Rendahkan MBS, Trump: Dia Harus Bersikap Baik pada Saya

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merendahkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS), sekutu utamanya di Timur Tengah.

Pada acara Saudi Investors Forum di Miami, Jumat (27/3/2026), Trump mengenang hubungannya dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud yang berusia 90 tahun.

“Saya mencintai raja Arab Saudi.”

“Betapa hebatnya dia.”

“Ketika saya berada di sana, kami akrab,” katanya.

Trump mengenang Raja Salman pernah meraih lengannya untuk membantunya berdiri.

“Mereka mengatakan itu adalah satu-satunya saat dia pernah meraih seseorang.”

“Saya berkata, saya pikir dia menyukai saya.”

“Dan dia memang menyukai saya, dan dia masih menyukai saya, dan dia adalah orang yang hebat untuk diajak menyapa.”

“Dia adalah pria hebat dengan putra yang hebat,” tuturnya.

Trump awalnya melontarkan puja-puji kepada MBS, pemimpin de facto Arab Saudi.

“Dia memiliki sekitar 700 gelar, dan saya katakan dia memiliki lebih banyak gelar daripada manusia mana pun.”

BACA JUGA: Arab Saudi Pertimbangkan Balas Serangan Iran

“Dia pantas mendapatkannya, karena dia adalah seorang pemenang,” puji Presiden ke-45 dan 47 AS tersebut.

Trump lantas mengungkapkan, MBS mengatakan AS adalah negara mati setahun yang lalu, tetapi sekarang adalah negara terpanas di dunia.

“Dia tidak berpikir ini akan terjadi.”

“Dia tidak berpikir dia akan menjilat pantat saya.”

“Dia pikir dia hanya akan menjadi presiden Amerika lain yang kalah, di mana negara itu sedang menurun.”

“Tapi sekarang dia harus bersikap baik kepada saya.”

“Bilang padanya, sekarang dia harus baik-baik dengan saya.”

“Dia seorang pejuang.”

“Ngomong-ngomong, dia berjuang bersama kita,” seloroh Trump.

Trump juga mengeklaim sejumlah negara Teluk akan bergabung dengan skema normalisasi dengan Israel, selepas serangan ke Iran.

“Saya bilang ‘Muhammad, kami sudah mengalahkan mereka (Iran), dan sekarang kita harus mewujudkan Perjanjian Abraham,” ucap Trump.

Perjanjian Abraham diinisiasi Trump pada periode pertama jabatannya pada 2020 lalu.

Bahrain, Uni Emirat Arab, Maroko, dan Sudan, bergabung dalam perjanjian normalisasi dengan Israel yang imbalannya bantuan militer AS tersebut.

Pada Selasa pekan lalu, New York Times (NYT) melaporkan bin Salman secara pribadi mendesak Trump untuk melanjutkan perang AS-Israel melawan Iran, menggambarkannya sebagai kesempatan bersejarah untuk membentuk kembali Timur Tengah.

Mengutip sumber, NYT mengatakan MBS berpendapat Pemerintah Iran hanya dapat dieliminasi melalui perubahan rezim.

Riyadh membantah hal ini, dengan mengatakan mereka selalu mendukung penyelesaian damai atas konflik ini, bahkan sebelum konflik dimulai.

Perang Dingin

Perang antara Iran melawan Israel-AS membuat negara-negara teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab serba salah.

Perang tersebut bahkan kembali memunculkan ketegangan baru dengan Iran.

Al Jazeera menyebut rivalitas Iran dan negara-negara Arab seperti ‘perang dingin,’ mengacu pada AS dan Rusia di masa lalu.

Rivalitas negara-negara Arab, khususnya Arab Saudi dan anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terhadap Iran, berakar pada kombinasi perbedaan teologis, persaingan pengaruh geopolitik, dan rasa takut akan ketidakstabilan regional

Rivalitas geopolitik itu tidak tunggal, tapi gabungan banyak faktor seperti Iran adalah negara Persia, bukan Arab, dan secara historis bersaing untuk menjadi pemimpin di kawasan Timur Tengah.

Ada juga ketakutan akan melebarnya pengaruh buruk Revolusi Iran (1979) bagi negara-negara Teluk yang merupakan kerajaan.

BACA JUGA: Arab Saudi Cemas Iran Makin Kuat Jika Amerika Tak Menyerang

Setelah Revolusi Islam 1979, Iran berusaha menyebarkan ideologi revolusionernya.

Negara-negara Arab di Teluk takut pengaruh ini akan mengganggu stabilitas monarki mereka.

Faktor lainnya, perbedaan mazhab agama.

Iran adalah pusat Syiah, sementara mayoritas negara Arab adalah Sunni.

Ketegangan agama ini sering disulut untuk kepentingan politik, menyebabkan polarisasi di kawasan.

Program nuklir Iran menjadi kekhawatiran utama negara Teluk dan AS, karena potensi ancaman keamanan regional.

Sementara, Iran sering mengkritik hubungan negara-negara teluk dengan Barat.

Konflik dan hubungan pasang surut ini menjadikannya salah satu konflik paling bertahan lama di Timur Tengah. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like