NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkaji perluasan armada nuklir negaranya, setelah perjanjian pengendalian senjata nuklir dengan Rusia berakhir.
The New York Times, Senin (9/2/2026) melaporkan, Trump juga ingin melakukan uji coba senjata nuklir di bawah tanah.
Mengutip sejumlah pejabat senior AS, laporan itu menyebutkan AS tengah meninjau beberapa opsi untuk menempatkan senjata nuklir tambahan, dan menyiapkan kemungkinan dimulainya kembali uji coba nuklir.
Langkah tersebut menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam kebijakan AS, yang selama puluhan tahun membatasi dan mengurangi jumlah hulu ledak nuklir yang disiagakan.
Pada 5 Februari 2026, perjanjian New START antara AS dan Rusia berakhir.
Kesepakatan itu membatasi jumlah hulu ledak strategis yang boleh dikerahkan kedua negara, maksimal 1.550 unit.
BACA JUGA: Trump Ingin Perjanjian Baru Soal Nuklir, Minta Cina Ikut
Trump menolak perpanjangan informal yang diusulkan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Pada hari yang sama, Trump mengatakan AS seharusnya mengupayakan perjanjian baru yang lebih baik dan modern, daripada memperpanjang New START dengan Rusia.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Thomas DiNanno yang membidangi pengendalian senjata dan keamanan internasional, mengatakan dalam forum perlucutan senjata di Jenewa, New START telah memberlakukan pembatasan sepihak terhadap AS, dan menegaskan AS kini bebas memperkuat kemampuan nuklirnya.
Opsi lain yang sedang dipertimbangkan Trump adalah memaksimalkan kapasitas nuklir yang ada, dan mengaktifkan kembali hulu ledak nuklir cadangan yang selama ini disimpan.
Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah mengaktifkan kembali tabung peluncur rudal di kapal selam kelas Ohio milik Angkatan Laut AS, yang sebelumnya dibatasi oleh perjanjian.
Langkah itu memungkinkan AS menyiagakan rudal balistik kapal selam.
Beberapa pakar menilai kebijakan itu bertujuan menekan Rusia dan Cina, agar bersedia bernegosiasi dalam perjanjian baru untuk pengendalian senjata.
Pakar lain memperingatkan langkah AS itu bisa memicu perlombaan persenjataan yang lebih luas.
Trump menyerukan dimulainya kembali uji coba nuklir yang disebutnya setara dengan yang dilakukan Rusia dan Cina.
DiNanno bahkan menduga kedua negara itu telah melakukan uji coba nuklir berskala kecil yang sulit terdeteksi.
Hubungan Membaik
Dubes Rusia untuk AS Alexander Darchiev mengatakan, hubungan Rusia-AS tidak berkembang cukup cepat, tetapi kontak dengan otoritas AS tengah berlangsung dan akan terus dilanjutkan.
“Hubungan bilateral tengah berkembang.”
“Hal itu tak bisa dikatakan terjadi dengan cepat.”
“Kami berharap ini terjadi lebih cepat.”
“Namun, kami sedang berupaya, bekerja terus-menerus.”
“Kontak terus berlanjut,” kata Darchiev kepada RIA Novosti.
Pemimpin kedua negara, lanjut Darchiev, berkomitmen memulihkan hubungan bilateral setidaknya ke keadaan normal.
“Kami telah mengupayakan hal itu, sedang melakukannya, dan akan terus melakukannya,” ucap diplomat Rusia itu.
Menurut Darchiev, upaya mempertahankan hubungan, setidaknya pada tingkat saat ini, dan mencegah kemunduran, adalah dengan menjalin kontak secara terus menerus.
“Di tingkat tertinggi, di tingkat kedutaan dan Kementerian Luar Negeri, kontak terus berlanjut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kontak dengan perwakilan Departemen Luar Negeri (Deplu) AS diharapkan akan terus terjalin.
Perwakilan Deplu AS, serta Gedung Putih dan Kongres, menghadiri resepsi yang diadakan di Kedutaan Besar Rusia untuk memperingati Hari Pekerja Diplomatik.
BACA JUGA: Perjanjian Pembatasan Nuklir Berakhir, AS-Rusia Harus Berunding
“Hal ini sendiri merupakan bukti, meskipun perlahan, hubungan sedang membaik,” cetus Darchiev.
Meskipun ada beberapa faktor negatif dalam hubungan antara kedua negara, tren secara keseluruhan cukup positif.
Darchiev mengatakan, hubungan Rusia-AS yang buruk di masa lalu menghambat upaya menggelar pertemuan puncak bersejarah antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di Alaska tahun lalu.
Namun, lanjut Darchiev, kedua negara mampu mencapai kesepakatan dalam pertemuan itu, berdasarkan rasa saling menghormati.
“Masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk mengatasi warisan buruk (toxic legacy) tersebut,” imbuhnya.
Pada 15 Agustus 2025, Putin dan Trump melakukan perundingan di Alaska dan membahas cara-cara menyelesaikan konflik Rusia-Ukraina.
Kedua pemimpin berbicara tentang pertemuan itu dengan nada positif.
Setelah pertemuan puncak tersebut, Putin mengatakan konflik di Ukraina bisa diselesaikan.
Ia menekankan kepentingan Rusia dalam penyelesaian jangka panjang. (*)