NarayaPost – Presiden Prabowo Subianto menyatakan siap keluar dari keanggotaan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP), bila organisasi besutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu tidak dapat mewujudkan cita-cita Palestina merdeka.
“Beliau (presiden) memberi respons, kami masuk di BoP itu bisa tidak ikut (keputusan BoP), ketika itu tidak sesuai dengan pendapat kita.”
“Yang kedua, kalau memang tidak bisa melakukan perubahan, Beliau (Prabowo) siap keluar dari BoP.”
“Itu yang saya tangkap begitu,” ungkap Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia KH Cholil Nafis, usai dialog presiden dengan para ulama di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/1/2026).
Dalam pertemuan antara Prabowo dengan perwakilan ormas Islam dan sejumlah tokoh muslim, yang jumlahnya sekitar 40 orang, Prabowo menjelaskan alasan Indonesia bergabung dalam keanggotaan BoP.
Dalam sesi itu, dia juga menerima pertanyaan dan masukan-masukan dari beberapa ulama dan kiai.
BACA JUGA: Iuran Rp17 Triliun Dewan Perdamaian, Cuan Bunuh Kemanusiaan
Kiai Cholil, yang ikut dalam pertemuan itu, menyampaikan langsung kepada Prabowo sikap skeptisnya terhadap BoP.
Cholil juga menyampaikan harapannya, jangan sampai pasukan perdamaian Indonesia yang nantinya ditugaskan ke Gaza, justru melawan rakyat Palestina yang memperjuangkan kemerdekaannya.
“Kami tidak ingin hanya damai semu, sementara mereka (rakyat Palestina) terjajah.”
“Kami ingin (rakyat Palestina) damai dan merdeka,” kata Cholil Nafis menjelaskan kembali sikap MUI terkait BoP kepada Prabowo.
Prabowo, merespons masukan-masukan dan komentar dari MUI, kemudian menegaskan Indonesia tidak ragu keluar dari BoP.
“Kata Pak Presiden, ketika kebijakan (BoP) itu kemudian ada langkah yang tidak sesuai, kami (Indonesia) akan abstain dan absen.”
“Kemudian, ketika memang itu tidak cocok, dan (Indonesia) tidak bisa melakukan apa-apa, beliau (Presiden Prabowo) siap keluar dari BoP itu,” ungkap Cholil Nafis menirukan pernyataan Prabowo.
Terpisah, Menteri Luar Negeri Sugiono membenarkan sikap Prabowo yang membuka opsi keluar dari BoP, jika lembaga tersebut tidak sesuai dengan arah yang dikehendaki Indonesia.
“Ya, kalau memang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan: Pertama, situasi damai di Gaza, sekarang pada khususnya; Kemudian, situasi damai di Palestina, pada umumnya, dan akhirnya nanti adalah kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.”
“Saya kira itu trajectory yang ingin kita capai, yang kita lihat.”
“Saya kira koridor-koridornya ada di situ,” tutur Sugiono.
Tak Ada Perdebatan
Tak ada perdebatan antara ormas-ormas Islam dengan Prabowo, saat sesi dialog khusus membahas BoP.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji yang juga tokoh senior Muhammadiyah Muhadjir Effendy, menilai penjelasan Prabowo mengenai Dewan Perdamaian sangat jelas.
“Saya kira 100 persen para pemuka agama sangat memahami yang Beliau lakukan,” ujr Muhadjir.
Muhadjir menjelaskan, ada empat perwakilan dari kelompok ormas dan tokoh-tokoh Muslim Indonesia yang kemudian menyampaikan aspirasi, masukan, kritik, dan penilaiannya langsung kepada Prabowo, mengenai keanggotaan Indonesia dalam BoP.
Dalam sesi dialog tersebut, Muhadjir menilai tidak ada perdebatan.
“Enggak ada, enggak ada (perdebatan).”
BACA JUGA: MUI: Dewan Perdamaian Bentuk Nyata Neokolonialisme
“Memang ada yang mempertanyakan, dan justru dengan pertanyaan itu Beliau bisa menjelaskan semakin clear ya,” beber Muhadjir.
Muhadjir meyakini, tokoh-tokoh ormas Islam yang mengikuti pertemuan, sepakat dengan pilihan Prabowo menjadikan Indonesia anggota BoP.
“Sepanjang yang saya pahami begitu.”
“Bahkan, (mereka) memberikan masukan-masukan, termasuk penguatan kepada Pak Presiden, bagaimana ke depan Beliau bisa betul-betul membawa aspirasi dari Bangsa Indonesia.”
“Terutama tetap berpegang teguh kepada Pembukaan Undang-undang Dasar 45, kemerdekaan itu hak semua bangsa.”
“Itu yang menjadi concern Beliau,” imbuh Muhadjir.
Terpisah, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar memahami komitmen Prabowo yang ingin memperjuangkan kemerdekaan rakyat Palestina melalui BoP.
Oleh karena itu, Anwar menegaskan MUI mendukung pilihan Prabowo menjadikan Indonesia masuk dalam keanggotaan BoP, manakala tujuannya untuk kemaslahatan umat.
“Sepanjang untuk kemaslahatan, tentu saja, karena MUI ini berjuang untuk kemaslahatan umat, untuk kemaslahatan bangsa, untuk kemaslahatan kemanusiaan.”
“Yang kita dengar tadi (dari Prabowo) adalah komitmen untuk kemaslahatan itu.”
“Nah, sepanjang komitmen untuk kemaslahatan, kenapa tidak?”
“Kan ada janji (dari Presiden,) kalau memang tidak bermaslahat akan keluar,” papar Anwar. (*)