Presiden Amerika Sebut Hormuz Sebagai Selat Trump

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global, sebagai Selat Trump.

“Kami sedang bernegosiasi saat ini, dan akan jadi luar biasa jika kami melakukan sesuatu.”

“Mereka harus membuka, mereka harus membuka Selat Trump. Maksud saya Hormuz. Maaf,” kata Trump saat pidato di Future Investment, Miami, AS, Jumat (27/3/2026).

Trump menyadari penyebutan selat itu bisa menjadi berita di media massa.

“Seperti kesalahan besar. Berita-berita palsu akan melaporkan ‘dia (Trump) keceplosan’.”

“Tidak ada yang kebetulan bagi saya,” imbuhnya.

BACA JUGA: Kecewa Tak Dibantu NATO Lawan Iran, Trump: Macan Kertas!

Pernyataan Trump muncul saat AS terus mendesak Iran untuk membuka Selat Hormuz.

Dia bahkan mempertimbangkan akan melakukan invasi darat ke Pulau Kharg, jika Teheran tak kunjung membuka akses jalur itu.

Di kesempatan terpisah, Trump juga sempat mengatakan Selat Hormuz bisa dikendalikan bersama antara dia dan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, sebagai bagian penyelesaian konflik.

Namun, Iran tetap pada komitmennya dengan menutup akses Selat Hormuz bagi AS-Israel, serta negara yang mendukung atau berafiliasi dengan mereka.

Iran juga sudah siaga memobilisasi jutaan kombatan untuk melawan AS, jika mereka betul-betul menginvasi Pulau Kharg.

Penutupan Selat Hormuz adalah cara Iran membalas serangan brutal AS-Israel ke negara tersebut sejak 28 Februari.

Kendali di Tangan Kami

Iran menilai situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelumnya.

“Situasi di selat itu tidak akan kembali seperti dulu.”

“Api di bawah harga minyak telah dinyalakan, dan kendali berada di tangan kami,” kata juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran Ebrahim Zolfaghari, Rabu (25/3/2026), dikutip Middle East Monitor.

Zolfaghari menyatakan kekuatan nasional Iran terus meningkat.

“Ketahanan rakyat kami dan kekuatan angkatan bersenjata terus meningkat dari waktu ke waktu,” imbuhnya.

Ia menegaskan, pihak lawan kini semakin tertekan dan menunjukkan tanda-tanda kelemahan.

Beda Pandangan

Perbedaan pandangan muncul antara AS dan Israel, terkait rencana mengakhiri perang melawan Iran.

KAN, lembaga penyiaran publik Israel, pada Kamis (26/3/2026) melaporkan perselisihan berpusat pada tiga isu utama, yakni masa depan program rudal balistik Iran, transfer uranium yang telah diperkaya ke Badan Energi Atom Internasional, dan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.

Pada Rabu, sejumlah laporan menyebutkan usulan 15 poin dari AS untuk menghentikan perang, telah disampaikan ke Iran melalui Pakistan.

AS juga dikabarkan mempertimbangkan gencatan senjata sementara selama satu bulan, untuk membuka jalan bagi perundingan.

Mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan pada Kamis, Iran secara resmi telah menyampaikan tanggapan terhadap usulan AS tersebut melalui mediator.

Tanggapan itu mencakup tuntutan untuk menghentikan serangan dan pembunuhan di semua front, jaminan tidak akan terjadi perang lagi, kompensasi, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.

BACA JUGA: Amerika Ancam Serang Iran Lebih Dahsyat Jika Tolak Kesepakatan

KAN yang mengutip sumber politik di Israel menyebutkan, pembicaraan AS-Israel masih berlangsung, dan ada kemungkinan usulan AS tersebut akan diubah.

Seorang sumber di Israel juga mengatakan, Iran sudah menggunakan bahasa perang tahap akhir, sambil terus mengajukan tuntutan signifikan dalam kontak yang sedang berlangsung.

Sumber tersebut menambahkan ada kekhawatiran di Israel, Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan mendorong gencatan senjata sementara guna bernegosiasi dengan Iran.

Kemungkinan pertemuan antara pejabat AS dan Iran belum ditetapkan waktunya, meski ada laporan tentang upaya mediasi oleh Pakistan. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like