NarayaPost – Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung meminta jajarannya mengkaji kemungkinan perluasan cakupan asuransi kesehatan agar mencakup perawatan rambut rontok. Ia menilai kebotakan bukan sekadar persoalan kosmetik, melainkan telah menjadi isu yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup, khususnya bagi generasi muda.
Mengutip The Guardian, Sabtu (20/12), gagasan tersebut disampaikan dalam pengarahan kebijakan pada Selasa (16/12). Apabila direalisasikan, skema asuransi kesehatan nasional akan diperluas melampaui layanan medis terbatas yang saat ini hanya mencakup jenis-jenis kerontokan tertentu. Namun, rencana itu langsung menuai kritik dari kalangan profesional kesehatan dan kelompok konservatif.
Korea Selatan menerapkan sistem asuransi kesehatan universal yang dibiayai melalui premi berbasis pendapatan. Saat ini, perlindungan asuransi hanya diberikan untuk kerontokan rambut yang disebabkan kondisi medis, seperti alopecia areata penyakit autoimun yang menyerang folikel rambut dan memicu kebotakan. Sementara itu, sebagian besar perawatan untuk kebotakan pria pada umumnya masih belum masuk dalam cakupan.
BACA JUGA: 127 Gunung Berapi di Indonesia Aktif, Ini Penjelasan BMKG
“Mungkin ada kaum muda yang berpikir bahwa tidak adil mereka membayar premi asuransi dan tidak menerima manfaat,” kata Lee dalam pernyataannya.
Lee juga menyoroti meningkatnya rasa keterasingan di kalangan pria muda akibat persoalan tersebut, yang menurutnya kian serius.
Usulan ini sebenarnya bukan hal baru. Lee pertama kali mengangkat ide tersebut saat kampanye pilpres 2022, meski kemudian dikeluarkan dari agenda kampanye pemilu yang mengantarkannya menang pada tahun ini.
Proposal tersebut sekaligus menegaskan kuatnya budaya penekanan pada penampilan fisik di Korea Selatan. Dalam survei terhadap anak muda pada 2024, sebanyak 98% responden meyakini bahwa individu dengan penampilan menarik memperoleh keuntungan sosial.
Tekanan budaya ini selama ini lebih banyak dialami perempuan, dengan tuntutan ketat terkait riasan, perawatan kulit, dan bentuk tubuh. Adapun pada laki-laki, isu tersebut jarang dibahas terbuka, meski tidak sedikit yang menyiasati garis rambut menipis dengan memanjangkan poni atau menjalani perawatan berbiaya tinggi.
Nilai pasar perawatan rambut rontok di Korea Selatan diperkirakan mencapai sekitar 188 miliar won pada 2024. Pelaku industri mengklaim sekitar 10 juta dari total populasi lebih dari 51 juta orang mengalami kerontokan rambut, meski angka tersebut belum pernah diverifikasi secara resmi.
Produk sampo anti-rontok pun banyak diminati, meskipun dalam beberapa tahun terakhir sejumlah merek menuai kritik karena klaim efektivitas yang dipertanyakan.
Waktu pengajuan proposal ini dinilai sensitif, mengingat sistem asuransi kesehatan nasional tengah menghadapi tekanan keuangan. Proyeksi internal terbaru menunjukkan potensi defisit hingga 4,1 triliun won pada 2026.
Sejumlah pakar medis bersikap skeptis terhadap rencana tersebut. Asosiasi Kesehatan Korea menilai bahwa alokasi dana asuransi seharusnya lebih difokuskan pada perawatan kanker dan penyakit serius lainnya, yang dinilai lebih sejalan dengan prinsip dasar asuransi kesehatan. Media konservatif seperti Chosun Ilbo juga mengkritik, dengan menyebut kebijakan ini tidak semestinya diinstruksikan secara mendadak oleh presiden tanpa terlebih dahulu menghimpun pandangan masyarakat pembayar premi.
Menteri Kesehatan Jeong Eun Kyeong merespons dengan sikap berhati-hati. Ia menyebut proposal Lee berkaitan dengan kepercayaan diri generasi muda saat mencari pekerjaan serta dampaknya terhadap kesehatan mental. Mantan anggota parlemen konservatif Yoon Hee-sook juga menyampaikan empatinya kepada anak muda yang mengalami stres akibat kerontokan rambut.
BACA JUGA: Korban Banjir Sumatera Bisa Bangun Rumah Pakai Kayu Hanyut
“Meski demikian, memprioritaskan perawatan yang berhubungan langsung dengan kehidupan dan fungsi tubuh mewakili konsensus sosial saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, anggota parlemen dari partai berkuasa, Park Joo-min, menyatakan dukungannya melalui unggahan di X dengan menulis, “Benar-benar Korea!” Ia dikenal terbuka membahas pengalaman transplantasi rambutnya dan aktif mengadvokasi isu kerontokan rambut.
Di luar isu tersebut, pada Jumat (19/12) Lee juga memerintahkan komisi perdagangan untuk menyelidiki harga pembalut menstruasi. Ia mengklaim harga produk tersebut 39% lebih mahal dibandingkan negara lain, yang diduga berkaitan dengan praktik monopoli.