NarayaPost – CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menuturkan bahwa dinamika geopolitik global, termasuk konflik terbaru antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, dapat menghadirkan peluang baru bagi Indonesia di sektor investasi. Pernyataan itu ia sampaikan usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/3).
Menurut Rosan, setiap peristiwa besar di tingkat global selalu memiliki dua sisi. Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ia menilai Indonesia perlu melihat situasi tersebut dari sudut pandang strategis, bukan semata dari sisi risiko. “Ya, kan, memang dari setiap kejadian pasti kita bisa melihat dari angle yang berbeda, ya, dari angle apakah ini kita justru membuat ada opportunity baru,” ujarnya.
Konflik di kawasan Timur Tengah disebut berpotensi mengubah peta arus investasi global. Dalam situasi ketidakpastian, investor cenderung mencari negara yang relatif stabil secara politik dan ekonomi. Rosan menilai Indonesia memiliki peluang untuk tampil sebagai alternatif pasar baru yang menjanjikan, terutama dengan fundamental ekonomi yang dinilai cukup solid serta stabilitas domestik yang terjaga.
BACA JUGA: Iran Siap Perang Panjang Lawan Amerika dan Israel
Ia menjelaskan bahwa peluang tersebut bisa muncul baik dari sisi investasi langsung maupun perdagangan internasional. Namun demikian, Danantara tidak serta-merta mengambil kesimpulan sepihak. Pihaknya akan melakukan kajian menyeluruh terhadap dampak perang, termasuk terhadap stabilitas pasar keuangan, harga energi global, hingga rantai pasok perdagangan dunia.
“Ya, itu pasti ada pembahasan juga dari kita, kan, kita akan kaji itu semua lah. Dan mungkin dalam hal ini, ya, dari segi investasi, dari segi ketahanan ekonomi dan lain-lain,” imbuh Rosan.
Pembahasan mengenai konflik Iran versus AS-Israel menjadi salah satu topik yang didiskusikan dalam pertemuannya dengan Presiden. Pemerintah, kata Rosan, tidak tinggal diam dalam menghadapi dinamika global yang bergerak cepat. Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian global.
Selain Presiden, jajaran menteri ekonomi turut memantau perkembangan tersebut secara intensif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa disebut terus berkoordinasi untuk mengantisipasi berbagai skenario yang mungkin terjadi. Pemerintah berupaya memastikan agar gejolak eksternal tidak berdampak signifikan terhadap stabilitas dalam negeri.
Rosan menekankan bahwa investasi memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, menjaga kepercayaan investor menjadi prioritas utama. Pemerintah juga terus mengawal kinerja ekspor agar tetap kompetitif di tengah potensi gangguan perdagangan global akibat konflik.
BACA JUGA: 6.047 Jemaah Umrah Kembali ke Indonesia dengan Aman
“Karena, kan, investasi ini mempunyai kontribusi yang besar terhadap perekonomian kita. Jadi tiap hari Bapak Presiden beserta jajaran untuk terus melihat bagaimana kita ini tetap menjaga pertumbuhan kita, kita juga tetap menjaga ekspor,” jelasnya.
Meski demikian, Rosan tidak menutup mata terhadap potensi risiko, terutama jika konflik meluas dan berdampak pada harga minyak dunia atau volatilitas pasar keuangan. Oleh sebab itu, pendekatan yang ditempuh adalah kombinasi antara kewaspadaan dan optimisme terukur. Indonesia, menurutnya, harus siap merespons cepat setiap perubahan kondisi global.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pemerintah berupaya menempatkan Indonesia sebagai negara yang stabil, adaptif, dan terbuka terhadap peluang baru. Bagi Rosan, momentum krisis global tidak selalu berarti ancaman. Dengan strategi yang tepat dan koordinasi yang solid, Indonesia justru dapat memperkuat posisinya sebagai tujuan investasi alternatif di kawasan Asia.