NarayaPost – Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai, setelah negosiasi dua hari pada Sabtu (11/4/2026) dan Minggu (12/4/2026) di Islamabad, Pakistan.
Salah satu penyebabnya, kata Wakil Presiden AS James David Vance, Teheran tak setuju syarat Washington soal penghentian total program nuklir Iran.
Iran, kata Vance, menolak berhenti mengembangkan senjata nuklir.
Ini adalah syarat utama AS dalam negosiasi.
Pengembangan program senjata nuklir pula yang menjadi alasan AS, bersama Israel, menggempur Iran sejak 28 Februari 2026.
“Faktanya, kita perlu melihat komitmen tegas mereka tidak akan berupaya memiliki senjata nuklir.”
“Dan mereka tidak akan berupaya mendapatkan alat-alat yang memungkinkan mereka memperoleh senjata nuklir dengan cepat.”
“Pertanyaannya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang atau dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang?”
“Kita belum melihat itu. (Tapi) kita berharap akan melihatnya,” tutur Vance.
Pada Minggu pagi, Vance mengumumkan pembicaraan damai dengan Iran yang berlangsung 21 jam sejak Sabtu, berakhir tanpa kesepakatan.
Ini merupakan perundingan tatap muka pertama kedua negara sejak revolusi Islam 1979.
Delegasi AS dipimpin langsung oleh Vance, sedangkan delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.
BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran
Dalam pernyataan kepada wartawan usai perundingan, Vance berujar para negosiator Iran menolak syarat AS yang menurutnya sudah cukup fleksibel.
“Kami cukup kooperatif.”
“Presiden memberi pesan pada kami untuk datang dengan iktikad baik dan melakukan upaya terbaik guna mencapai kesepakatan.”
“Kami sudah melakukannya, dan sayangnya kami tidak mampu mencapai kemajuan apa pun,” ucap Vance.
Vance menilai, kegagalan mencapai kesepakatan lebih merugikan Teheran dibandingkan Washington.
“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan.”
“Dan saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi AS,” ucapnya.
Vance menegaskan, tawaran yang diajukan AS, final dan terbaik.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami.”
“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami, hal-hal yang dapat kami akomodasi dan yang tidak dapat kami akomodasi.”
“Dan kami telah menyampaikannya sejelas mungkin, namun mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” beber Vance.
Seorang pejabat Pakistan sempat mengatakan kepada AFP, pembicaraan kedua negara berjalan positif, dengan suasana yang positif pula.
Namun, setelah istirahat sejenak, seorang sumber Pakistan mengatakan kepada Reuters, ada perubahan suasana dari kedua belah pihak.
“Terjadi perubahan suasana hati dari kedua belah pihak.”
“Suhu naik turun selama pertemuan,” ungkapnya.
Dalam unggahan di media sosial X, Pemerintah Iran membenarkan ada perbedaan pendapat antara kedua belah pihak selama negosiasi.
Beda Pandangan
Iran dan AS sebenarnya mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu.
Namun, berbeda pandangan pada dua hingga tiga isu penting, membuat negosiasi tak menghasilkan kesepakatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, perbedaan tersebut menjadi alasan utama kegagalan perundingan.
“Kami mencapai kesepahaman dalam sejumlah isu, namun pandangan kami berbeda pada dua atau tiga isu penting, dan pada akhirnya pembicaraan tidak menghasilkan kesepakatan,” ungkap Baghaei seperti dikutip kantor berita Mehr, tanpa menjelaskan isu penting apa yang masih menjadi ganjalan kedua pihak.
Baghaei menilai wajar jika tidak tercapai kesepakatan dengan AS, hanya dalam satu hari perundingan di Islamabad.
Ketika berbicara kepada televisi pemerintah Iran, Baghaei mengatakan ada tingkat ketidakpercayaan yang mendalam setelah konflik baru-baru ini.
Ia menggambarkan pembicaraan berlangsung dalam suasana yang tidak hanya dipenuhi ketidakpercayaan, tetapi juga kecurigaan setelah perang selama 40 hari.
“Pembicaraan ini diadakan dalam suasana yang didominasi bukan hanya oleh ketidakpercayaan, tetapi juga oleh keraguan dan kecurigaan, setelah perang 40 hari yang untuk kedua kalinya dalam sembilan bulan dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel.”
