NarayaPost – Manusia selama ini menganggap persoalan plastik hanyalah isu lingkungan. Namun penelitian terbaru menunjukkan, partikel mikroplastik kini telah menyebar hingga ke dalam tubuh manusia, menembus organ-organ vital seperti otak, jantung, paru-paru, hati, dan ginjal. Temuan ini mengguncang dunia medis karena menunjukkan bahwa polusi plastik bukan lagi ancaman di luar tubuh, melainkan sudah menjadi bagian dari sistem biologis manusia itu sendiri.
BACA JUGA : KPK Bongkar Tambang Emas Ilegal Dekat Mandalika, Raup Emas 3 Kg per Hari
Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran sangat kecil—kurang dari lima milimeter—yang berasal dari degradasi produk plastik seperti botol, kantong belanja, atau serat pakaian sintetis. Partikel halus ini bisa masuk ke tubuh manusia melalui makanan, air minum, dan udara yang kita hirup setiap hari. Setelah masuk, mikroplastik berpotensi berpindah ke berbagai organ penting dan menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
Penelitian tersebut menganalisis sampel otak, hati, ginjal, tiroid, dan paru-paru dari beberapa individu di Amerika Serikat dan menemukan bahwa otak memiliki konsentrasi mikroplastik 7 hingga 30 kali lebih tinggi dibanding organ lain.
Penelitian menunjukkan bahwa partikel mikroplastik berukuran nano dapat menembus penghalang darah-otak (blood-brain barrier) yang selama ini berfungsi melindungi sistem saraf dari zat berbahaya. Dalam otak manusia yang diteliti pasca kematian, ditemukan mikroplastik dalam jumlah signifikan. Para ilmuwan memperingatkan bahwa partikel ini dapat menyebabkan peradangan saraf, gangguan komunikasi antar neuron, serta stres oksidatif yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
Meskipun penelitian masih berlangsung, temuan ini cukup mengejutkan. Otak yang selama ini dianggap paling terlindungi ternyata juga tidak kebal dari polusi plastik mikro.
Selain itu, penelitian di Italia yang dimuat di The New England Journal of Medicine (NEJM, 2024) menemukan mikroplastik dalam plak arteri pasien penyakit jantung koroner.
Temuan mengejutkan lain datang dari sistem kardiovaskular. Dalam jaringan arteri beberapa pasien penyakit jantung koroner ditemukan adanya partikel mikroplastik yang menempel di dinding pembuluh darah. Keberadaan partikel ini dikhawatirkan mempercepat proses penyumbatan dan pengerasan arteri, meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
Mikroplastik yang masuk melalui aliran darah diduga ikut beredar dan mengendap di lapisan endotel, mengganggu elastisitas pembuluh darah. Peneliti menduga hal ini bisa menjadi salah satu faktor tambahan yang memperburuk penyakit jantung modern.
Organ pernapasan menjadi salah satu jalur utama masuknya mikroplastik. Serat halus dari pakaian sintetis atau partikel debu plastik di udara dapat terhirup setiap hari. Beberapa studi membuktikan, partikel mikroplastik ditemukan pada jaringan paru-paru bagian dalam manusia.
Kondisi ini memicu reaksi inflamasi jangka panjang yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), bahkan meningkatkan risiko kanker paru. Lingkungan perkotaan dengan polusi udara tinggi disebut sebagai area paling rentan, di mana kombinasi debu dan partikel plastik berpotensi memperburuk kualitas udara.
Sebagai organ yang berfungsi menyaring racun dalam tubuh, hati menjadi salah satu tempat akumulasi mikroplastik. Partikel-partikel ini terbawa dari sistem pencernaan ke aliran darah, lalu berakhir di hati. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa mikroplastik dapat mengubah struktur sel hati dan menimbulkan stres oksidatif, yang dalam jangka panjang berpotensi mengganggu metabolisme dan menyebabkan perlemakan hati non-alkoholik.
Selain itu, beberapa penelitian pada hewan percobaan menunjukkan bahwa paparan mikroplastik bisa menurunkan kemampuan hati dalam menetralkan zat berbahaya. Meskipun dampak langsung pada manusia masih perlu dikaji, indikasi ini cukup mengkhawatirkan.
Ginjal berperan penting dalam menyaring limbah dari darah, namun kini organ ini juga ditemukan mengandung partikel mikroplastik. Karena fungsinya sebagai filter alami, ginjal menjadi “perangkap” bagi partikel-partikel asing yang beredar di tubuh. Paparan jangka panjang diduga dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal dan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.
Beberapa ilmuwan bahkan mencatat adanya korelasi antara paparan tinggi mikroplastik dalam urin dengan peningkatan kadar protein dan stres oksidatif pada jaringan ginjal. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa mikroplastik memang mampu menembus sistem ekskresi manusia.
Sebagian besar mikroplastik masuk ke tubuh melalui jalur makanan dan minuman. Penelitian menunjukkan bahwa garam laut, ikan, air minum dalam kemasan, hingga sayuran tertentu mengandung partikel plastik mikro. Ketika tertelan, sebagian besar partikel melewati sistem pencernaan, tetapi sebagian kecil dapat menembus dinding usus dan masuk ke peredaran darah.
Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota usus, menurunkan penyerapan nutrisi, serta memicu inflamasi kronis. Jika dibiarkan, efek ini bisa berdampak pada sistem kekebalan tubuh secara keseluruhan.
Meskipun penelitian masih berlangsung, fakta bahwa mikroplastik telah ditemukan di berbagai organ tubuh manusia menjadi tanda bahaya yang tak bisa diabaikan. Para ahli kesehatan menilai bahwa efek jangka panjang paparan mikroplastik bisa mempengaruhi fungsi organ vital dan mempercepat proses penuaan sel.
BACA JUGA : Pramono Anung Izinkan Lelang Proyek Dilakukan Sejak November Agar Anggaran Tak Menumpuk
Masyarakat diimbau untuk mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilih wadah makanan non-plastik, serta memperhatikan sumber air minum yang lebih aman. Di sisi lain, pemerintah dan industri perlu memperkuat regulasi pengelolaan limbah plastik dan memperbanyak riset terkait dampak mikroplastik terhadap kesehatan publik.
Mikroplastik mungkin terlalu kecil untuk dilihat mata telanjang, namun dampaknya sudah nyata terasa bukan hanya di laut dan sungai, tetapi juga di dalam tubuh manusia. Kesadaran ini diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun lingkungan yang lebih bersih dan generasi yang lebih sehat.