5 Mitos Makanan Saat Imlek: Hindari Bubur hingga Sogok Dewa

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost — Perayaan Imlek atau Tahun Baru China tidak hanya identik dengan suasana hangat keluarga dan pesta makan besar, tetapi juga kaya akan mitos dan kepercayaan mengenai makanan yang disajikan saat perayaan itu. Di balik hidangan yang lezat, masyarakat Tionghoa dan keturunan menghayati berbagai cerita simbolis yang telah diwariskan turun-temurun selama ratusan hingga ribuan tahun.

Bagi banyak keluarga, makan bersama saat Imlek adalah ritual penting yang sarat dengan pesan budaya tentang keberuntungan, kesehatan, cinta keluarga, dan harapan di tahun yang baru. Namun ada pula sejumlah makanan yang justru harus dihindari atau dipersembahkan dengan cara tertentu agar dianggap membawa berkah. Berikut ini adalah lima mitos makanan saat Imlek yang paling banyak dikenal di kalangan masyarakat tradisional.

BACA JUGA : Kadin Indonesia Ungkap Posisi Indonesia Perkuat Ekosistem Halal Global

1. Larangan Makan Bubur di Hari Raya

Salah satu mitos paling terkenal dalam daftar mitos makanan saat Imlek adalah pantangan untuk menyajikan bubur di hari pertama perayaan. Dalam tradisi Tionghoa, bubur atau congee sering diasosiasikan dengan kesederhanaan dan kemiskinan pada masa lampau. Orang tua dulu percaya bahwa jika di pagi hari pertama Tahun Baru seseorang makan bubur, hal itu bisa melambangkan kesusahan ekonomi atau kurangnya rezeki sepanjang tahun.

Karena itu, saat menyusun menu makan keluarga, bubur sering diganti dengan makanan yang dianggap lebih bernilai untuk menggambarkan harapan kemakmuran dan kehidupan yang berkecukupan.

2. Baju Merah dan Warna Merah pada Hidangan

Walaupun bukan makanan, warna merah sangat penting dalam tradisi mitos makanan saat Imlek. Warna ini dipercaya mampu mengusir energi negatif atau roh jahat, termasuk monster mitos bernama Nian yang konon muncul setiap pergantian tahun. Dengan mengenakan pakaian merah atau menyajikan hidangan berwarna merah, masyarakat percaya keberuntungan dan kebahagiaan akan menyertai keluarga.

Hidangan berwarna merah seperti daging yang dimasak dengan cita rasa manis atau sayuran beraksen merah pun sering dipilih karena diyakini membawa keberuntungan dan perlindungan di awal tahun.

3. Manisan sebagai “Sogokan” untuk Dewa Zao Jun

Mitos lain yang masih kuat diyakini banyak keluarga adalah peran manisan dalam “menyogok” Dewa Dapur, Zao Jun. Dalam legenda Tionghoa, Zao Jun adalah dewa yang mengawasi kehidupan keluarga selama setahun penuh dan naik ke langit untuk melaporkan perilaku manusia kepada Kaisar Jade sebelum Tahun Baru.

Untuk memastikan laporan yang disampaikan tentang keluarga dinilai baik, orang mencarikan permen atau manisan yang diletakkan di depan rumah atau di meja makan. Beberapa cerita bahkan menyebutkan bahwa manisan diberikan agar mulut Zao Jun menjadi lengket dan ia tidak bisa menyampaikan hal-hal buruk. Manisan inilah yang kemudian jadi bagian penting dari menu mitos makanan saat Imlek.

4. Pangsit (Jiaozi) Sebagai Simbol Keberuntungan

Pangsit atau jiaozi adalah salah satu hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga sangat simbolis dalam perayaan Imlek. Bentuk pangsit yang menyerupai koin emas kuno diyakini membawa keberuntungan dan kekayaan bagi keluarga yang menyantapnya bersama di hari pertama atau malam sebelum Imlek.

Kepercayaan ini pun menjadi bagian penting dari daftar mitos makanan saat Imlek karena banyak keluarga yang membuat pangsit sendiri sebagai ritual bersama keluarga dan leluhur.

5. Ada Mitos Lain tentang Makanan Berwarna Putih dan Lainnya

Selain pantangan bubur, masyarakat tradisional juga sering menghindari makanan dengan warna putih atau netral karena warna itu dikaitkan dengan suasana duka dan peristiwa kematian di banyak budaya Tionghoa. Sebagai contoh, makanan seperti tahu putih atau makanan berwarna pucat kadang dihindari saat perayaan karena dianggap kurang membawa energi positif.

Selain itu, pada beberapa daerah juga terdapat kepercayaan bahwa makanan hewan tertentu, seperti yang “bergerak mundur” (misalnya lobster atau udang), bisa membawa konotasi negatif dan oleh sebagian komunitas lebih baik dihindari saat Imlek.

BACA JUGA : Kilau Emas Menguat di Tengah Krisis Stok

Makna Budaya di Balik Mitos Makanan Saat Imlek

Mengetahui mitos makanan saat Imlek lebih dari sekadar informasi kuliner. Hal ini mencerminkan kekayaan budaya Tionghoa yang sarat simbolisme dan filosofis, di mana makanan bukan hanya soal rasa tetapi juga harapan akan kehidupan yang lebih baik, kesatuan keluarga, dan keberuntungan sepanjang tahun yang baru.

Simbol-simbol ini menunjukkan betapa pentingnya arti kata, warna, bentuk, dan bahkan urutan makanan dalam ritual tradisi tersebut. Banyak keluarga yang tetap menjunjung tinggi tradisi ini bukan hanya karena percaya secara harfiah, tetapi juga untuk menjaga warisan budaya yang mempersatukan generasi dalam perayaan terbesar dalam penanggalan lunar.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like