Presiden FIFA Sebut Pemain yang Rasis Harus Dihukum Berat

Presiden FIFA, Gianni Infantino.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa tindakan pemain yang menutup mulut saat mengucapkan dugaan kata-kata rasis kepada lawan harus dihukum berat. Menurutnya, perilaku tersebut tidak bisa ditoleransi dan semestinya langsung berujung kartu merah dalam pertandingan. Sikap tegas itu disampaikan Infantino sebagai respons atas insiden yang terjadi dalam laga Liga Champions UEFA beberapa waktu lalu.

Insiden tersebut melibatkan pemain Benfica, Gianluca Prestianni, yang tertangkap kamera menutup mulutnya dengan jersey saat berhadapan dengan bintang Real Madrid, Vinicius Jr.. Dalam momen itu, Prestianni diduga mengucapkan kata-kata bernada rasis kepada Vinicius. Meski tuduhan tersebut masih dalam proses penyelidikan, aksi menutup mulut itu memicu gelombang kecaman luas dari publik dan pemerhati sepak bola.

Badan sepak bola Eropa, UEFA, kemudian menjatuhkan sanksi larangan bermain satu pertandingan kepada Prestianni. Hukuman tersebut bersifat sementara sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut. Jika terbukti melakukan pelanggaran rasialisme, bukan tidak mungkin sanksi yang dijatuhkan akan lebih berat.

BACA JUGA: Wapres ke-6 RI Try Sutrisno Meninggal Dunia

Presiden FIFA Ungkap Gestur Tutup Mulut Mencurigakan

Infantino menilai, gestur menutup mulut saat berbicara di tengah pertandingan sudah cukup menimbulkan kecurigaan serius. Ia berpendapat bahwa tindakan tersebut menunjukkan adanya niat menyembunyikan ucapan yang tidak pantas. “Jika seorang pemain menutup mulutnya dan mengatakan sesuatu, dan hal itu berdampak rasis, maka ia jelas harus dikartu merah. Harus ada asumsi bahwa ia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan, kalau tidak ia tidak perlu menutup mulutnya,” ujar Infantino, seperti dikutip dari BBC.

Menurut Infantino, sepak bola modern tidak boleh lagi memberi ruang sedikit pun bagi praktik diskriminasi. Ia menekankan bahwa pesan tegas perlu dikirimkan kepada seluruh pemain, ofisial, dan pendukung bahwa tindakan rasis akan langsung berujung konsekuensi berat di lapangan. “Jika Anda tidak punya sesuatu untuk disembunyikan, Anda tidak akan menutup mulut saat mengatakan sesuatu. Sesederhana itu,” tambahnya.

Pernyataan tersebut sekaligus mempertegas komitmen FIFA dalam memerangi rasialisme yang selama ini masih menjadi masalah laten di berbagai kompetisi. Kasus-kasus serupa sebelumnya juga kerap menimpa Vinicius Jr., yang beberapa kali menjadi sasaran pelecehan rasial, terutama dalam pertandingan-pertandingan besar di Eropa.

Rasisme Adalah Mentalitas Pengecut

Vinicius sendiri angkat bicara setelah pertandingan tersebut. Ia mengecam keras tindakan yang diduga dilakukan terhadap dirinya. Bagi pemain asal Brasil itu, rasialisme bukan hanya pelanggaran aturan, tetapi juga cerminan mentalitas pengecut. “Orang-orang rasis, pada dasarnya, adalah pengecut. Mereka bahkan perlu menutup mulut mereka sendiri untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka,” ujar Vinicius.

BACA JUGA: Harga Mahal Nuklir Iran

Ia juga menyinggung adanya perlindungan atau kelambanan dari pihak-pihak yang seharusnya memiliki kewajiban tegas untuk menghukum pelaku. Menurutnya, tanpa penegakan aturan yang konsisten dan transparan, praktik rasisme akan terus berulang. Pernyataan Vinicius memperlihatkan frustrasi yang selama ini dirasakannya sebagai salah satu pemain yang paling sering menjadi target pelecehan rasial di panggung sepak bola Eropa.

Kasus ini kembali membuka diskusi tentang efektivitas regulasi anti-rasisme dalam sepak bola internasional. Seruan Infantino untuk langsung mengeluarkan kartu merah bagi pelaku dinilai sebagai langkah konkret untuk memperkuat efek jera. Namun, implementasinya tetap bergantung pada keberanian wasit dan otoritas pertandingan dalam mengambil keputusan cepat di lapangan.

Dengan sorotan global terhadap kasus ini, publik kini menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut dari UEFA. Apa pun hasilnya nanti, insiden tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan rasialisme di sepak bola masih jauh dari selesai dan membutuhkan komitmen nyata dari semua pihak.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like