NarayaPost – Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada Bangsa Iran, setelah negara tersebut dilanda protes massal yang merenggut ribuan jiwa pada Desember hingga Januari.
“Sebagai orang yang bertanggung jawab atas pemerintahan, saya meminta maaf kepada Bangsa Iran yang mulia atas kekurangan yang ada.”
“Kami melakukan segala upaya untuk mengatasi semua masalah, dan kami akan melakukannya,” kata Pezeshkian, dalam pidato yang menandai peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, Rabu (11/2/2026).
Pihak otoritas Iran, lanjutnya, menyambut protes dan menganggapnya sebagai kewajiban mereka untuk mendengarkan aspirasi pengunjuk rasa.
“Namun, kami marah atas penghancuran, vandalisme, pembunuhan, dan pembakaran.”
“Tidak ada warga Iran yang akan mengangkat senjata untuk membunuh warga Iran lainnya, tidak ada warga Iran yang akan membakar masjid.”
BACA JUGA: Trump Bakal Tambah Kapal Induk Jika Negosiasi Iran Gagal
“Tidak ada warga Iran yang akan meminta orang asing untuk memasuki negara.”
“Tidak ada orang merdeka yang akan meminta musuh untuk datang dan menyelesaikan masalah internal,” tegasnya.
Sebelumnya, protes meletus di Iran pada akhir Desember, di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial Iran.
Di beberapa kota, protes berubah menjadi bentrokan dengan polisi, ketika para demonstran meneriakkan slogan-slogan yang mengkritik kebijakan pemerintah.
Korban jiwa jatuh dari pihak aparat keamanan dan para demonstran.
Fokus Senjata Nuklir
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan, Presiden AS Donald Trump menginginkan Iran menjamin tidak memiliki senjata nuklir, dan mempertimbangkan berbagai opsi untuk berurusan dengan Teheran.
“Presiden telah memberi tahu seluruh tim seniornya, kita harus mencoba mencapai kesepakatan yang memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.”
“Namun, jika kita tidak dapat mencapai kesepakatan itu, maka ada opsi lain yang tersedia.”
“Jadi saya pikir presiden akan terus mempertahankan opsi-opsinya,” ucapnya, Rabu.
Vance menambahkan, AS sekarang fokus pada masalah senjata nuklir, bukan perubahan rezim di Iran.
“Jika rakyat Iran ingin menggulingkan rezim, itu terserah rakyat Iran.”
“Yang menjadi fokus kita saat ini adalah fakta Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
“Itu telah menjadi fokus kebijakan presiden, bahkan sejak pemerintahan pertama,” cetus Vance ketika ditanya pertanyaan terkait.
Pada 6 Februari lalu, pembicaraan antara delegasi AS dan Iran mengenai program nuklir Iran diadakan di ibu kota Oman, Muscat.
Trump mengatakan pembicaraan berjalan dengan baik.
Sementara, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu menyatakan, Teheran bersikeras pada haknya untuk memperkaya uranium, bahkan jika hal ini berpotensi memicu perang.
Berpikiran Terbuka
Presiden AS Donald Trump meyakini dapat menegosiasikan kesepakatan yang jauh lebih baik dengan Iran pada tahap ini.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan dalam pertemuannya dengan kepala otoritas Israel Benjamin Netanyahu, ia menekankan pentingnya melanjutkan keterlibatan dengan Teheran untuk merampungkan sebuah kesepakatan.
Ia juga menyatakan harapan agar Iran bertindak secara masuk akal dan bertanggung jawab.
“Presiden Trump berpikiran terbuka, dan seperti yang ia katakan, ia yakin sekarang dapat memperoleh kesepakatan yang jauh lebih baik dari pihak Iran setelah Operasi Midnight Hammer pada 22 Juni,” ujar Menteri Keuangan AS Scott Bessent kepada Fox News, Rabu.
Tercapai atau tidaknya kesepakatan tersebut, kata Bessent, tergantung Teheran.
Ia menuturkan, Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth akan mengambil sejumlah keputusan di tengah pengerahan ulang aset militer Washington ke arah Iran.
BACA JUGA: Bom Waktu Iran dan Amerika
Pasukan AS telah memindahkan pesawat dan sistem pertahanan ke pangkalan militer di kawasan tersebut, seiring meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Bulan lalu, Trump menyatakan sebuah armada besar sedang bergerak menuju Iran, dan menyampaikan harapan agar Teheran bersedia bernegosiasi mengenai kesepakatan yang adil dan setara, termasuk pelucutan total senjata nuklirnya.
Pemimpin AS itu juga mengingatkan pada Juni 2025, AS telah menyerang fasilitas nuklir Iran dalam Operasi Midnight Hammer.
Ia mengatakan serangan berikutnya akan jauh lebih buruk, dan menyerukan agar hal tersebut tidak sampai terjadi. (*)