NarayaPost – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan terus melancarkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Lebanon. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu melalui akun media sosialnya, kecaman atau aksi itu menandai bahwa sikap tegas Israel dalam menghadapi ancaman di wilayah perbatasan utara.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer Israel akan dilakukan dengan kekuatan penuh, presisi, dan tekad yang kuat. Ia juga membagikan video serangan udara ke ibu kota Lebanon, Beirut, yang diklaim menargetkan sosok penting dalam struktur internal Hizbullah. Target tersebut disebut sebagai Ali Youssef Kharshi, yang disebut sebagai sekretaris pribadi pemimpin Hizbullah, Naim Qassem.
Netanyahu menegaskan bahwa pesan Israel sangat jelas, yakni memastikan kepada setiap pihak yang menyerang warga sipil Israel akan mendapatkan balasan keras. Ia juga menyatakan bahwa operasi militer akan terus berlanjut hingga keamanan di wilayah utara Israel benar benar pulih. Fokus serangan, menurutnya, mencakup jalur distribusi senjata yang selama ini digunakan Hizbullah untuk memindahkan roket dan perlengkapan militer.
BACA JUGA: 3 Hari Pesta Musik di 10 Panggung Megah Java Jazz Festival 2026
Di lapangan, situasi konflik terus memburuk. Serangan Israel ke wilayah Lebanon pada Rabu (8/4) dilaporkan menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Lebanon yang dikutip AFP. Jumlah korban yang besar ini menambah panjang daftar dampak kemanusiaan akibat konflik yang terus bereskalasi.
Militer Israel, Israel Defense Forces, menyatakan bahwa operasi darat di Lebanon selatan masih berlangsung sejak awal Maret. Pasukan Israel dilaporkan terus melakukan pertempuran dengan Hizbullah sambil mempertahankan sejumlah posisi strategis di wilayah tersebut. Dalam operasi terbaru, Israel mengklaim berhasil menghantam dua jalur utama yang digunakan Hizbullah untuk memindahkan ribuan roket dan peluncur dari wilayah utara menuju selatan Sungai Litani.
Selain itu, IDF juga menyebut telah menghancurkan sekitar 10 fasilitas militer milik Hizbullah, termasuk gudang senjata, peluncur roket, serta pusat komando. Serangan ini disebut sebagai bagian dari upaya sistematis Israel untuk melemahkan kemampuan militer Hizbullah dan memutus rantai logistik mereka.
Di sisi lain, situasi di Lebanon dipenuhi suasana duka. Pemerintah Lebanon menetapkan hari berkabung nasional pada Kamis (9/4) sebagai bentuk penghormatan terhadap korban serangan. Kantor Perdana Menteri Lebanon menyatakan bahwa serangan tersebut turut menyasar ratusan warga sipil yang tidak bersenjata. Sebagai bentuk duka nasional, bendera diturunkan setengah tiang dan sejumlah kantor pemerintahan ditutup.
BACA JUGA: Sering Berada di Ruang Ber-AC Berisiko Menghambat Metabolisme, Ini Penjelasannya
Ketegangan semakin meningkat setelah Hizbullah melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel. Beberapa jam setelah pengumuman berkabung, kelompok tersebut menembakkan roket ke wilayah utara Israel, memicu sirene peringatan di sejumlah kota. Serangan ini disebut Hizbullah sebagai respons atas apa yang mereka anggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan sebagai upaya meredakan konflik yang telah menewaskan ribuan orang di kawasan. Namun, eskalasi terbaru antara Israel dan Hizbullah memunculkan kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut berada di ambang kegagalan.
Dengan meningkatnya intensitas serangan dan balasan, situasi di kawasan Timur Tengah kembali berada dalam ketidakpastian. Upaya diplomatik yang sebelumnya diharapkan mampu meredam konflik kini menghadapi ujian berat, sementara risiko meluasnya konflik ke skala yang lebih besar semakin terbuka.