NarayaPost – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) alias Pentagon, menyetujui pengiriman rudal Tomahawk jarak jauh untuk Ukraina.
Menurut beberapa pejabat AS dan Eropa, dukungan tersebut dipastikan tidak akan mempengaruhi persediaan AS.
Namun, keputusan terakhir tetap berada di tangan Presiden AS Donald Trump.
CNN pada Jumat melaporkan, penilaian Pentagon disampaikan kepada Gedung Putih awal bulan ini, tak lama sebelum Trump bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di Washington.
Ukraina meminta rudal tersebut untuk menyerang target energi dan infrastruktur di Rusia.
Penilaian Pentagon mendapatkan sambutan positif dari beberapa sekutu Eropa, yang mengatakan hal itu menghilangkan kekhawatiran tentang ketersediaan rudal.
BACA JUGA: Israel Serang Gaza Lagi, AS Bilang Gencatan Senjata Masih Berlaku
Rencana telah disusun untuk memasok sistem dengan cepat jika presiden mengizinkan pengirimannya.
Saat makan siang kerja dengan Zelenskyy di Gedung Putih, Trump mengatakan AS membutuhkan rudal Tomahawk, dan tidak ingin memberikannya.
Menurut CNN, posisi Trump berubah setelah berkomunikasi lewat telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang mengatakan rudal Tomahawk dapat mencapai kota-kota Rusia, termasuk Moskow dan St Petersburg, dan akan berdampak negatif pada hubungan bilateral.
Sebelumnya, Zelenskyy mengatakan Ukraina menargetkan memperkuat kemampuan serangan jarak jauhnya pada akhir tahun ini.
“Sanksi global dan ketepatan serangan kami yang terarah, kini praktis selaras untuk mengakhiri perang ini dengan syarat yang adil bagi Ukraina,” ujarnya.
Putin dan Pemerintah Rusia berulang kali memperingatkan, pengiriman rudal Tomahawk AS ke Kiev dapat menyebabkan eskalasi serius.
Sistem Tomahawk memiliki jangkauan sekitar 1.600 kilometer, dan biasanya diluncurkan dari kapal atau kapal selam.
Para pejabat pertahanan AS mengatakan beberapa masalah operasional, termasuk pelatihan dan metode pengerahan, yang saat ini sedang ditinjau.
Tidak Niat
Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam pertemuan sebelumnya, Washington tidak berniat mengirimkan rudal Tomahawk ke Kiev.
Setelah Zelenskyy mendesak keras terkait Tomahawk, Trump tetap menolak dan tetap pada pendiriannya.
Trump mengatakan ia tidak berencana memberikan Tomahawk kepada Ukraina, setidaknya untuk saat ini.
Salah satu sumber mengatakan pertemuan itu tidak mudah, dan Trump bersikap keras.
Sumber lainnya mengatakan pertemuan tersebut berjalan buruk, dan Trump memberikan beberapa pernyataan keras selama pertemuan kepada Zelenskyy, dan di beberapa titik keadaan menjadi sedikit emosional.
Dalam unggahan di Truth Social setelah pertemuan dengan Zelenskyy, Trump mengatakan Rusia dan Ukraina sebaiknya berhenti berperang dengan posisi saat ini, keduanya dapat mengeklaim kemenangan dan membiarkan sejarah yang menentukan.
BACA JUGA: TNI Siapkan Satgas Gabungan untuk Jaga Perdamaian di Gaza
Trump juga mengatakan tidak tahu apakah kemungkinan pemberian rudal Tomahawk kepada Ukraina mendorong Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengadakan perundingan baru, tetapi menekankan Putin tampaknya berfokus mencapai kesepakatan damai.
Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Trump melakukan panggilan telepon dan sepakat untuk bertemu di Budapest.
Trump adalah orang pertama yang mengusulkan Budapest sebagai lokasi potensial untuk pertemuan puncak Rusia-AS, dan Putin mendukung gagasan tersebut, menurut ajudan presiden Rusia Yury Ushakov.
Donald Trump mempertimbangkan mengirim rudal Tomahawk dengan jumlah terbatas ke Ukraina, untuk menekan Rusia jika Moskow tetap tidak ingin merundingkan perdamaian.
Trump berencana memasok rudal Tomahawk, dengan jumlah terbatas, sebagai bentuk tekanan agar Presiden Rusia Vladimir Putin bersedia melakukan perundingan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Namun, jika Kremlin menolak dan perundingan tersebut tidak terlaksana, pasokan tambahan akan disalurkan.
Pada 5 Oktober, utusan khusus Trump untuk Ukraina Keith Kellogg mengatakan, Presiden AS masih menimbang apakan akan membolehkan Ukraina memiliki rudal jarak jauh Tomahawk.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan, Washington mempertimbangkan permintaan Kiev akan Tomahawk tersebut.
Sebelumnya pada 2 Oktober, Putin memperingatkan langkah tersebut akan merusak hubungan Rusia-AS, karena penggunaan Tomahawk tanpa keterlibatan langsung militer AS adalah hal yang tidak mungkin. (*)