NarayaPost – Menteri Pertahanan Belarusia Viktor Khrenin mengungkapkan, para pemimpin negara-negara NATO Eropa tidak merahasiakan fakta sedang bersiap perang melawan Moskow dan Minsk.
“Situasi di perbatasan barat Belarusia tegang, rentan terhadap radikalisasi, dan sulit.”
“Tindakan para pemimpin negara-negara tetangga juga menunjukkan, dan mereka tidak menyembunyikannya, persiapan perang sedang berlangsung,” kata pria berpangkat letnan jenderal itu, dalam sebuah wawancara stasiun televisi lokal.
Belarusia adalah negara sekutu Rusia.
Kata Khrenin, negara-negara NATO Eropa mengeklaim terancam oleh Rusia dan Belarusia.
“Kami memiliki Negara Persatuan, dan mereka akan melawan kami,” imnbuhnya, dikutip dari Russia Today, Minggu (28/12/2025).
Polandia, Jerman, Prancis, dan negara-negara Baltik, lanjut Khrenin, semuanya berlomba untuk memiliterisasi dan menciptakan tentara yang kuat.
BACA JUGA: Ryabkov: Sangat Keliru Berharap NATO Bisa Kalahkan Rusia
“Komitmen negara-negara NATO Eropa baru-baru ini untuk mengalokasikan 5% dari PDB mereka untuk militer mereka, sudah menunjukkan ini adalah anggaran pra-perang,” ulas Khrenin.
Menurutnya, NATO, blok militer yang dipimpin Amerika Serikat (AS), telah meng-upgrade pelabuhan dan lapangan terbang di dekat Belarusia dan meningkatkan latihan, serta menciptakan unit baru dan meningkatkan kehadiran pasukannya di dekat perbatasan Rusia dan Belarusia.
Namun, sambung Khrenin, pengerahan rudal Oreshnik Rusia yang mampu membawa hulu ledak nuklir di Belarusia merupakan pencegahan strategis terhadap hal ini.
“Ini adalah reaksi kami terhadap agresi mereka, tindakan agresif, terhadap pernyataan mereka akan berperang dengan kami.”
“Kami katakan, tidak perlu, kami tidak ingin berperang. Mari kita bernegosiasi,” cetus Khrenin.
Pada Kamis, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko diberi pengarahan tentang penempatan sistem rudal Oreshnik Rusia di negaranya.
Kata Presiden Rusia Vladimir Putin pekan lalu, sistem rudal yang dipersenjatai IRBM hipersonik itu, akan mulai bertugas tempur sebelum tahun baru.
“Moskow telah mencari solusi diplomatik untuk kontradiksi dan konflik selama masih ada secercah harapan keberhasilan.”
“Setiap peluang yang hilang adalah tanggung jawab mereka yang secara keliru percaya mereka dapat menggunakan bahasa kekerasan terhadap kami,” tegas Putin.
Sangat Keliru Berharap NATO Bisa Kalahkan Rusia
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menyerukan Amerika Serikat (AS) menahan diri secara maksimal dalam hubungannya dengan Rusia, mengingat masih adanya risiko konflik nuklir.
Ryabkov mengatakan, meningkatnya kontak dan dialog yang substantif membuat risiko berada di tepi jurang konflik nuklir tidak perlu dibesar-besarkan, meski upaya berkelanjutan tetap dibutuhkan.
“Risiko konfrontasi ini tetap ada dan belum terselesaikan.”
“Banyak hal akan bergantung pada bagaimana pemerintahan Trump bertindak di masa depan,” kata Ryabkov dalam wawancara yang disiarkan stasiun TV Rossiya-1, Jumat (26/12/2025).
Rusia, kata Ryabkov, berharap pemimpin AS menunjukkan tingkat tanggung jawab tertinggi dalam hubungannya dengan Moskow, sebuah prinsip yang secara aktif didorong oleh Rusia.
“Kami menyampaikan pesan yang jelas lewat semua saluran.”
BACA JUGA: Rusia Siap Kasih Jaminan Takkan Serang NATO dan Uni Eropa
“Akhirnya, inilah saat untuk terlibat dalam perundingan yang sungguh-sungguh dan bermakna,” imbuh Ryabkov.
Rusia mendesak Barat tidak berspekulasi tentang kapan perang besar akan pecah, tetapi fokus pada langkah-langkah untuk mencegah perang tersebut.
“Saya lebih memilih tidak berspekulasi atau berteori tentang skenario terburuk.”
“Siapa pun yang berharap bisa mengalahkan Rusia dalam konflik terbuka yang melibatkan koalisi Barat di bawah panji NATO, sangat keliru,” tegasnya.
Ryabkov juga mengingatkan mereka yang berusaha mengalahkan negara bersenjata nuklir.
“Secara definisi, hal itu mustahil dan merupakan jalan pasti menuju bencana,” ucapnya.
Menurut Ryabkov, dalam beberapa tahun terakhir, Rusia menyoroti aktivitas NATO yang belum pernah terjadi sebelumnya di sepanjang perbatasan barat negara itu.
Pemerintah Rusia menyatakan mereka tidak mengancam siapa pun, tetapi tidak akan mengabaikan tindakan yang mengancam kepentingan nasionalnya.