Permintaan Emas Logam Mulia di RI Naik hingga 29 Persen

Logam Mulia Antam Denominasi 5gr.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Pola konsumsi emas masyarakat Indonesia mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya emas perhiasan menjadi pilihan utama, kini minat konsumen semakin condong ke emas batangan atau logam mulia. Tren permintaan emas ini tercermin dalam laporan terbaru World Gold Council (WGC) yang mencatat lonjakan permintaan emas batangan domestik sebesar 29 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada 2025. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya persepsi masyarakat terhadap emas sebagai instrumen investasi sekaligus aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Secara rinci, WGC mencatat permintaan emas batangan di Indonesia meningkat dari 24,5 ton pada 2024 menjadi 31,6 ton pada 2025. Angka ini menunjukkan perubahan preferensi konsumen yang semakin memandang emas bukan sekadar simbol status atau kebutuhan perhiasan, melainkan sebagai sarana menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu, ditambah tekanan inflasi dan volatilitas pasar keuangan, turut memperkuat daya tarik emas sebagai aset safe haven.

Permintaan Emas RI Terus Naik

Senior Research Lead, APAC, World Gold Council, Marisa Salim menjelaskan bahwa lonjakan permintaan emas batangan di Indonesia terjadi meskipun kondisi ekonomi global tengah dibayangi berbagai risiko. “Saat ini permintaan naik 29 persen terlepas dari ketidakpastian ekonomi dan pelemahan mata uang yang terjadi. Hal ini karena emas dianggap sebagai instrumen yang aman atau safe haven dan juga menjadi cara untuk mempertahankan kekayaan,” ujarnya dalam media briefing World Gold Council di JW Marriott, Jakarta, Rabu (4/2).

BACA JUGA: Industri Genteng Diyakini Bisa Majukan UMKM, Ini Langkah Pemerintah

Di sisi lain, permintaan emas perhiasan justru menunjukkan tren penurunan. Marisa menegaskan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan merupakan tren global. Pada 2025, konsumsi emas perhiasan dunia tercatat turun cukup tajam sebesar 18 persen, dari 1.886,9 ton menjadi 1.542,3 ton. Penurunan ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan dana untuk barang konsumtif bernilai tinggi.

Sejalan dengan itu, preferensi konsumen terhadap perhiasan emas juga mengalami penyesuaian. Marisa menjelaskan bahwa pembeli kini cenderung memilih perhiasan dengan kadar karat lebih rendah, misalnya di bawah 14 karat. Alasannya, jenis perhiasan tersebut lebih terjangkau dari sisi harga dan relatif mudah diperoleh di pasaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa emas perhiasan masih diminati, tetapi lebih sebagai produk fesyen dengan nilai ekonomis yang disesuaikan dengan daya beli masyarakat.

Perubahan Tren Pengaruhi Strategi Produsen Emas Global

Perubahan tren permintaan ini turut memengaruhi strategi produsen emas global. Menurut Marisa, kapasitas produksi kini semakin diarahkan ke emas batangan guna mengikuti pergeseran pasar yang lebih berorientasi pada investasi. Produsen menilai permintaan emas batangan memiliki prospek lebih stabil di tengah fluktuasi ekonomi global.

Sementara itu, Head of Asia Pacific (Ex-China) and Global Head of Central Bank World Gold Council, Shaokai Fan, mengungkapkan bahwa secara keseluruhan permintaan emas konsumen di Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan. Pada 2025, total permintaan emas konsumen Indonesia meningkat 2 persen secara yoy, dari 47,3 ton menjadi 48,2 ton. Persentase kenaikan ini memang lebih rendah dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya, namun secara volume tetap tergolong besar.

BACA JUGA: Trump Tak Berniat Serang Iran, Israel yang Ngebet

Permintaan Emas di ASEAN Juga Besar

Di kawasan ASEAN, Malaysia mencatat peningkatan permintaan emas konsumen sebesar 11 persen menjadi 21,1 ton, Singapura naik 17 persen menjadi 15,6 ton, dan Thailand melonjak 21 persen menjadi 59,2 ton. Sebaliknya, Vietnam justru mengalami penurunan permintaan sebesar 15 persen menjadi 46,7 ton.

Shaokai menilai 2025 sebagai tonggak penting bagi pasar emas global. Pada tahun tersebut, harga emas mencetak 53 rekor tertinggi dengan rata-rata kenaikan mencapai 44 persen hingga menembus USD 3.431 per ons. Seiring itu, total permintaan emas dunia untuk pertama kalinya melampaui 5.000 ton dengan nilai transaksi mencapai USD 555 miliar atau naik sekitar 45 persen secara tahunan.

Menurut Shaokai, perkembangan ini menandai perubahan peran emas. Jika sebelumnya emas lebih banyak diposisikan sebagai alat lindung nilai saat krisis, kini emas telah menjadi bagian dari strategi investasi portofolio jangka panjang. “Peran emas sudah berkembang menjadi instrumen investasi yang direncanakan secara matang dalam portofolio,” ujarnya. Ia pun memperkirakan permintaan emas akan terus meningkat ke depan, meski enggan memberikan proyeksi harga emas untuk 2026.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like