NarayaPost – Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, Sabtu (3/1/2026).
Nicolas Maduro menjabat Presiden Venezuela sejak 2013.
Ia menggantikan Hugo Chavez setelah memenangkan pemilu nasional.
Maduro lahir di Caracas pada 23 November 1962.
Ia pernah bekerja sebagai sopir bus sebelum aktif di serikat pekerja.
Karier politiknya berkembang melalui Partai Sosialis Bersatu Venezuela.
Ia dikenal sebagai loyalis Chavez dan pendukung revolusi Bolivarian.
Revolusi Bolivarian adalah transformasi politik, ekonomi, dan sosial yang dimulai ketika Hugo Chavez terpilih sebagai Presiden Venezuela pada 1998.
Revolusi ini terinspirasi oleh pemikiran Simon Bolivar, tokoh pembebasan Amerika Selatan dari kolonialisme Spanyol pada abad ke-19.
Menurut Chavez, ideologi Bolivarian menekankan pada nasionalisme ekonomi, peran dominan negara dalam mengelola sumber daya, penolakan terhadap imperialisme asing, dan redistribusi kekayaan untuk keadilan sosial.
Maduro menjabat Menteri Luar Negeri Venezuela sejak 2006.
Ia kemudian menjadi wakil presiden sebelum terpilih sebagai presiden.
BACA JUGA: Amerika Sempat Pertimbangkan Bunuh Nicolas Maduro
Kepemimpinan Maduro diwarnai krisis ekonomi dan hiperinflasi berkepanjangan.
Krisis tersebut memicu migrasi besar dan penurunan kesejahteraan masyarakat.
AS dan sekutunya menjatuhkan sanksi terhadap pemerintahannya.
Maduro menyebut sanksi itu sebagai penyebab utama krisis ekonomi.
Ia menolak tuduhan pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia.
“Kami menghadapi perang ekonomi,” kata Maduro dalam berbagai pidato.
Maduro tetap mempertahankan kekuasaan melalui dukungan militer dan institusi negara.
Ia juga mendapat dukungan politik dari Rusia, Cina, dan Iran.
Pendukungnya menilai Maduro merupakan simbol perlawanan terhadap intervensi asing.
Kritikus menilai pemerintahannya otoriter dan bertanggung jawab atas krisis nasional.
Wanita Paling Berpengaruh dalam Politik Venezuela
Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores (69), didakwa di Distrik Selatan New York.
Jaksa Agung AS Pam Bondi, Maduro menghadapi dakwaan konspirasi narkoterorisme, konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat perusak, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat perusak terhadap AS.
Maduro dan Flores tiba di Bandara Internasional New York Stewart di Orange County, New York, sekitar 80 menit di utara Manhattan, Sabtu (3/1/2026), setelah ditangkap di Caracas, Venezuela.
Pasangan suami istri itu lalu diterbangkan dengan helikopter ke USS Iwo Jima, sebuah kapal serbu amfibi.
Cilia Flores adalah seorang pengacara dan politikus Venezuela.
Ia menjabat wakil di Majelis Nasional Venezuela sejak 2015, di mana ia menjabat sebagai presiden dari tahun 2006 hingga 2011, untuk negara bagian asalnya, Cojedes.
Ia sebelumnya menjabat Jaksa Agung Venezuela dari tahun 2012 hingga 2013.
Flores mendapatkan reputasi sebagai pengacara yang tangguh, terutama setelah ia memimpin tim pembela mantan Presiden Venezuela Hugo Chavez, dan membantu mengamankan pembebasannya dari penjara pada 1994, setelah kudeta yang gagal pada 1992.
Flores menjadi ibu negara Venezuela ketika Maduro memenangkan pemilihan presiden 2013 atas Henrique Capriles.
“Ia memiliki karakter yang berapi-api.”
“Apa yang Anda lihat darinya di parlemen, persis seperti itulah dia di rumah,” ungkap Maduro tentang istrinya.
Lulusan hukum dari Universitas Santa Maria di Caracas ini mendapatkan perhatian pada tahun 1994, ketika ia membela Chavez dan membantu mengamankan pembebasannya dari penjara.
BACA JUGA: Presiden Venezuela Nicolas Maduro Bakal Diadili di Amerika
Empat tahun setelah pembebasan Chavez, Flores membantunya memenangkan pemilihan presiden tahun 1998 di Venezuela.
Chavez menjabat sebagai presiden Venezuela selama 14 tahun hingga kematiannya pada Maret 2013.
Flores dan Maduro bertemu setelah Chavez menyerah menyusul upaya kudeta yang gagal pada 1992.
Mereka lalu menikah pada Juli 2013, setelah dua dekade bersama dan tak lama setelah kemenangan Maduro dalam pemilihan presiden melawan kandidat oposisi saat itu, Henrique Capriles.
Flores menjadi wanita paling berpengaruh dalam politik Venezuela, setelah kemenangan Chavez dalam pemilihan presiden.
Chavez lah yang menunjuk Flores sebagai jaksa agung pada tahun 2012.
Saat Chavez meninggal karena kanker, Flores menjadi pembela pemerintah negara pada momen-momen penting, termasuk membela pemerintah dari tuduhan oposisi tentang kemungkinan kekosongan kekuasaan.
Ketika berkuasa, Maduro menobatkan Flores sebagai pejuang pertama, dengan alasan ibu negara adalah konsep aristokratis.
Tuduhan yang akan dihadapi Flores di AS awalnya tidak jelas.
Namun, dalam unggahan di X, Bondi menulis Maduro dan istrinya akan segera menghadapi murka keadilan Amerika, sepenuhnya di tanah Amerika, di pengadilan Amerika.
Bondi juga menyebut Maduro dan Flores sebagai dua terduga pengedar narkoba internasional.
Tuduhan terhadap Flores terungkap dalam dakwaan yang telah dibuka dan dibagikan oleh Bondi, di mana pemerintah AS menyatakan perdagangan narkoba skala besar itu juga telah memusatkan kekuasaan dan kekayaan di tangan keluarga Maduro Moros, termasuk istrinya, yang disebut sebagai Ibu Negara Venezuela.
Putra Maduro, Nicolas Ernesto Maduro Guerra, juga disebutkan dalam dakwaan sebagai terdakwa.
Menurut dakwaan tersebut, Flores didakwa dengan konspirasi impor kokain, kepemilikan senapan mesin dan alat peledak, serta konspirasi untuk memiliki senapan mesin dan alat peledak. (*)