NarayaPost – Majelis Ahli Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara itu, Senin (9/3/2026).
Penunjukan Mojtaba terjadi sepuluh hari setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, ibu dan istrinya, tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada 28 Februari, yang memicu perang meluas di Timur Tengah.
Pria berumur 56 tahun itu diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran, meski belum bergelar Ayatollah.
Dikutip dari laman wisdomlib.com, Ayatollah adalah gelar kehormatan yang terutama digunakan dalam Syiah, yang menandakan seorang ulama Syiah Dua Belas Imam berpangkat tinggi.
Kata Ayatollah berasal dari kata Arab “Ayat,” yang berarti “tanda” atau “bukti,” dan “Allah” yang berarti “Tuhan.”
Gelar tersebut diterjemahkan sebagai “Tanda Tuhan” atau “Tanda Ilahi.”
Gelar ini diberikan kepada para ulama yang telah menunjukkan pengetahuan mendalam, kesalehan, dan kepemimpinan dalam komunitas Syiah.
Gelar ini tidak memiliki nama yang dapat diturunkan atau dikaitkan secara langsung, karena merupakan gelar dan bukan nama pemberian.
Republik Islam Iran yang berdiri pada 1979 setelah melancarkan revolusi dan menggulingkan monarki, memeluk prinsip pemimpin tertinggi harus dipilih berdasarkan kedudukan agama dan kepemimpinan yang telah terbukti, bukan melalui garis keluarga suksesi.
Dua tahun lalu, salah satu anggota Majelis Ahli mengatakan, Ali Khamenei sempat menentang gagasan Mojtaba menjadi kandidat pemimpin tertinggi di masa depan.
Namun, ia tidak pernah secara terbuka menanggapi spekulasi tersebut.
Dikutip Al Jazeera, Mojtaba Khamenei mulai membangun hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sejak usia muda, ketika ia bertugas di Batalyon Habib dalam beberapa operasi selama Perang Iran-Irak pada 1980-an.
BACA JUGA: Galau Politik Tak Bebas Aktif Prabowo
Sejumlah rekan seperjuangannya, termasuk para ulama, kemudian menduduki posisi penting dalam aparat keamanan dan intelijen Republik Islam yang saat itu baru berdiri.
Kredensial keagamaan Khamenei juga menjadi bahan perdebatan, karena ia hanya menyandang gelar Hojatoleslam, yaitu ulama tingkat menengah, bukan Ayatollah yang memiliki peringkat lebih tinggi.
Mendiang ayahnya juga belum bergelar Ayatollah ketika menjadi pemimpin Iran pada 1989, dan undang-undang saat itu diubah untuk mengakomodasi hal itu.
Kompromi serupa kemungkinan juga bisa dilakukan untuk Mojtaba Khamenei.
Tertutup
Istri Mojtaba bernama Zahra Haddad-Adel, ikut tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu.
Saudara perempuan, kakak ipar, dan sejumlah keponakannya juga ikut wafat.
Mojtaba cukup tertutup dari publik.
Mojtaba tak pernah memegang jabatan di pemerintahan, tidak pernah memberikan pidato atau wawancara publik, dan foto-videonya cuma pernah dipublikasikan beberapa kali.
Banyak warga Iran bahkan disebut belum pernah mendengar suara Mojtaba, meski dia merupakan anak dari pemimpin tertinggi negara tersebut.
Namun, Mojtaba diyakini tetap memiliki pengaruh yang cukup besar di Iran selama bertahun-tahun.
Putra kedua Ali Khamenei ini juga sering disebut sebagai pangeran bayangan yang mengelola lingkaran dalam ayahnya.
Meski begitu, ia memiliki pengaruh besar terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta badan-badan intelijen Iran.
Hamid Reza Gholamzadeh, Direktur think thank DiploHouse di Teheran mengatakan, Ali Khamenei tidak memiliki andil dalam penunjukan putranya sebagai penerus.
Sebab, seluruhnya bergantung pada proses pemilihan yang dilakukan Majelis Ahli Iran.
Meski demikian, Mojtaba Khamenei disebut sangat dekat dengan ayahnya, sehingga memahami berbagai tantangan yang dihadapi Iran.
“Posisi pemimpin sebenarnya tidak harus memiliki pengalaman eksekutif.”
