NarayaPost, Jakarta – Aktivis Human Rights Working Group (HRWG) Ardhi Rosyadi menilai, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka gagal paham menyoroti isu utama Palestina, yakni kejahatan internasional yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Sejak oktober 2023, lebih dari 40 ribu warga Palestina di Gaza, tewas akibat agresi Israel.
Meneuruit Ardhi, politik luar negeri Indoneisa tidak menyinggung aspek keadilan bagi pelaku kejahatan perang, dan gagal mendorong akuntabilitas internasional.
“Indonesia justru menyoroti solusi dua negara, tanpa menekan isu kejahatan internasional yang sedang berlangsung,” kata Ardhi dalam Diskusi Hukum dan HAM Refleksi 1 Tahun Prabowo-Gibran: Bangkitnya Hantu Orde Baru, Bagaimana Masa Depan HAM, yang digelar oleh Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI), di Sadjoe Cafe, Jakarta Selatan, Minggu (19/10/2025).
Isu rencana relokasi pengunsgi Gaza ke negara ketiga, termasuk Indonesia, lanjut Ardhi, berpotensi mengalihkan fokus dari akar persoalan kolonialisme dan kejahatan kemanusiaan.
“Sikap ini membuat posisi Indonesia terkesan selaras dengan narasi Amerika Serikat yang kerap melindungi Israel,” imbuhnya.
Tekad Puluhan Tahun
Presiden RI Prabowo Subianto mengapresiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas, yang disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza di Sharm El-Sheikh, Mesir.
“Saya kira ini awalan yang baik, intinya itu ya.”
“Jadi, kita datang untuk menyatakan dukungan dan memberi support, yang penting gencatan senjata sudah berjalan, kemudian segera pasukan Israel akan ditarik.”
“Indonesia tentunya selalu diajak untuk ikut mendukung proses besar ini.”
“Memang ini tekad kita sebagai bangsa,” katanya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (14/10/2025), dilihat dari YouTube Sekretariat Presiden.
Indonesia, lanjut Prabowo, hadir di forum tersebut untuk mendukung penuh upaya perdamaian dan penghentian kekerasan di Gaza.
BACA JUGA: Donald Trump Puji Prabowo Subianto: Sosok Luar Biasa dari Indonesia
Selain penarikan pasukan Israel dan penyelesaian isu kemanusiaan, kata Prabowo, kesepakatan lain termasuk pembebasan para sandera.
“Tentunya sesuai tahapan-tahapan, sandera-sandera sudah dilepas, masih ada beberapa yang mungkin yang jenazahnya yang belum ketemu,” imbuhnya.
Menurut Prabowo, dukungan terhadap Palestina merupakan komitmen moral dan politik yang telah menjadi bagian dari jati diri bangsa Indonesia.
“Tekad saya, puluhan tahun saya membela Palestina, puluhan tahun sejak saya masih muda, kita terus-menerus mendukung kemerdekaan Palestina, rakyat Palestina,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebagai sosok luar biasa.
Pujian itu dilontarkan Trump di ruang konferensi International Congress Centre, Sharm El-Sheikh, Mesir, Senin (13/10/2025) waktu setempat.
Di sana, para pemimpin dunia berkumpul untuk menyaksikan penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang panjang di Gaza, Palestina.
Usai penandatanganan, Donald Trump memberikan keterangan pers di hadapan awak media internasional.
Dengan gaya khasnya, Trump mengapresiasi sejumlah pemimpin dunia yang hadir dan berperan dalam terwujudnya kesepakatan damai tersebut.
“Bersama dengan kita adalah Presiden Prabowo, sosok luar biasa dari Indonesia,” puji Trump, sembari menoleh ke arah Prabowo, yang berdiri di antara para pemimpin negara lain, dikutip dari laman presidenri.go.id, Selasa (14/10/2025).
BACA JUGA: Trump Tandatangani Deklarasi Perdamaian Gaza
Kedua kepala negara lantas melangkah mendekat dan berjabat tangan.
Pernyataan Trump tersebut menggambarkan pengakuan dan penghargaan terhadap peran penting Indonesia dalam diplomasi perdamaian kawasan.
Sebagai salah satu negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, kehadiran Indonesia dalam KTT Perdamaian Sharm El-Sheikh mencerminkan komitmen dan konsistensi untuk terus mendorong stabilitas, kemanusiaan, dan keadilan global.
Dalam bagian lain pidatonya, Trump kembali menyinggung Indonesia dengan nada penuh penghargaan.
“Indonesia sudah kita bahas.”
“Saya hanya ingin mengatakan itu adalah negara besar, negara yang kuat, dan kinerjanya sangat luar biasa,” ujar Trump.