Rayuan Maut Netanyahu Bikin Trump Serang Iran

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan langsung menggelar rapat darurat pada Senin (23/3/2026) malam waktu setempat, usai Amerika Serikat (AS) disebut hampir mencapai kesepakatan dengan Iran.

Menurut laporan media Israel seperti dilansir Anadolu Agency, Netanyahu memanggil para pemimpin partai koalisi pemerintahannya untuk pertemuan mendesak.

Netanyahu disebut meminta pertemuan itu dalam waktu satu jam, tanpa memberi tahu agenda apa yang dibahas dalam rapat darurat tersebut.

Laporan media mengatakan pertemuan Netanyahu dan para pemimpin partai diduga terkait perang yang sedang berlangsung, dan upaya AS mengejar kemungkinan kesepakatan dengan Iran.

Netanyahu sebelumnya mengeklaim telah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump pada Senin lalu.

“Trump percaya ada peluang untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, untuk melindungi kepentingan vital kita,” kata Netanyahu.

Trump disebut mulai ‘melunak’ terhadap Iran.

Ia menunda menyerang fasilitas energi Iran selama lima hari, setelah sebelumnya melontarkan ultimatum keras agar Teheran membuka blokade Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Trump mengeklaim penundaan serangan itu diambil setelah ada komunikasi ‘baik dan produktif’ antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.

Trump bahkan mengeklaim AS dan Teheran memiliki titik kesepakatan besar, dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk meredam konflik di Timur Tengah.

Meski demikian, Iran membantah klaim Trump.

Akibat Rayuan

Donald Trump santer dikabarkan menyerang Iran karena terlena bujuk rayu Netanyahu.

Sejumlah sumber yang mengetahui persoalan ini mengatakan kepada Reuters, Netanyahu menelepon Trump 48 jam sebelum serangan pada 28 Februari, untuk melobi agar AS ikut berperang bersama Israel.

Menurut para sumber, Trump sebelumnya masih mempertimbangkan untuk menempuh jalur diplomatik dengan Iran. Meski begitu, Trump memang tidak mengesampingkan opsi militer.

Sumber-sumber yang mengetahui percakapan telepon itu mengatakan, Trump memutuskan menyerang Iran setelah mendengar sejumlah argumen Netanyahu.

Netanyahu disebut menyampaikan kepada Trump, tak akan pernah ada kesempatan yang lebih baik untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei jika bukan pada 28 Februari.

Netanyahu memperoleh informasi intelijen, Khamenei akan bertemu para bawahannya di kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu 28 Februari.

BACA JUGA: Netanyahu Bilang Yesus Kristus Kalah Unggul dari Genghis Khan

Pertemuan itu dimajukan dari Sabtu malam menjadi Sabtu pagi.

Informasi intelijen ini juga didapatkan oleh  Trump.

Dengan menggunakan informasi intelijen tersebut, serta alasan tak akan ada momentum lain untuk membalas upaya Iran membunuh Trump, Trump pun setuju ikut berperang.

Upaya pembunuhan Trump merujuk pada rencana pembunuhan bayaran yang diduga diatur oleh Iran pada 2024, ketika Trump masih menjadi kandidat presiden.

Departemen Kehakiman AS saat itu menuduh seorang pria Pakistan mencoba merekrut orang-orang di AS untuk mengeksekusi rencana tersebut, yang dimaksudkan sebagai balasan atas pembunuhan komandan tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Qassem Soleimani.

Soleimani tewas dalam serangan drone AS pada 3 Januari 2020, saat sedang berkunjung ke Irak untuk bertemu PM Adil Abdul-Mahdi. Pembunuhannya atas perintah Trump.

BACA JUGA: Benjamin Netanyahu Pamer Lima Jari Usai Dirumorkan Tewas

Menurut para sumber, saat percakapan telepon terjadi, Trump sudah menyetujui gagasan untuk melakukan operasi militer ke Iran.

Namun, ia belum memutuskan kapan dan dalam keadaan apa AS akan terlibat.

Salah satu tanggal yang memungkinkan serangan militer disebut telah dibatalkan karena masalah cuaca.

Sejak itu Trump belum membahas lagi opsi militer ke Iran.

Reuters tidak menjelaskan bagaimana argumen Netanyahu dapat memengaruhi Trump.

Namun, tiga sumber yang tahu percakapan ini percaya telepon tersebut, serta informasi intelijen tentang Khamenei, telah menjadi katalis bagi keputusan final Trump.

Netanyahu juga sempat mengatakan Trump bisa mencetak sejarah dengan melenyapkan kepemimpinan teokratis yang sejak lama dibenci negara Barat dan banyak warga Iran.

Ia juga meyakinkan Trump dengan mengatakan warga Iran sejak 1979 telah menjadi sumber utama terorisme dan ketidakstabilan global.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly telah merespons laporan ini, dengan mengatakan Operasi Epic Fury AS ke Iran dirancang untuk menghancurkan kemampuan militer rezim Teheran. Ia tak mengonfirmasi adanya percakapan telepon antara Trump dan Netanyahu.

Dalam jumpa pers pada Kamis (19/3/2026), Netanyahu menepis klaim Israel menyeret AS ke dalam konflik dengan Iran. Ia menyebut klaim tersebut berita palsu.

“Apakah ada yang benar-benar berpikir bahwa seseorang bisa memberi tahu Presiden Trump tentang apa yang harus dilakukan? Ayolah,” cetus Netanyahu.

Trump pada kesempatan terpisah juga menyatakan keputusan menyerang Iran adalah keputusannya sendiri.

Laporan ini tidak menarasikan Netanyahu memaksa Trump ikut berperang, tapi menunjukkan ucapan Netanyahu sangat persuasif bagi Trump.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth pada awal Maret sempat mengatakan dendam Trump atas upaya pembunuhannya merupakan salah satu motif Operasi Epic Fury.

“Iran mencoba membunuh Presiden Trump, dan Presiden Trump yang tertawa terakhir,” cetusnya. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like