NarayaPost – Pengamatan astronomi kini bisa dilakukan langsung di bulan.
Selama ini, pengamatan astronomi biasanya dilakukan di ground base, dengan kamera menghadap ke langit.
Menurut Emanuel Sungging Mumpuni, Kepala Pusat Riset Antariksa (PRA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hal ini adalah peluang bagi Indonesia untuk berkolaborasi dalam misi-misi ke bulan.
“Maka pada pagi ini, kita akan membuka wawasan terlebih dahulu dan mempelajari peluang-peluang itu,” kata Emmanuel pada kegiatan LINIEAR PRA – Kolokium, dengan topik Misi-Misi Internasional Lunar Observatory Association ke Bulan, di KST Samaun Samadikun Bandung, Jawa Barat, Selasa (10/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Chatief Kunjaya dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB, yang juga menjadi Board of Director dari Internasional Lunar Observatory Association (ILOA).
Ia menjelaskan tentang keunggulan melakukan pengamatan astronomi dari satelit alami Bumi tersebut.
BACA JUGA: BRIN Ingin Pembangunan Bandar Antariksa di Biak Masuk PSN
“Ketika kita ingin mengamati gelombang radio alam semesta ini, dan melakukannya dari ground base di bumi, maka akan memiliki banyak gangguan intervensi gelombang radio yang lain.”
“Sedangkan jika pengamatan ditempatkan di bulan, intervensi gelombang radio dari bumi akan terhalang olehnya,” terangnya.
Kunjaya menjelaskan, satelit terbesar kelima dalam tata surya itu memiliki daerah yang gelap permanen, yang berada di bawah kawah dengan suhu sangat rendah, sehingga kamera pengamatan yang diletakkan di Luna tidak membutuhkan pendingin.
“Selain itu, permukaan bulan lebih stabil dan minim pergerakan, memungkinkan untuk membuat Very Long Baseline Interferometer (VLBI) di bulan, karena kamera yang ditempatkan di sana tidak perlu sering dikoreksi seperti di bumi.”
“Atmosfer bulan juga sangat tipis dibandingkan dengan atmosfer yang berada di orbit terendah bumi, sehingga cahaya bintang dapat terlihat lebih jelas,” bebernya.
Kunjaya juga menjelaskan tentang kesuksesan proyek ILO-X yang berhasil mendarat dibulan, dan diterbangkan oleh pesawat Nova-C.
BACA JUGA: Kementerian-Pemda Siap Wujudkan Bandar Antariksa Nasional
“ILO-X terbukti sukses karena telah bisa mendarat di bulan.”
“Kedua, proyek ini bisa mengomunikasikan hasil dari foto pengamatannya.”
“Sayangnya ketika mendarat di bulan, salah satu kaki pesawat menabrak batu dan membuat ia tumbang, sehingga kemra mengamati dalam posisi miring dari bawah dan kurang optimal,” ulasnya.
Namun, ILO-X ini hanyalah percobaan untuk nantinya meluncurkan proyek aslinya, yaitu ILO-1 dan ILO-2.
“Penggunaan kamera pada proyek-proyek ini masih kamera yang statis, sehingga pengambilan gambar tergantung ke mana dan hadap mana pesawat yang membawa kamera itu bergerak.”
“Dibutuhkan kamera yang bisa bergerak secara otomatis untuk membantu mengoptimalkan pengambilan gambar pengamatan di bulan,” tuturnya.
Kunjaya juga menjelaskan adanya potensi bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam misi-misi internasional luara angkasa.
“Dengan terus berpartisipasi dalam program ILOA, dapat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk turut mengeksplorasi angkasa luar jauh Indonesia lebih lanjut.”
“Indonesia juga memiliki kesempatan untuk membuat kamera bagi ILO-2 dengan lebih baik.”
“Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan,” urainya.
Kunjaya menegaskan, hal ini tidak bermanfaat langsung, tetapi bermanfaat di masa yang akan datang.
“Indonesia harus mempersiapkan terutama dalam hal capacity building, karena Indonesia berpontensi berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di bulan,” imbuhnya.
Kembali ke Bulan
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bersiap meluncurkan misi Artemis II pada April 2026, menandai kembalinya manusia ke orbit Bulan setelah lebih dari 50 tahun sejak misi Apollo 17.
Empat astronot akan mengitari Bulan menggunakan roket SLS dan kapsul Orion, sebagai persiapan pendaratan berawak di misi Artemis III, serta memperkuat kehadiran jangka panjang di satelit terpadat kedua tersebut.
Misi Artemis II dijadwalkan meluncur pada 1 April 2026, membawa empat kru, yakni Christina Koch, Victor Glover, Jeremy Hansen, dan Reid Wiseman, selama 10 hari mengelilingi Bulan.
Program ini bertujuan untuk mendaratkan wanita pertama dan orang kulit berwarna pertama di Bulan, serta membangun infrastruktur untuk penjelajahan Mars. (*)