NarayaPost – Profil Ali Khamenei. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan militer yang dikaitkan dengan operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Kabar ini langsung mengguncang geopolitik Timur Tengah karena Khamenei merupakan figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade.
Kantor berita Fars mengabarkan, Pemerintah Iran mengumumkan 40 hari berkabung dan 7 hari libur nasional menyusul tewasnya Ali Khamenei, seperti dilansir AlJazeera.
Laporan berbagai media internasional menyebut Khamenei meninggal pada usia 86 tahun setelah kompleks kediamannya di Teheran menjadi target serangan udara presisi. Selain Khamenei, kantor berita Fars juga mengabarkan anggota keluarga pemimpin tertinggi Iran tersebut, ikut tewas dalam serangan udara yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026).
BACA JUGA : Palestina Merdeka Tak Disebut, Rusia Ogah Gabung BoP
Ali Khamenei lahir di Mashhad, Iran, pada 1939. Khamenei merupakan anak kedua dari ulama yang dikenal sederhana dan miskin di Iran yaitu Sayyed Javad Khamenei. Sejak muda ia menempuh pendidikan di sekolah agama (hawzah), jalur pendidikan tradisional ulama Syiah yang membentuk fondasi ideologinya. Pendidikan tersebut membawanya menjadi ulama sekaligus aktivis politik yang dekat dengan gerakan Revolusi Islam Iran.
Sejak muda, Khameni sudah aktif terlibat dalam gerakan Revolusi Iran yakni sejak 1963. Ia juga merupakan anggota pendiri Partai Republik Islam (IRP).
Dalam gerakan revolusionernya, Khamenei menentang kebijakan rezim Shah yang dinilai pro-Amerika dan anti-Islam. Sampai akhirnya, rezim Shah jatuh setelah 16 tahun perjuangan revolusi.
Karier politik Khamenei mulai menanjak setelah Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia kemudian dipercaya menduduki berbagai posisi penting sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden Iran pada 1981.
Tonggak terbesar kariernya terjadi pada 1989 ketika ia ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sejak saat itu, Khamenei menjadi otoritas tertinggi negara, mengendalikan militer, kebijakan luar negeri, serta arah ideologi Republik Islam.
Selama masa kepemimpinannya, Iran dikenal mengambil posisi keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia juga memperkuat peran Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dalam politik dan keamanan nasional.
Usai menjadi pemimpin tertinggi, Ali Khamenei membentuk aparat militer dan paramiliter Iran. Ali Khamenei kemudian menjabat selama lebih dari tiga dekade sampai 2026.
Di mata pendukungnya, Khamenei dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap tekanan Barat. Namun para pengkritik menilai pemerintahannya diwarnai pembatasan politik domestik dan konfrontasi regional yang berkepanjangan.
Ali Khamenei juga menuangkan pemikirannya dalam berbagai karya tulis. Mulai dari Pemikiran Islam dalam Al-Qur’an, Persatuan dan Partai Politik, Perjuangan Para Imam Syiah (AS), hingga Kumpulan Pidato dan Pesan berjilid-jilid.
AS dan Israel menyerang wilayah Iran pada Sabtu (28/2) kota Iran. Kompleks kediaman Khamenei di Teheran disebut telah dijatuhkan puluhan bom. Media Iran juga melaporkan putri hingga cucu Khamenei tewas.
Salah satu yang kena sasaran rudal Israel adalah SD putri di kota Minab, provinsi Hormozgan, Iran selatan.
“Serangan Israel menghantam sebuah sekolah dasar putri di Minab, sebuah kota di provinsi Hormozgan, Iran selatan, menewaskan 108 orang,” tulis laporan AlJazeera, dikutip Minggu (1/3/2026).
Iran sendiri langsung menetapkan masa berkabung nasional dan memperingatkan akan adanya respons balasan terhadap serangan tersebut. Situasi ini memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Menurut laporan Al Jazeera, yang dikutip Senin (16/6/2025), serangan Israel berkaitan dengan posisi politik negara tersebut di dunia internasional. Pada saat ini, semakin banyak negara yang mulai mendukung Palestina dan menyuarakan kampanye genosida di Gaza.
Kondisi ini membuat Netanyahu menyadari bahwa pemerintahannya kehabisan pilihan. Terlebih, komunitas internasional, serta sekutu regional, mulai mengkritik Israel secara vokal.
BACA JUGA : Israel Beralih ke Mode Darurat Hadapi Serangan Balasan Iran
Beberapa negara juga telah bersiap untuk melakukan tindakan sepihak, seperti pengakuan terhadap negara Palestina. Surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional untuk Netanyahu juga sudah menunggu.
Selama ini, Israel dan militernya terus-menerus melakukan pembantaian, menyangkalnya, dan terbukti berbohong. Dalam kondisi politik yang tak banyak pilihan, pihak Israel melihat Iran menjadi ancaman potensial oleh banyak negara maju. Terlebih, Iran termasuk negara dengan militer kuat yang berada di kubu anti-Israel.
Dengan dalih tentang “keamanan”, Israel telah menyerang dan membunuh dari Gaza ke Yaman, Lebanon, Suriah, dan sekarang di Iran.