NarayaPost – Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyebut Israel negara kanker dan kutukan bagi umat manusia, karena menyerang Lebanon di tengah gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran.
“Sementara perundingan perdamaian sedang berlangsung di Islamabad, genosida sedang dilakukan di Lebanon.”
“Warga sipil tak berdosa dibunuh oleh Israel, pertama Gaza, kemudian Iran, dan sekarang Lebanon, pertumpahan darah terus berlanjut tanpa henti.”
“Saya berharap dan berdoa agar orang-orang yang menciptakan negara kanker ini di tanah Palestina untuk menyingkirkan orang Yahudi Eropa, terbakar di neraka,” tulis Asif di X, Kamis (9/4/2026).
Pernyataan tersebut memicu kemarahan rezim Zionis, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Netanyahu mengatakan seruan Asif untuk pemusnahan Israel adalah keterlaluan.
“Ini bukan pernyataan yang dapat ditoleransi dari pemerintah mana pun, terutama dari pemerintah yang mengeklaim sebagai penengah netral untuk perdamaian,” kata kantor Netanyahu di X.
Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar juga mengecam kepemimpinan Pakistan.
Konfrontasi diplomatik langsung antara dua negara ini jarang terjadi, karena tidak punya hubungan formal.
Sa’ar mengutuk apa yang digambarkannya sebagai “fitnah darah anti-Semit yang terang-terangan.”
Menyebut Israel sebagai “kanker,” menurut Sa’ar, secara efektif menyerukan penghancurannya.
“Israel akan membela diri terhadap teroris yang bersumpah untuk menghancurkannya,” ucapnya, Jumat (10/4/2026).
BACA JUGA: Amerika dan Iran Bakal Berunding di Pakistan Akhir Pekan Ini
Respons Israel ini dimulai dari Kementerian Luar Negeri Pakistan yang mengeluarkan kecaman keras terhadap tindakan militer Israel di Lebanon.
Hal ini kemudian diikuti oleh pernyataan provokatif Asif di media sosial.
Keputusan pemimpin Israel menanggapi secara terbuka merupakan penyimpangan yang signifikan dari praktik sebelumnya, karena Tel Aviv secara historis menghindari keterlibatan langsung dengan Pakistan tanpa adanya hubungan diplomatik.
Ketidakpercayaan Israel terhadap peran Pakistan dalam upaya mediasi apa pun telah diungkapkan sebelumnya.
Reuven Azar, utusan Israel untuk India, mengatakan kepada NDTV pada Kamis, Israel tidak menganggap Pakistan sebagai perantara yang kredibel dalam perundingan perdamaian.
Konflik Israel-Lebanon terseret ke dalam perang Timur Tengah pada 2 Maret, ketika Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke arah kota-kota Israel, untuk membalas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Serangan terberat Israel terhadap Lebanon sejak Hizbullah memasuki perang itu, menewaskan 303 orang pada Hari Rabu, kurang dari 48 jam setelah gencatan senjata yang rapuh antara Washington dan Teheran, diberlakukan.
Netanyahu mengatakan, Israel mendukung keputusan Presiden AS Donald Trump menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu, tetapi mengatakan gencatan senjata tersebut tidak termasuk Lebanon.
Hal ini bertentangan dengan pengumuman Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Sharif, yang bertindak sebagai mediator dalam perang di Timur Tengah, mengatakan gencatan senjata yang disepakati oleh AS, Iran, dan sekutu mereka, berlaku di mana-mana, termasuk Lebanon.
Meskipun Iran mendukung klaim Sharif, Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance, yang ditugaskan memimpin pembicaraan perdamaian dengan Iran, mengatakan Lebanon bukan bagian dari kesepakatan gencatan senjata.
Sementara, Netanyahu pada Hari Kamis memerintahkan para menterinya mencari pembicaraan langsung dengan Lebanon, yang berfokus pada pelucutan senjata Hizbullah.
BACA JUGA: Iran dan AS Gencatan Senjata, IRGC: Kami Tidak Percaya Janji
Israel dan Lebanon akan mengadakan pembicaraan di Washington minggu depan, kata seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS.
Menambah lapisan lain pada situasi yang sedang berkembang, media Iran melaporkan Teheran mungkin akan menangguhkan dialog Hari Sabtu di Islamabad dengan AS, kecuali Israel menghentikan operasi militernya di Lebanon.
Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi terhambatnya upaya diplomatik yang bertujuan meredakan ketegangan di Timur Tengah.
AS dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada Hari Selasa, sekitar satu jam sebelum tenggat waktu Donald Trump menghancurkan Iran akan berakhir.
Kesepakatan di menit-menit terakhir itu terjadi, setelah Trump mengatakan dia telah berbicara dengan Shehbaz Sharif dan Panglima Militer Pakistan Asim Munir, yang meminta gencatan senjata.
Sharif mengatakan ibu kota Pakistan, Islamabad, akan menyambut delegasi dari kedua negara untuk negosiasi yang bertujuan mencapai kesepakatan yang konklusif pada 10 April.
Pembicaraan kemudian ditunda satu hari.
Teheran mengatakan telah menyetujui pembicaraan dengan Washington di Pakistan mengenai jalan untuk mengakhiri konflik yang meletus pada 28 Februari. (*)