jurnalisme, tetapi juga melecehkan pesantren dan tokoh-tokohnya.

“Tayangan Trans 7 itu isinya secara terang-terangan melecehkan bahkan menghina pesantren, menghina tokoh-tokoh pesantren, yang juga tokoh yang dimuliakan oleh Nahdlatul Ulama, sangat dimuliakan oleh Nahdlatul Ulama.”

“Menghina hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai mulia yang dipegang teguh oleh dunia pesantren,” ujarnya, Selasa (14/10/2025).

Gus Yahya menyebut konten tayangan tersebut membangkitkan amarah kalangan pesantren dan warga NU.

Sebagai langkah awal, PBNU menuntut pihak Trans7 dan induk perusahaannya, Trans Corporation, mengambil langkah nyata dan bertanggung jawab atas kerusakan sosial yang ditimbulkan akibat tayangan tersebut.

PBNU juga menginstruksikan kepada lembaga hukumnya untuk menempuh jalur hukum.

Ia memastikan langkah-langkah konkret akan diambil agar kasus ini diselesaikan dengan baik dan sesuai koridor hukum. 

KPI Jatuhkan Sanksi

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjatuhkan sanksi penghentian sementara terhadap program Xpose Uncensored yang ditayangkan Trans7.

KPI menilai program Xpose Uncensored Trans7 mencederai fungsi penyiaran yang seharusnya menjadi sarana memperkuat integrasi nasional.

KPI meminta Trans7 melakukan evaluasi dan koreksi menyeluruh terhadap tayangan yang menampilkan kehidupan pesantren, termasuk kelompok atau komunitas lainnya.

Program Xpose Uncensored dinilai melanggar Pasal 6 Peraturan Perilaku Penyiaran (P3) KPI Tahun 2012 serta Pasal 6 ayat (1) dan (2), Pasal 16 ayat (1) dan ayat (2) huruf (a) Standar Program Siaran (SPS) KPI Tahun 2012.

Dalam ketentuan P3, lembaga penyiaran wajib menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antar-golongan, termasuk keberagaman budaya, usia, gender, serta kehidupan sosial ekonomi.

Pada ketentuan SPS disebutkan, program siaran dilarang melecehkan, menghina, atau merendahkan lembaga pendidikan.

Pasal 16 ayat (2) huruf (a) menegaskan, penggambaran lembaga pendidikan harus mengikuti ketentuan yang tidak memperolok pendidik atau pengajar.

“Tayangan Xpose Uncensored dinilai mendistorsi kehidupan pesantren, santri, dan para kiai pimpinan pondok pesantren,” kata Ketua KPI Pusat Ubaidillah, Selasa (14/10/2025).

KPI kemudian memanggil pihak Trans7 untuk memberikan klarifikasi. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like