NarayaPost – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memastikan insiden pertama yang mengakibatkan kematian personel Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), disebabkan oleh tembakan tank Israel.
Insiden pertama itu membuat Praka Farizal Rhomadhon gugur akibat ledakan proyektil di dekat salah satu pos Indonesia di Desa Adchit Al Qusayr, Minggu (29/3/2026).
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengungkapkan, berdasarkan bukti yang tersedia, termasuk analisis lokasi dampak, ditemukan pecahan proyektil di posisi PBB yang dikenal sebagai 7-1.
“Proyektil tersebut adalah peluru senjata utama tank 122 milimeter yang ditembakkan oleh tank Merkava pasukan pertahanan Israel,” kata Dujarric, Selasa (7/4/2026).
Untuk mengurangi risiko terhadap personel PBB, lanjut Dujarric, UNIFIL telah memberikan koordinat seluruh posisi dan fasilitasnya kepada Pasukan Pertahanan Israel pada 6 Maret dan 22 Maret.
Sedangkan insiden kedua yang menewaskan Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan pada 30 Maret, disebabkan oleh ledakan yang dipicu alat peledak improvisasi (IED) yang dipasang dengan kawat pemicu, yang kemungkinan besar ditempatkan oleh kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah.
BACA JUGA: Paradoks Laten Penjaga Perdamaian
Ledakan tersebut disebabkan oleh IED yang diaktifkan oleh korban (tripwire).
Menurut Dujarric, insiden yang membuat Mayor Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kopral Farizal Rhomadon gugur, telah disampaikan kepada Pemerintah Indonesia, Lebanon, serta Israel.
Dujarric menegaskan, ini merupakan temuan awal dan berdasarkan bukti fisik awal.
Proses investigasi penuh oleh PBB, termasuk prosedur yang diperlukan serta keterlibatan dengan para pihak terkait untuk memahami konteks dan keadaan secara menyeluruh di tengah situasi permusuhan yang masih berlangsung, masih terus berjalan.
“Dewan Penyelidikan akan dibentuk untuk kedua kasus tersebut, sesuai dengan prosedur yang berlaku di PBB,” ujarnya.
Dujarric kembali menyampaikan belasungkawa terdalam kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur, dan kepada Pemerintah Indonesia.
BACA JUGA: TNI di Lebanon Jadi Korban Lagi, Panglima: Masuk Bunker!
Ia juga berharap seluruh pihak turut mendoakan pemulihan penuh bagi semua yang terluka dalam insiden ini, maupun insiden lainnya.
“Insiden-insiden ini tidak dapat diterima.”
“Kami telah meminta para pihak terkait agar kasus ini diselidiki dan diproses secara hukum oleh otoritas nasional, untuk membawa para pelaku ke pengadilan dan memastikan pertanggungjawaban pidana atas kejahatan terhadap penjaga perdamaian,” tuturnya.
Dujarric menambahkan, serangan terhadap penjaga perdamaian PBB dapat merupakan kejahatan perang berdasarkan hukum internasional.
“Semua pihak harus mematuhi kewajiban mereka untuk menjamin keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian setiap saat.”
“Kekebalan fasilitas PBB harus dihormati,” tegasnya.
Eskalasi antara Israel dan Hizbullah dimulai pada 2 Maret, ketika gerakan Lebanon tersebut kembali melancarkan serangan roket ke wilayah Israel, di tengah serangan militer AS dan Israel melawan Iran.
Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan skala besar ke Lebanon, termasuk ke wilayah selatan negara itu, Lembah Beqaa, dan pinggiran Kota Beirut.
Pada 16 Maret, militer Israel mengumumkan peluncuran operasi darat di Lebanon selatan.
Desak Letakkan Senjata
UNIFIL memperingatkan, baku tembak antara Israel dan Hizbullah yang terus berlangsung, membahayakan pasukan penjaga perdamaian yang beroperasi di Lebanon selatan.
Juru Bicara UNIFIL Kandice Ardiel menyatakan keprihatinannya atas tentara Israel dan pejuang Hizbullah yang terus menerus menembakkan proyektil dan peluru, ke atau di dekat posisi misi PBB tersebut.
Dalam pernyataannya, Minggu (5/4/2026), Ardiel juga mencatat insiden tersebut mengakibatkan sejumlah personel penjaga keamanan gugur dan cedera.
Kedua belah pihak juga telah melakukan serangan dari dekat posisi PBB, yang berpotensi memicu tembakan balasan.
Ardiel mengacu pada keberadaan kombatan di dekat area tempat pasukan penjaga perdamaian tinggal dan bekerja.
“Aksi-aksi ini membahayakan pasukan penjaga perdamaian,” ucapnya.
Ia mengingatkan semua negara tentang kewajiban mereka untuk memastikan keselamatan dan keamanan personel PBB, serta untuk selalu menghormati kekebalan wilayah PBB.
UNIFIL mendesak semua pihak meletakkan senjata dan bekerja serius menuju gencatan senjata, karena tidak ada solusi militer untuk konflik ini.
Misi itu memperingatkan, pertempuran yang berkelanjutan hanya akan menyebabkan lebih banyak kematian dan kehancuran. (*)