NarayaPost – Pemeriksaan polisi terhadap ibu dari anak berhadapan dengan hukum (ABH) yang melakukan peledakan bom di SMA Negeri 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara telah selesai dilakukan.
“Jadi, sudah dilakukan pemeriksaan terhadap ibunya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Senin (8/12/2025).
Namun, Budi tidak menjelaskan lebih jauh mengenai hasil pemeriksaan tersebut, termasuk kapan penyidik menjalankannya. “Ini kan kita juga harus melihat ibunya kondisi bekerja, kita masih melakukan tempo waktu yang tepat,” katanya.
BACA JUGA: Menkeu Purbaya Ungkap Isu Usul MBG Jadi Uang Hoaks
“Makanya nanti kami dalami oleh penyidik pada ibunya,” tambahnya.
Peristiwa ledakan bom di SMAN 72 Jakarta terjadi pada Jumat (7/11). Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, tetapi sebanyak 96 orang mengalami luka, dari ringan hingga berat.
Pelaku membawa tujuh bom yang rencananya akan diledakkan di lingkungan sekolah. Dari jumlah tersebut, empat bom meledak, sementara tiga lainnya berhasil diamankan polisi. Adapun, pelaku diduga telah merencanakan aksi tersebut melalui komunitas di media sosial.
Empat bom yang meledak itu berada di area masjid dan taman baca yang berlokasi dekat bank sampah. Bom di masjid dipicu menggunakan remote oleh pelaku, sedangkan bom yang diledakkan di taman baca dan area sampah pabrik menggunakan sumbu.
Usai kejadian, pelaku mengalami luka parah. Ia sempat mendapat penanganan medis di RS Islam Cempaka Putih sebelum akhirnya dirujuk ke RS Polri untuk perawatan intensif.
Pemeriksaan terhadap ibu pelaku menjadi bagian dari rangkaian penyidikan yang terus dilakukan kepolisian setelah insiden ledakan bom di SMA Negeri 72 Jakarta. Langkah ini menegaskan bahwa aparat masih menelusuri berbagai aspek yang berkaitan dengan motif, persiapan, serta dukungan yang memungkinkan pelaku membawa dan meledakkan beberapa bom di lingkungan sekolah.
Pernyataan Kombes Budi Hermanto yang menyebut bahwa pemeriksaan telah dilakukan, namun belum dapat dipublikasikan lebih jauh, menunjukkan bahwa proses pendalaman masih berlangsung dan membutuhkan waktu agar seluruh informasi dapat dikonfirmasi secara menyeluruh.
Peristiwa yang terjadi pada 7 November lalu meninggalkan dampak signifikan, dengan 96 orang mengalami luka dan area sekolah mengalami kerusakan akibat empat bom yang sempat meledak. Temuan bahwa pelaku membawa total tujuh bom dan berupaya meledakkan semuanya memperlihatkan skala potensi bahaya yang berhasil dicegah oleh aparat ketika tiga bom lainnya diamankan.
BACA JUGA: SEA Games Cabor Sepakbola, Indonesia Keok dari Filipina 1-0
Rincian mengenai lokasi ledakan—di masjid serta taman baca di dekat bank sampah—menegaskan bahwa area yang menjadi sasaran berada di lingkungan yang kerap digunakan oleh warga sekolah.
Kondisi pelaku yang mengalami luka serius dan saat ini menjalani perawatan intensif di RS Polri juga menjadi bagian penting dalam perkembangan penyidikan, karena keterangannya diperlukan untuk mengungkap rangkaian tindakan sebelum dan saat kejadian. Hingga kini, polisi masih melanjutkan pemeriksaan berbagai pihak, termasuk keluarga terdekat pelaku, guna memastikan seluruh fakta dapat terungkap dan proses hukum berjalan sesuai ketentuan.
Melalui pemeriksaan yang terus diperluas, termasuk terhadap ibu pelaku, aparat menegaskan komitmennya untuk menangani kasus ini secara menyeluruh. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memastikan keamanan lingkungan pendidikan, serta mencegah terulangnya kejadian serupa di kemudian hari berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh dari proses penyidikan ini.