NarayaPost – PT Pupuk Indonesia memastikan bahwa pasokan pupuk urea nasional tetap aman di tengah ketegangan geopolitik global, khususnya konflik yang terjadi di Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting perdagangan energi dan komoditas dunia. Konflik di kawasan tersebut diketahui memberikan tekanan terhadap rantai pasok global, termasuk distribusi pupuk, namun Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang cukup kuat karena mengandalkan produksi domestik.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa kondisi ini tidak mengganggu ketersediaan pupuk urea di dalam negeri. Ia menyebut Indonesia bahkan berpotensi memainkan peran strategis sebagai penyeimbang dalam ekosistem pangan global. Hal ini dimungkinkan karena kapasitas produksi nasional yang relatif besar dibandingkan kebutuhan domestik, sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada impor dalam memenuhi kebutuhan pupuk utama bagi sektor pertanian.
Secara global, Selat Hormuz memegang peranan vital karena sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia melewati jalur tersebut, dengan volume mencapai kurang lebih 4 juta ton per bulan. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,5 juta ton merupakan urea, 1,5 juta ton sulfur, dan sisanya sekitar 1 juta ton terdiri dari berbagai jenis pupuk lain termasuk metanol. Gangguan di jalur ini berpotensi besar memicu kelangkaan pasokan dan lonjakan harga di pasar internasional.
BACA JUGA: Pendakian Gunung Gede Dibuka 13 April, Pendaki Pakai Gelang RFID
Meski demikian, Indonesia berada dalam posisi relatif aman. Pupuk Indonesia mencatat kapasitas produksi urea nasional mencapai 8,8 juta ton secara operasional dari total kapasitas terpasang sebesar 9,4 juta ton. Walaupun sebagian fasilitas produksi telah berusia cukup tua, kemampuan produksi tersebut masih dinilai mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara optimal. Dengan kondisi ini, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri dapat ditekan secara signifikan.
Dampak konflik global tetap terasa pada sisi harga. Rahmad mengungkapkan bahwa harga urea dunia mengalami lonjakan tajam, dari sekitar USD 400 per ton menjadi USD 800 per ton atau meningkat dua kali lipat. Kenaikan ini mencerminkan sensitivitas pasar pupuk terhadap dinamika geopolitik, terutama yang berkaitan dengan jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz. Namun demikian, lonjakan harga global tersebut tidak secara langsung memengaruhi ketersediaan pupuk dalam negeri.
BACA JUGA: Strategi Kelola Finansial di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Untuk jenis pupuk lain seperti fosfat dan potas, potensi gangguan lebih disebabkan oleh faktor logistik, khususnya biaya pengiriman (freight), bukan dari sisi produksi. Rahmad menyebut bahwa para produsen global memastikan tidak ada gangguan signifikan dalam proses produksi di negara masing-masing. Hal ini memberikan kepastian tambahan bahwa pasokan pupuk non-urea tetap dapat diakses, meskipun mungkin menghadapi tantangan distribusi.
Selain menjamin ketersediaan, Pupuk Indonesia juga memastikan stabilitas harga di tingkat domestik. Kebutuhan pupuk urea, baik subsidi maupun nonsubsidi, tetap terpenuhi, bahkan harga eceran tertinggi (HET) telah mengalami penurunan hingga 20 persen tanpa rencana kenaikan dalam waktu dekat. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga daya beli petani sekaligus mendukung produktivitas sektor pertanian nasional.
Dengan kombinasi kapasitas produksi yang memadai, kebijakan harga yang stabil, serta minimnya ketergantungan pada impor, Indonesia dinilai berada dalam posisi yang cukup tangguh menghadapi gejolak global. Kondisi ini tidak hanya menjamin keberlanjutan sektor pertanian domestik, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam menjaga stabilitas pangan di tingkat global.