Menteri Perang AS: Bunuh Orang Jahat Butuh Uang

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Perang Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth meminta tambahan anggaran US$200 miliar atau sekitar Rp3.300 triliun, untuk melanjutkan perang melawan Iran yang sudah berlangsung tiga pekan.

Hegseth beralasan konflik dengan Iran butuh biaya, terutama demi memusnahkan ‘orang jahat.’

“Mengenai angka US$200 miliar, saya kira angka itu bisa berubah.”

“Tentu saja butuh uang untuk membunuh orang jahat,” kata Hegseth, Kamis (19/3/2026), dikutip Al Jazeera, saat ditanya mengenai laporan Pentagon mengajukan tambahan anggaran kepada Gedung Putih untuk perang melawan Iran.

Nominal yang diajukan ini sangat tinggi dan di luar anggaran ekstra yang sudah diterima Pentagon tahun lalu, dari rancangan undang-undang pemotongan pajak Presiden AS Donald Trump.

Hingga kini, Kongres belum mengesahkan perang tersebut dan ada riak kekhawatiran di antara anggota mengenai peningkatan cakupan dan strategi operasi militer itu.

“Kami akan kembali ke Kongres dan orang-orang kami di sana, untuk memastikan kami didanai dengan benar,” imbuh Hegseth.

Kongres didominasi oleh Partai Republik Trump.

Meski begitu, banyak anggota parlemen konservatif yang lebih mendukung kebijakan fiskal ketat, salah satunya tak ingin anggaran dikeluarkan untuk operasi militer.

Keinginan ini serupa dengan sikap Partai Demokrat yang lebih mengutamakan dana untuk layanan kesehatan dan pendidikan.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengisyaratkan siap mendukung proposal penambahan anggaran Pentagon.

Kendati demikian, belum jelas apakah Gedung Putih sudah menyampaikan proposal tersebut kepada Kongres.

BACA JUGA: Ali Larijani Tewas, Iran Bersumpah Membalas Keras

“Saya mendukung apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa rakyat Amerika tetap aman,” ucap Johnson.

Pengajuan anggaran itu perlu disetujui oleh Kongres AS, namun tak diketahui apakah pengeluaran raksasa itu akan mendapat dukungan politik di tengah utang AS yang telah tembus rekor US$39 triliun.

Permintaan pendanaan baru oleh Pentagon ini pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post.

Terpisah, Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintah butuh uang tersebut juga untuk alasan selain Iran.

“Ini adalah dunia yang sangat bergejolak,” cetus Trump.

Menurutnya, pengeluaran darurat itu akan menjadi “harga yang sangat kecil untuk dibayar,” demi memastikan militer AS tetap dalam kondisi prima.

Anggota DPR Betty McCollum dari Demokrat yang mengawasi anggaran pertahanan di parlemen mengatakan, Trump telah membawa AS ke dalam perang tanpa konsultasi dengan Kongres.

“Ini tidak akan menjadi persetujuan otomatis untuk Presiden Amerika Serikat,” ujar McCollum.

Dia mengatakan, Kongres saat ini juga masih menunggu penjelasan dari pemerintah soal alokasi dana tambahan sebesar US$150 miliar, yang diberikan kepada Pentagon lewat RUU pemotongan pajak dan pengeluaran Trump.

“Saya tidak memberikan cek kosong kepada Departemen Pertahanan,” imbuh McCollum.

Sebelumnya, Hegseth mengatakan tujuan AS dalam perang melawan Iran tidak berubah, sejak dimulai pada 28 Februari.

Dia mengeklaim AS telah menyerang 7.000 target di dalam Iran, dan menghantam lebih dari 40 kapal penyebar ranjau Iran.

“Tujuan kami, yang diberikan langsung dari presiden kami yang mengutamakan Amerika, tetap sama seperti pada hari pertama,” ucap Hegseth.

Pemerintahan Trump juga disebut sedang mempertimbangkan pengerahan ribuan pasukan militer AS tambahan, untuk memperkuat operasinya di Timur Tengah.

Iran Tembak Jet Tempur AS

Satu jet tempur F-35 milik AS rusak, usai diduga ditembak Iran.

Jet tersebut langsung melakukan pendaratan darurat di salah satu pangkalan udara AS di Timur Tengah.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Kapten Tim Hawkins mengatakan, jet siluman generasi kelima itu

sedang menjalankan misi tempur di atas Iran ketika mendadak harus mendarat darurat.

Hawkins tak merinci penyebab F-35 mendarat.

Ia hanya mengatakan sedang menyelidiki insiden terkait dan memastikan awak pesawat selamat.

BACA JUGA: Israel Lanjutkan Perang Lawan Iran Hingga Tiga Minggu Lagi

“Pesawat mendarat dengan selamat, dan pilot dalam keadaan stabil.”

“Insiden ini sedang diselidiki,” tutur Hawkins.

Ini tampaknya kali pertama Iran menembak pesawat AS dalam perang yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis (19/3/2026), mengaku menembak satu jet F-35 AS di wilayah udara Iran tengah.

Menurut IRGC, penembakan itu terjadi pada pukul 02.50 waktu setempat.

Pencegatan ini menyusul penembakan jatuh lebih dari 125 pesawat nirawak AS-Israel oleh Iran.

Sejak perang pecah, AS telah kehilangan sejumlah pesawat militernya.

Pada 1 Maret lalu, tiga jet tempur F-15 Strike Eagle AS secara keliru ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Kuwait.

Dua pekan lalu, sebuah pesawat pengisian bahan bakar KC-135 Stratotanker juga jatuh di barat Irak.

Gedung Putih saat itu menyatakan insiden tersebut bukan karena serangan musuh. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like