Pengguna QRIS Capai 60 Juta, Berlaku di Malaysia dan Jepang

Pembayaran secara online atau melalui QRIS kini mulai banyak digunakan oleh masyarakat. Bahkan, sampai bisa dipakai di Malaysia-Jepang.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kian meluas dalam beberapa tahun terakhir. Bank Indonesia (BI) mencatat, sistem pembayaran digital tersebut kini telah digunakan hampir 60 juta orang. Tak hanya berlaku di dalam negeri, pengguna QRIS juga sudah dapat digunakan di sejumlah negara, menandai babak baru integrasi sistem pembayaran Indonesia dengan kawasan dan global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengisahkan, lahirnya QRIS berawal dari gagasan besar untuk mempermudah transaksi keuangan melalui pemanfaatan teknologi digital. Ide tersebut muncul pada 2019, sekitar 10 bulan sebelum pandemi COVID-19 melanda Indonesia—masa ketika sistem pembayaran digital belum sepopuler sekarang.

“Di tahun 2019, kita 10 bulan sebelum COVID. Belum ada (pembayaran) digital di Indonesia. Ingat nggak? Nggak ada QRIS, adanya Krisdayanti (penyanyi),” ujar Perry di Kantor Bank Indonesia, Senin (23/2), berseloroh menggambarkan situasi saat itu.

BACA JUGA: Purbaya : Penerima LPDP Hina Indonesia Wajib Kembalikan Semua Dana!

BI Susun Langkah Konkret Bangun Ekosistem Pembayaran Digital

Berangkat dari visi tersebut, BI kemudian menyusun langkah konkret untuk membangun ekosistem pembayaran digital yang terintegrasi. Pada 2019, bank sentral meluncurkan Cetak Biru Sistem Pembayaran Indonesia 2019–2025 sebagai fondasi transformasi digital di sektor keuangan. Dokumen strategis itu menjadi pedoman dalam menyatukan berbagai inisiatif pembayaran elektronik yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.

Puncaknya, pada 17 Agustus 2019, BI mendeklarasikan QR Indonesia Standard atau QRIS sebagai standar tunggal pembayaran berbasis kode QR di Tanah Air. Momentum tersebut dipilih bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai simbol kedaulatan sistem pembayaran nasional di era digital.

“Salah satunya 17 Agustus 2019, kita memproklamirkan satu bahasa pelayanan digital pembayaran. Namanya QR Indonesian Standard. Namanya QRIS, dibacanya kris, bukan kyu-ris,” ungkap Perry.

Ada Puluhan Jenis Kode Pengguna QRIS

Sebelum QRIS diberlakukan, terdapat sekitar 13 hingga 14 jenis kode QR pembayaran yang digunakan oleh berbagai penyelenggara jasa sistem pembayaran. Kondisi ini membuat konsumen dan pelaku usaha harus menyesuaikan diri dengan beragam aplikasi dan sistem. Melalui standardisasi QRIS, seluruh kode tersebut disatukan dalam satu standar nasional, sehingga transaksi menjadi lebih sederhana, efisien, dan inklusif.

Kini, hasil dari proses panjang tersebut mulai terlihat nyata. “Dan sekarang berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS,” kata Perry. Angka tersebut mencerminkan percepatan adopsi pembayaran digital di masyarakat, terutama sejak pandemi mendorong perubahan perilaku transaksi ke arah non-tunai.

Keberhasilan QRIS Bagian Mimpi yang Menjadi Visi

Menurut Perry, keberhasilan QRIS merupakan perjalanan dari mimpi yang dirumuskan menjadi visi, lalu diterjemahkan dalam aksi nyata melalui kolaborasi berbagai pihak. “Yes, that from the dream, to be vision, to be action. And end up to be reality. Itu lah mimpi yang menjadi visi, aksi, dengan sinergi, kolaborasi akhirnya membuat reality,” tuturnya.

BACA JUGA: RUU Pemilu Akan Segera Dibahas, Siapa Saja yang Diundang?

Saat ini, penggunaan QRIS tidak hanya terbatas di Indonesia. Sistem tersebut telah terhubung dengan sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Ke depan, BI menargetkan perluasan kerja sama dengan negara lain, antara lain China, Korea Selatan, India, hingga Arab Saudi, guna mempermudah transaksi lintas batas bagi wisatawan dan pelaku usaha.

Selain QRIS, BI juga memperkuat infrastruktur pembayaran melalui BI-FAST, yang merupakan pengembangan dari SKNBI dan GPN. Sistem ini memungkinkan transfer dana secara real time dengan biaya lebih efisien. Hingga kini, riwayat penggunaan BI-FAST tercatat mencapai 1,8 triliun transaksi.

Pengembangan QRIS dan BI-FAST turut didukung oleh Standard National Open API (SNAP) serta integrasi layanan perbankan digital. Bagi Perry, seluruh capaian tersebut merupakan warisan transformasi sistem pembayaran nasional yang berangkat dari mimpi besar, lalu diwujudkan melalui visi, aksi, dan kolaborasi berkelanjutan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like