“Oleh karena itu, wajar jika tidak ada kesepakatan yang dicapai dalam satu pertemuan.”
“Bagaimanapun, tidak ada yang memiliki ekspektasi seperti itu,” ulasnya.
Baghaei juga menyoroti kompleksitas agenda, dengan mencatat isu-isu terkait Selat Hormuz dan dinamika kawasan yang lebih luas, membuat diskusi menjadi semakin sulit.
Meskipun beberapa kemajuan telah dicapai dalam sejumlah isu, perbedaan pendapat pada dua atau tiga poin kunci, menghalangi tercapainya kesepakatan dengan Washington.
BACA JUGA: Cuma Trump yang Termakan Rayuan Netanyahu untuk Serang Iran
Ia tidak mengklarifikasi apakah bakal ada putaran perundingan lanjutan.
“Dalam 24 jam terakhir, diskusi telah dilakukan mengenai berbagai dimensi topik utama negosiasi, termasuk Selat Hormuz, isu nuklir, reparasi perang, pencabutan sanksi, serta penghentian total perang terhadap Iran dan di kawasan.”
“Keberhasilan proses diplomatik ini bergantung pada keseriusan dan iktikad baik pihak lawan, menahan diri dari tuntutan tidak mengajukan tuntutan berlebihan dan permintaan yang melanggar hukum, serta menerima hak dan kepentingan sah Iran,” tulisnya di X.
Selain program nukir, Selat Hormuz disebut-sebut menjadi salah satu isu yang gagal menemui kata sepakat.
Iran bersikeras mempertahankan keberadaan militernya di perairan tersebut, dan menekankan perlunya upaya memastikan hak-hak rakyat Iran.
Kegagalan perundingan ini mengancam perang koalisi Amis (Amerika-Israel) melawan Iran yang ditangguhkan dua pekan, bisa berkobar lagi.
Sesuai kesepakatan gencatan senjata, pertempuran dihentikan mulai Rabu 8 April, hingga dua pekan atau setidaknya hingga 22 April.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak puya rencana cadangan jika perundingan damai dengan Iran di Islamabad gagal.
“Anda tidak perlu rencana cadangan.”
“Militer mereka telah dikalahkan.”
“Kami telah mengintegrasikan semuanya.”
“Mereka memiliki sangat sedikit rudal.”
“Mereka memiliki sangat sedikit kemampuan manufaktur.”
“Kami telah menyerang mereka dengan sangat keras.”
“Militer kami luar biasa; pekerjaan yang telah mereka lakukan,” ujar Trump.
Trump mengaku tak khawatir tentang hasil perundingan di Pakistan.
Menurutnya, AS telah keluar sebagai pemenang dari perang tersebut.
“Apakah kita mencapai kesepakatan atau tidak, tidak ada bedanya bagi saya.”
“Alasannya adalah karena kita telah menang.”
“Kita akan lihat apa yang terjadi.”
“Kita sedang dalam negosiasi yang sangat mendalam dengan Iran.”
“Kita tetap menang.”
“Kita telah mengalahkan mereka secara militer,” klaim Trump.
Trump sesumbar AS telah menghancurkan Angkatan Laut Iran, termasuk kapal-kapal penebar ranjau yang beroperasi di Selat Hormuz, jalur air utama tempat sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewatinya.
“Angkatan Laut mereka telah hancur. 158 kapal.”
“Mereka memiliki 28 kapal penebar ranjau, mereka menyebutnya kapal penebar ranjau. Semuanya tenggelam.”
“Mereka mungkin memiliki beberapa ranjau di air.”
“Kita memiliki kapal penyapu ranjau di sana.”
“Kita sedang menyapu Selat (Hormuz),” papar Trump.
AS mengeklaim dua kapal perangnya telah melewati Selat Hormuz untuk pertama kalinya sejak perang dimulai pada 28 Februari.
Komando Pusat (CENTCOM) Amerika mengeklaim dua kapal perang telah memulai operasi pembersihan ranjau yang dipasang Iran.
