Pengangguran Terbuka di Jakarta Diklaim Turun Jadi 6,05 Persen

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jakarta menurun menjadi 6,05 persen, per Agustus 2025.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Jakarta menurun menjadi 6,05 persen, per Agustus 2025.

Penurunan ini didorong oleh penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan yang menyumbang sebesar 23,01 persen, sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 23,01 persen, serta sektor akomodasi dan makanan minuman sebesar 12,67 persen.

“Yang berkaitan dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga turun 6,05 persen sampai dengan Agustus 2025.”

“Lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya,” ujar Pramono dalam acara Press Conference APBD 2025 di Balairung, Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (21/11/2025).

Menurut Pramono, upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyelenggarakan bursa kerja, termasuk untuk disabilitas, turut menyumbang penyerapan tenaga kerja dan mengurangi pengangguran.

Ia pun menilai pertumbuhan positif di sektor ini mempertegas peran Jakarta sebagai kota jasa, sekaligus sebagai hub perdagangan regional.

BACA JUGA: Cara Bikin Kartu Pekerja Jakarta Agar Bisa Naik TransJakarta, MRT, LRT, dan Mikrotrans Gratis

Pemprov DKI Jakarta, lanjut Pramono, berkomitmen terus menggelar bursa kerja dan upskilling disabilitas secara periodik.

Upaya ini turut memberikan ruang bagi penyandang disabilitas, agar bisa mendapatkan kesempatan yang sama untuk bekerja di Jakarta, sehingga pengangguran bisa terus dikurangi.

Jakarta juga mempertahankan posisinya sebagai magnet investasi nasional yang menyumbang 14,24 persen dari total investasi nasional.

Realisasi investasi pada triwulan ketiga 2025 tercatat mencapai Rp204,13 triliun, atau tumbuh 6,4 persen dari tahun sebelumnya.

“Yang juga menggembirakan adalah aktivitas investasi yang menyerap tenaga kerja kurang lebih 338.310 tenaga kerja,” ungkap Pramono.

Untuk menjaga tren positif ini, Pemprov DKI akan melakukan penyederhanaan perizinan, optimalisasi mal pelayanan publik, serta promosi penanaman modal melalui Jakarta Investment Festival dan Jakarta Investment Center.

Pemprov DKI juga akan terus membuka ruang di semua sektor, termasuk sektor olahraga, agar Jakarta berkembang menjadi kota sport tourism.

“Hal itu mulai terlihat ketika kami mengadakan Jakarta International Marathon atau Jakarta Running Festival, dan sekarang semua perusahaan-perusahaan besar meminta privilege untuk bisa mengadakan acara tersebut di Jakarta,” bebernya.

Meski demikian, ia mengaku akan tetap melakukan pembatasan penyelenggaraan maraton, agar acara Jakarta Running Festival maupun Jakarta International Marathon tetap terjaga dengan baik.

Ekonomi Stabil

Pramono juga menyebut kondisi perekonomian Jakarta tumbuh stabil dan menunjukkan pemulihan ekonomi.

Ia memaparkan, pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan ketiga 2025 mencapai 4,96 persen.

Angka ini didukung oleh inflasi yang terkendali sebesar 2,69 persen, di mana lebih rendah dari inflasi nasional, yakni 2,86 persen.

Hal ini menunjukan harga barang dan jasa di Jakarta relatif terkendali, dan stabilitas pasokan terjaga dengan baik.

“Triwulan ketiga 2025, Jakarta tercatat pertumbuhannya 4,96 persen, yang menunjukkan pemulihan dan stabilitas ekonomi kota dengan inflasi yang sangat terjaga,” jelas Pramono.

Kondisi ini menunjukkan adanya kepercayaan dari para pelaku usaha kepada Pemprov DKI Jakarta selama periode ini.

BACA JUGA: Jakarta Usulkan Revitalisasi Kota Tua dan Pembangunan Rumah Sakit di Lahan Sumber Waras Masuk PSN

Menurut Pramono, stabilitas ini juga menjadi fondasi dasar untuk terus menjalankan berbagai program prioritas.

Selain pertumbuhan, realisasi APBD hingga 20 November 2025 juga menunjukkan tren positif, di mana APBD DKI tercatat sebesar Rp91,86 triliun.

Pendapatan daerah mengalami kenaikan dari Rp62,39 triliun pada Oktober, menjadi Rp68,53 triliun pada November.

Belanja daerah meningkat dari Rp47,96 triliun menjadi Rp51,98 triliun, atau 60,46 persen dari target Rp85,97 triliun.

Sedangkan pembiayaan daerah tercatat Rp3,64 triliun, SiLPA naik dari Rp18,08 triliun menjadi Rp20,09 triliun pada 20 Oktober 2025.

Pramono optimistis, terjadi peningkatan realisasi belanja akhir tahun, mengingat masih ada 21.631 paket pengadaan barang dan jasa yang telah dilaksanakan, serta proses tender oleh Pokja BPPBJ telah mencapai 95,34 persen.

Juga terdapat surplus anggaran sebesar Rp14,43 triliun.

“Peningkatan realisasi belanja di akhir tahun ini dapat dipastikan,” kata Pramono.

Pramono juga memastikan Jakarta tetap menjadi pusat aktivitas ekonomi nasional, di mana Jakarta telah memberikan kontribusi 16,39 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

“Terutama ditopang, yang paling utama adalah sektor jasa, transportasi, dan akomodasi,” terangnya.

Selain itu, Bank Indonesia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jakarta tahun ini tumbuh antara 4,6 hingga 5,4 persen. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like