NarayaPost – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menindak tegas penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dinilai menghina Indonesia melalui pernyataannya di media sosial. Ia memastikan yang bersangkutan wajib mengembalikan dana beasiswa yang telah diterima, termasuk bunganya, serta akan masuk daftar hitam di lingkungan pemerintahan.
Kasus ini mencuat setelah seorang Warga Negara Indonesia (WNI) alumni LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas mengunggah pernyataan kontroversial di media sosial, yakni “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, yang kemudian menuai kecaman publik. Unggahan tersebut dengan cepat menjadi sorotan dan memicu perdebatan luas di ruang digital. Pemilik akun tersebut telah menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat.
Meski demikian, Purbaya menegaskan proses penegakan aturan tetap berjalan. Ia menyebut telah berkoordinasi dengan Direktur Utama LPDP dan pihak terkait. Berdasarkan komunikasi tersebut, yang bersangkutan disebut telah menyatakan kesediaan untuk mengembalikan dana yang pernah diterima.
BACA JUGA: RUU Pemilu Akan Segera Dibahas, Siapa Saja yang Diundang?
“Tadi sudah bicara dengan dia ke Dirut LPDP, tadi sudah bicara dengan suami terkait dan sepertinya dia sudah setuju untuk mengembalikan uang yang pakai LPDP, termasuk bunganya. Kalau uang saya taruh di bank ada bunga juga kan,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/2).
Menurutnya, dana LPDP bersumber dari pajak masyarakat dan pembiayaan negara yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dana tersebut merupakan investasi jangka panjang negara dalam membangun generasi terdidik yang diharapkan berkontribusi bagi pembangunan nasional. Karena itu, pemerintah tidak bisa membiarkan dana publik digunakan oleh pihak yang justru dinilai merendahkan negara.
“Saya harapkan teman-teman yang dapat LPDP, kalau nggak seneng, yang enggak (sama pemerintah), tapi jangan hina negara lah. Itu uang dari pajak dan sebagian utang untuk pastikan SDM kita tumbuh. Tapi kalo dipakai untuk hina negara, kita minta uang dan pajaknya,” jelasnya.
Di sisi lain, Purbaya juga menegaskan sanksi tambahan berupa daftar hitam akan diterapkan secara serius. Ia menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak akan dapat kembali masuk ke instansi pemerintahan. “Nanti akan saya blacklist dia, di seluruh pemerintahan nggak akan bisa masuk, nanti akan kita kalian lihat blacklist-nya seperti apa. Jadi jangan menghina negara anda sendiri,” tegasnya.
Tak lama setelah unggahan tersebut menjadi sorotan publik, Dwi Sasetyaningtyas menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya, @sasetyaningtyas. Dalam pernyataan tersebut, ia mengakui kesalahan dan menjelaskan latar belakang emosional yang melatarbelakangi unggahannya.
Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.
Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.
Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.
Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.
Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.
Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.
BACA JUGA: Indonesia Siap Kirim 2.280 Ton Beras ke Arab Saudi
Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.
Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati.
Terima kasih atas perhatian dan doa baiknya.