“Hari ini, kami memulai proses untuk membangun jalur baru, dan kami akan segera membagikan jalur aman ini dengan industri maritim, untuk mendorong arus perdagangan yang bebas,” kata komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper, seperti dikutip AFP, Minggu.
Menurut CENTCOM, dua kapal perang yang terlibat operasi pembersihan ranjau adalah USS Frank E Peterson dan USS Michael Murphy, keduanya merupakan kapal perusak berpeluru kendali.
CENTCOM mengatakan, pasukan AS tambahan, termasuk drone bawah air, dapat bergabung dalam upaya tersebut dalam beberapa hari mendatang.
Namun, Teheran menyangkal klaim Washington tersebut.
“Inisiatif untuk lewat oleh kapal mana pun berada di tangan angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” tegas juru bicara Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya Iran Ebrahim Zolfaghari, kepada stasiun televisi pemerintah, IRIB.
“Setiap upaya oleh kapal militer untuk melewati Selat Hormuz akan ditindak tegas.”
“Jalur selat hanya akan diberikan kepada kapal sipil dalam kondisi tertentu,” imbuh Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Klaim Berhasil
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim pihaknya dan AS berhasil menghancurkan program nuklir dan rudal balistik Iran.
Washington dan Tel Aviv, katanya, telah “mencekik” Teheran.
“Kampanye ini belum berakhir, tetapi sudah jelas kita telah mencapai prestasi bersejarah.”
“Iran mencoba mengepung kita dengan cekikan—Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, rezim Assad di Suriah, milisi di Irak, Houthi di Yaman.”
“Iran sendiri ingin mencekik kita, tetapi kita mencekik mereka.”
“Mereka mengancam kita dengan pemusnahan, dan sekarang mereka berjuang untuk bertahan hidup,” cetusnya.
Berharap Lanjutkan Gencatan Senjata
Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar mendesak AS dan Iran tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata, meski negosiasi damai gagal.
Dalam sebuah pernyataan, Dar menekankan sangat penting bagi kedua belah pihak untuk terus menjunjung tinggi komitmen mereka terhadap gencatan senjata.
“Kami berharap kedua pihak akan terus melanjutkan semangat positif, guna mencapai perdamaian dan kemakmuran yang berkelanjutan bagi seluruh kawasan dan sekitarnya,” harapa Dar, seperti dikutip Al Jazeera.
Dar menegaskan, Pakistan akan terus berupaya memfasilitasi dialog antara Iran dan AS.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada kedua negara, karena telah menghargai upaya Islamabad membantu tercapainya gencatan senjata.
“(Pakistan berharap kedua pihak dapat terus melanjutkan) semangat positif untuk mencapai perdamaian yang langgeng,” imbuhnya.
Israel Terus Bantai Lebanon
Israel terus menyerang Lebanon di sela negosiasi damai AS dan Iran di Pakistan.
Serangan terbaru pada Minggu, menewaskan belasan orang.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, enam orang tewas di Maaroub di selatan distrik Tyre, dan lima terbunuh di Qana.
Al Jazeera yang mengutip keterangan National News Agency (NNC) menjelaskan, serangan Israel juga terjadi di Kota Bazouriyeh, Qalila, Bafliyeh, dan Qlawiya.
Pada Sabtu malam, agresi Israel di Tefahta menewaskan 13 orang.
Militer Israel juga mengeklaim menyerang ‘peluncur roket yang sudah terisi dan siap diluncurkan’ pada Sabtu malam.
Peluncur roket itu dikatakan hancur sebelum bisa menarget Israel.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan, setidaknya 2.020 orang terbunuh dan 6.436 lainnya terluka karena serangan Israel sejak 2 Maret.
Dari seluruh korban itu, 165 orang di antaranya adalah anak, 248 wanita, dan 85 tenaga medis.
Pada serangan Sabtu, militer Israel dilaporkan membunuh 97 orang dan melukai 133 orang.
Hizbollah mengaku melakukan serangan drone di pemukiman ilegal Israel di Yir’on.
“Tanggapan ini akan berlanjut hingga agresi Israel-Amerika terhadap negara dan rakyat kami berhenti,” ucap Hizbollah dalam sebuah pernyataan di saluran Telegram mereka. (*)