Dalam pernyataannya kepada media Kanada, Herdman menilai bahwa federasi sepak bola Indonesia memiliki visi yang jelas dalam menunjuk dirinya sebagai pelatih. “Federasi Sepak Bola Indonesia ingin mendatangkan seseorang dengan tradisi Kualifikasi Piala Dunia itu,” ujar Herdman. Ia menambahkan bahwa pengalaman membawa Kanada menembus Piala Dunia menjadi salah satu pertimbangan utama dalam proses penunjukan tersebut.
Herdman melihat Indonesia sebagai negara dengan basis sepak bola yang sangat besar. Menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap secara optimal. “Yang saya lihat adalah potensi bakatnya ada. Suasananya sangat mirip dengan Kanada. Negara besar, banyak potensi dengan pemain lokal tetapi juga kemampuan untuk merekrut pemain dwikewarganegaraan yang sudah mereka mulai,” ungkapnya. Pernyataan ini sejalan dengan arah kebijakan PSSI dalam beberapa tahun terakhir yang aktif memaksimalkan kombinasi pemain lokal dan pemain keturunan.
BACA JUGA: Sebanyak 40 Orang Telah Tewas dalam Serangan AS ke Venezuela
Sejumlah laporan media olahraga internasional juga menyoroti bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yang secara teoritis menjadi modal penting dalam pengembangan sepak bola. Studi dalam bidang sport development menyebutkan bahwa negara dengan populasi besar memiliki peluang lebih luas dalam menemukan talenta, asalkan didukung sistem pembinaan dan kompetisi yang berkelanjutan. Herdman tampaknya melihat peluang tersebut sebagai fondasi utama untuk membangun tim nasional yang kompetitif.
Sinyal Positif John Herdman Setelah Resmi Jadi Pelatih
Terkait komitmen personal, Herdman juga memberi sinyal positif terhadap harapan PSSI agar pelatih tim nasional mau tinggal di Indonesia. Sebelumnya, Ketua Badan Tim Nasional Sumardji menegaskan bahwa kehadiran pelatih di dalam negeri menjadi faktor penting dalam membangun komunikasi dan pemahaman yang mendalam.
Menanggapi hal itu, Herdman menyatakan keterbukaannya untuk menetap di Indonesia. “Karena menurut saya itu pastinya merupakan bagian penting dari mempelajari budaya, yaitu dengan benar benar terjun langsung ke dalamnya. Anda benar benar harus memahami orang orang dan adat istiadatnya untuk menciptakan koneksi tersebut,” tuturnya.
Pendekatan berbasis budaya ini sejalan dengan berbagai studi kepelatihan modern yang menekankan pentingnya cultural intelligence dalam olahraga. Penelitian di bidang psikologi olahraga menunjukkan bahwa pelatih yang memahami konteks sosial dan budaya pemain cenderung lebih berhasil membangun kepercayaan serta meningkatkan performa tim. Dalam kasus Herdman, pendekatan serupa pernah ia terapkan saat menangani Kanada yang memiliki latar belakang multikultural.
BACA JUGA: Diskon PPN Pembelian Rumah Diperpanjang Lagi oleh Purbaya
Pelatih Bukan Sosok Asing di Kancah Sepakbola
Herdman bukan sosok asing di level sepak bola internasional. Ia mulai menangani Timnas Kanada pada 2018 dan mencatatkan prestasi signifikan dengan membawa negara tersebut lolos ke Piala Dunia 2022. Selama masa kepemimpinannya, Herdman memimpin Kanada dalam 58 pertandingan dengan catatan 36 kemenangan, tujuh hasil imbang, dan 15 kekalahan. Statistik tersebut menunjukkan konsistensi performa yang cukup solid di level internasional.
Meski Kanada gagal meraih kemenangan di putaran final Piala Dunia 2022, keberhasilan lolos ke turnamen tersebut tetap dianggap sebagai pencapaian bersejarah setelah penantian panjang selama puluhan tahun. Pengalaman inilah yang diharapkan PSSI dapat ditransfer Herdman ke Timnas Indonesia, terutama dalam membangun mental bertanding dan struktur tim jangka panjang.
Dengan latar belakang tersebut, penunjukan John Herdman dipandang sebagai langkah strategis untuk membawa Timnas Indonesia naik kelas. Harapan besar kini tertuju pada kemampuannya mengelola potensi besar sepak bola nasional, memadukan kekuatan pemain lokal dan diaspora, serta membangun fondasi yang berkelanjutan menuju level Asia dan dunia.








