Cuaca Jakarta Terik, Pramono Anung: Yang Penting Hatinya Enggak Panas

Pemprov DKI Jakarta mengklarifikasi jumlah penduduk resmi DKI Jakarta saat ini berada di kisaran 11 juta jiwa, bukan 42 juta orang.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan kondisi udara Ibu Kota masih terpantau normal.

Hal ini merespons kekhawatiran masyarakat akan adanya potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat cuaca panas ekstrem.

Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata Pramono, Jakarta tidak mengalami udara panas ekstrem.

“Jakarta sampai hari ini tidak seperti yang dilaporkan akan mengalami udara panas, karena udara di Jakarta sekarang ini terpantau masih normal,” ujar Pramono, di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Menurut laporan BMKG, dalam beberapa hari ke depan curah hujan di Jakarta diprakirakan berada pada tingkat menengah.

“Saya berkoordinasi dengan BMKG, dan BMKG menyampaikan bahkan dua, tiga, empat hari ke depan ini Jakarta curah hujannya adalah medium, menengah,” ungkapnya.

BACA JUGA: BMKG Serukan Pencegahan Karhutla Berbasis Data Ilmiah Presisi

Pramono pun berharap cuaca ekstrem tidak terjadi di Jakarta, sehingga bisa berpengaruh pada kesehatan masyarakat Jakarta.

“Mudah-mudahan Jakarta tidak ada hawa panas.”

“Yang penting Jakarta bahagia, hatinya enggak panas lah gitu,” harap Pramono.

Musim Hujan Datang Lebih Awal 

BMKG memprediksi musim hujan 2025/2026 di Indonesia akan datang lebih awal dari kondisi normal.

Berdasarkan pemantauan iklim terkini, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan sejak Agustus 2025, dan secara bertahap meluas ke sebagian besar wilayah pada periode September hingga November 2025.

“Dibandingkan dengan rerata klimatologis 1991–2020, awal musim hujan tahun ini cenderung maju di sebagian besar wilayah Indonesia.”

“Musim hujan diprediksi berlangsung dari Agustus 2025 hingga April 2026, dengan puncak hujan yang bervariasi.”

“Sebagian besar terjadi pada November–Desember 2025 di Sumatera dan Kalimantan, serta Januari–Februari 2026 di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua,” ungkap Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, bulan lalu.

Dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 79 ZOM (11,3%) diprediksi akan memasuki musim hujan pada September 2025, meliputi sebagian besar Sumatera Utara, sebagian Riau, Sumatera Barat bagian utara, Jambi bagian barat, Bengkulu bagian utara, Bangka Belitung bagian selatan, Sumatera Selatan, sebagian kecil Jawa, Kalimantan Selatan, dan sebagian Papua Selatan.

Sebanyak 149 ZOM (21,3%) lainnya diprediksi memasuki musim hujan pada Oktober 2025, yang meliputi sebagian Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, Sulawesi bagian selatan, dan Papua bagian tengah. 

Sementara, 105 ZOM (15%) akan mulai mengalami musim hujan pada November 2025, yang meliputi sebagian besar Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian tengah dan tenggara, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, serta sebagian Papua.

Jika dibandingkan rerata klimatologis 1991–2020, sebanyak 294 ZOM (42,1%) akan mengalami awal musim hujan yang lebih cepat (maju), 50 ZOM (7,2%) sama dengan normalnya, dan 56 ZOM (8,0%) akan mengalami musim hujan yang lebih lambat (mundur).

Dengan kata lain, mayoritas wilayah Indonesia diprediksi menghadapi musim hujan lebih cepat dari biasanya.

Secara umum, sifat hujan pada musim hujan 2025/2026 diprediksikan berada pada kategori normal (69,5%), artinya curah hujan musiman tidak jauh berbeda dengan biasanya.

Namun, terdapat 193 ZOM (27,6%) yang berpotensi mengalami musim hujan dengan sifat atas normal, di antaranya sebagian besar Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, beberapa wilayah Sulawesi, serta Maluku dan Papua.

BACA JUGA: Pramono Anung Segera Terbitkan Pergub Larangan Dagang Daging Anjing dan Kucing di Jakarta

Terdapat pula 20 ZOM (2,9%) yang diprediksi mengalami musim hujan bawah normal.

“Dengan kondisi ini, potensi ancaman bahaya hidrometeorologi yang dapat menyebabkan dampak seperti banjir, banjir bandang, genangan air, tanah longsor, dan angin kencang tetap perlu diwaspadai, terutama pada wilayah dengan prediksi curah hujan atas normal,” jelas Dwi.

BMKG mengimbau kementerian/lembaga, pemerintah daerah, sektor terkait, dan masyarakat, meningkatkan kesiapsiagaan.

Penyesuaian kalender tanam pertanian, pengelolaan waduk dan irigasi, perbaikan drainase, pengendalian hama di perkebunan, hingga langkah mitigasi dampak ancaman bahaya hidrometeorologi, harus dilakukan sejak dini agar dampak dapat ditekan. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like