NarayaPost – Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev meyakini, Kongres Amerika Serikat (AS) tidak akan mengizinkan Washington keluar dari NATO, karena tidak ada alasan untuk hengkang dari aliansi militer terbesar dunia itu.
Pada Rabu (1/4/2026), Presiden Donald Trump menyatakan ia serius mempertimbangkan kemungkinan negaranya menarik diri dari NATO, setelah aliansi tersebut menolak membantu operasi militer melawan Iran.
“Tidak, Trump tidak akan meninggalkan NATO, dan Amerika juga tidak.”
“Tidak ada alasan nyata untuk itu, dan Kongres tidak akan mengizinkannya,” ujar Medvedev, Jumat (3/4/2026).
Medvedev menyebut pernyataan Trump itu hanya gertakan.
Namun, kata Medvedev, Trump mungkin melakukan beberapa langkah untuk menunjukkan ketegasan sikapnya, di antaranya mengurangi jumlah kontingen Amerika di NATO, atau menahan pengiriman pasukan.
Medvedev mengatakan, agresi AS dan Israel terhadap Iran telah memperburuk kontradiksi kuat yang ada di dalam NATO, dengan beberapa politikus Eropa mulai benar-benar mempertimbangkan pembentukan komponen militer penuh di dalam Uni Eropa.
Tidak Butuh
Presiden AS Donald Trump mendesak anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mengumpulkan keberanian mengirimkan kapal angkatan laut ke Selat Hormuz.
“Mereka harus berani masuk dan mengirimkan kapal-kapal mereka ke sana dan menikmatinya,” kata Trump kepada harian Politico, Kamis.
Dalam pernyataannya yang terkesan meremehkan aliansi militer tersebut, Trump menyinggung absennya aliansi itu di Selat Hormuz, yang kini berada di bawah kendali Iran, sebagai respons atas serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran.
“Saya tidak peduli.”
“Saya tidak membutuhkan mereka,” jawab Trump ketika ditanya apakah ia frustasi terhadap NATO.
Jalur pelayaran Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, telah terganggu sejak awal Maret sebagai imbas konflik antara AS-Israel dan Iran.
BACA JUGA: Trump Makin Serius Mau Tinggalkan NATO
Trump telah berulang kali mendesak sekutu Eropa dan negara-negara Teluk, untuk mengambil peran yang lebih aktif dalam mengamankan selat tersebut, dengan alasan negara-negara yang bergantung pada minyak yang melalui Hormuz harus bertanggung jawab untuk membukanya kembali.
Menurut laporan The Wall Street Journal, Trump akan bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Washington minggu depan.
Sepanjang sejarah, NATO hanya sekali menggunakan Pasal 5 dari perjanjian pertahanan kolektifnya, yaitu setelah serangan teroris tahun 2001 terhadap AS.
Pasal tersebut menyatakan serangan bersenjata terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, yang mewajibkan sesama anggota membantu pihak yang diserang.
Namun kini, sekutu NATO mengkritik Trump karena memulai perang melawan Iran tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan mereka.
Dalam wawancara terpisah dengan harian Inggris The Telegraph, Trump menyebut anggota NATO pengecut, dan mempertimbangkan kemungkinan AS menarik diri dari aliansi tersebut.
BACA JUGA: Kecewa Tak Dibantu NATO Lawan Iran, Trump: Macan Kertas!
Meninggalkan NATO secara sepihak, ebuah langkah yang telah diisyaratkan Trump sejak masa jabatan pertamanya, akan menghadapi rintangan aturan yang signifikan.
Undang-undang tahun 2023 melarang Presiden AS menarik diri dari aliansi, tanpa dukungan mayoritas dua pertiga di Senat AS.
Jelaskan Manfaat
Duta Besar AS untuk NATO Matthew Whitaker pada Kamis menyerukan negara-negara anggota menjelaskan kepada AS, bagaimana aliansi tersebut tetap bermanfaat bagi Washington.
“Presiden akan membuat keputusan.”
“Dia akan mengatakan apakah AS akan melanjutkan hubungan ini atau tidak.”
“Sekaranglah saatnya bagi sekutu kita untuk menjelaskan mengapa mereka bermanfaat bagi AS, dan meningkatkan dukungan,” cetus Whitaker kepada Fox News.
Utusan tersebut juga menyoroti adanya perbedaan pendekatan antara AS dan negara-negara Eropa, dengan menyebut Washington lebih mengedepankan tindakan, sementara sekutunya di Eropa cenderung menekankan dialog dan pembahasan.
Whitaker selanjutnya mengumumkan akan melakukan perjalanan ke Washington minggu depan bersama dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, untuk bertemu Presiden Trump. (*)