“Yang penting adalah semakin baik ia memahami situasi dan tantangan kekuasaan eksekutif dalam praktiknya, maka semakin baik pula ia menjalankan peran tersebut,” ulas Gholamzadeh.
Kabel diplomatik AS yang diterbitkan WikiLeaks pada akhir 2000-an menggambarkan Mojtaba sebagai “kekuatan di balik jubah,” yang secara luas diartikan sebagai sosok “cakap dan berpengaruh.”
Sejumlah pakar memperkirakan dipilihnya Mojtaba sebagai penerus Khamenei, tampaknya akan membawa Iran kembali dipimpin oleh garis keras seperti sebelumnya, bahkan mungkin lebih parah.
Pemimpin Ketiga
Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi 1979, dan mengambil alih kepemimpinan saat konflik regional memanas dan ketidakpastian domestik meningkat.
Mojtaba lahir pada 8 September 1969 di Kota Mashhad, timur laut Iran, salah satu pusat keagamaan utama di negara itu.
Ia merupakan putra kedua dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang telah memimpin Iran sebagai pemimpin tertinggi sejak tahun 1989, hingga tewas dalam serangan udara AS dan Israel lebih dari sepekan lalu.
Mojtaba juga merupakan cucu dari ulama Sayyed Javad Khamenei.
Tumbuh dalam lingkungan yang sarat dinamika politik, Mojtaba menyaksikan kebangkitan ayahnya sebagai tokoh penting dalam Revolusi Iran dan kemudian sebagai presiden negara tersebut, sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi.
Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen yang saat ini memimpin salah satu lembaga kebudayaan utama di Iran.
Seperti banyak tokoh dalam kalangan ulama Iran, Mojtaba menempuh pendidikan keagamaan di kota Qom, pusat utama pembelajaran teologi Syiah di negara tersebut, dan tempat berdirinya berbagai sekolah calon ulama Iran.
Ia mempelajari fikih Islam dan teologi di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif terkemuka, termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ahli ideologi berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Iran.
Menurut para analis Iran, Mojtaba menghabiskan sebagian besar kariernya dengan mengajar di lembaga pendidikan calon ulama Qom, termasuk mengajar kelas fikih tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang dianggap sebagai tingkat pendidikan tertinggi di lembaga pendidikan serupa.
Sejumlah laporan terbaru menyebutkan Mojtaba sempat menghentikan sementara beberapa kelasnya karena alasan pribadi, meskipun hal itu tidak dapat dikonfirmasi secara independen.
Meski lama berada dalam lingkungan ulama, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan atau menjabat dalam posisi eksekutif maupun jabatan yang dipilih melalui pemilihan umum.
Media internasional kerap menggambarkan Khamenei sebagai figur tertutup dengan kemungkinan pengaruh di balik layar.
BACA JUGA: Amerika Tiru Taktik Iran Pakai Drone Murah di Palagan
Minimnya penampilan publik memperkuat citra tersebut, karena hampir tidak ada pidato publik panjang, wawancara, atau manifesto politik yang menjelaskan secara rinci tentang pandangan-pandangannya.
Nama Mojtaba secara berkala muncul dalam diskusi politik di Iran, biasanya terkait pemilihan presiden atau spekulasi mengenai kandidat yang mungkin ia dukung.
Namun, Mojtaba sendiri jarang terlibat langsung dalam perdebatan politik di ruang publik. Penampilannya sebagian besar terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput oleh media pemerintah Iran.
Terakhir kali ia terlihat di depan publik adalah saat menghadiri aksi unjuk rasa pro-pemerintah setelah gelombang protes luas yang terjadi pada awal tahun ini.
Menurut laporan di Iran, ia juga pernah ikut serta dalam Perang Iran-Irak pada akhir 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden.
Mojtaba dilaporkan bergabung dengan unit relawan saat masih muda, yang menjadi pengalaman pertamanya dalam urusan militer.
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran pada salah satu momen paling bergejolak dalam sejarah modern Iran.
Proses transisi ini juga dilakukan di tengah ancaman langsung dari Israel, yang para pemimpinnya bersumpah akan membunuh siapa pun pemimpin Iran yang dipilih untuk menggantikan Khamenei.
Ancaman tersebut menegaskan besarnya tekanan yang menyelimuti proses suksesi kepemimpinan di Iran, dan menempatkan Mojtaba di pusat konfrontasi geopolitik yang melampaui batas-batas negara tersebut. (*)