Saat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Perlahan Terus Naik

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi. Dok. CurrencyTransfer.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Sebagai jantung ekonomi Asia Tenggara, Indonesia menampilkan potret dinamika ekonomi yang kompleks dan berlapis. Dari sektor industri hingga jasa, setiap komponen memainkan peran penting dalam menopang pertumbuhan nasional. Berdasarkan data terbaru, saat pertumbuhan ekonomi melalui industri masih menjadi penopang utama dengan kontribusi mencapai 46,5 persen terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB). Di dalamnya, sektor manufaktur menempati posisi paling vital sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi dengan sumbangan sekitar 24 persen dari total output.

Selain itu, kegiatan pertambangan dan penggalian berkontribusi sebesar 12 persen, sementara sektor konstruksi menyumbang 10 persen, dan penyediaan listrik, gas, serta air sekitar 0,75 persen. Dari sisi lain, bidang jasa tetap menjadi penyeimbang utama dalam struktur ekonomi Indonesia dengan kontribusi mencapai 38 persen terhadap total PDB. Di antara kelompok jasa tersebut, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki peran dominan dengan porsi sekitar 14 persen.

Sementara itu, transportasi dan komunikasi mencatatkan kontribusi sekitar 7 persen, begitu pula dengan sektor keuangan, real estat, dan layanan bisnis yang juga menyumbang 7 persen. Adapun layanan pemerintahan memberikan tambahan sekitar 6 persen. Selebihnya, sektor pertanian tetap menjadi fondasi ekonomi masyarakat di berbagai daerah dengan sumbangan sebesar 15 persen terhadap keseluruhan PDB.

Saat Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi Konsumsi Masyarakat pada Saat Belanja Bulanan. Dok. Investor Daily.

BACA JUGA: Prabowo Bakal Bangun Sekolah Terintegrasi di Tiap Kecamatan

Saat Pertumbuhan Ekonomi Naik, Apa Faktornya?

Langit ekonomi Indonesia tampak stabil meski awan ketidakpastian global masih menggantung. Di tengah tekanan eksternal dan perubahan harga komoditas dunia, laju pertumbuhan nasional tetap menunjukkan ketahanan yang patut dicatat. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru mengenai perkembangan ekonomi Indonesia untuk periode kuartal III-2025, yang hasilnya berada dalam kisaran perkiraan pelaku pasar.

Pada Rabu, 22 Mei 2025, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh Edy Mahmud, mengumumkan bahwa perekonomian Indonesia yang dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 6.060 triliun atas dasar harga berlaku (ADHB) pada kuartal III-2025. Ia menjelaskan bahwa “ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya” yang berarti menunjukkan kinerja yang sejalan dengan ekspektasi. Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun Bloomberg, pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut memang diperkirakan berada di kisaran 5 persen year on year.

Meski masih berada dalam jalur positif, angka pertumbuhan kali ini sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II-2025, pertumbuhan PDB tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan yang menjadi capaian tertinggi dalam dua tahun terakhir. Jika dilihat secara kuartalan atau quarter to quarter, perekonomian Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 1,43 persen, menandakan aktivitas ekonomi domestik masih terjaga dengan baik.

Ilustrasi Ekonomi yang Terus Tumbuh. Dok. Unsplash.

Kondisi Global Turut Pengaruhi Arah Ekonomi Nasional

Dalam paparannya, Edy juga menyinggung kondisi global yang ikut memengaruhi arah ekonomi nasional. Ia menyampaikan bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) telah “menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,2 persen” sementara negara-negara berkembang diperkirakan tumbuh hingga 4,2 persen. Menurutnya, “pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan Singapura pada kuartal III-2025 mengalami perlambatan, sedangkan Korea Selatan dan Vietnam diprediksi tumbuh lebih kuat, dan ekonomi beberapa mitra dagang utama Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif.”

Edy menjelaskan bahwa pergerakan harga komoditas utama ekspor Indonesia menunjukkan pola yang beragam. Harga CPO dan bijih besi mengalami peningkatan, sementara batu bara dan minyak mentah naik secara kuartalan tetapi masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, gas alam justru menurun dalam jangka pendek namun naik secara tahunan, sedangkan harga nikel terus mencatat penurunan. Ia menambahkan bahwa “sepanjang kuartal III-2025, Indonesia tetap membukukan surplus neraca perdagangan dengan nilai ekspor mencapai 74,39 miliar dolar AS atau tumbuh 8,96 persen secara tahunan, sedangkan impor mencapai 60,39 miliar dolar AS atau turun 2,09 persen.”

Konsumsi Masyarakat Jadi Dukungan Utama

Lebih lanjut, Edy memaparkan bahwa daya tahan ekonomi pada kuartal III-2025 didukung oleh konsumsi masyarakat yang tetap kuat. Hal ini tercermin dari peningkatan konsumsi per kapita untuk jasa makanan, minuman, akomodasi, serta berbagai barang dan jasa lainnya yang masing-masing tumbuh 5,76 persen dan 7,49 persen secara tahunan. Ia menegaskan bahwa “aktivitas produksi nasional masih terjaga, yang terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang tetap berada di zona ekspansif.”

Selain itu, investasi menjadi salah satu faktor utama yang menjaga momentum pertumbuhan. Realisasi penanaman modal dalam negeri maupun asing mencatat pertumbuhan sebesar 13,89 persen secara tahunan. Menurut Edy, peningkatan ini juga sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat yang turut memperkuat aktivitas ekonomi domestik.

Ia menambahkan bahwa “kebijakan ekonomi pemerintah turut menopang laju pertumbuhan, mulai dari pengendalian inflasi, penetapan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate), hingga kebijakan fiskal yang diarahkan untuk meningkatkan efektivitas belanja negara.” Keseluruhan indikator tersebut menunjukkan bahwa meski tekanan global belum sepenuhnya reda, perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang relatif stabil dengan dukungan kebijakan yang terkoordinasi.

Saat Pertumbuhan Ekonomi
Ilustrasi Ekonomi. Dok. Bapedda.

Sorotan Tajam Soal Pertumbuhan Ekonomi RI

Suasana dinamika pasar kerja Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Data ini memperlihatkan bagaimana geliat perekonomian nasional bergerak di tengah tantangan global yang kian kompleks. Dari hasil survei tersebut, jumlah penduduk usia kerja tercatat mencapai 218,17 juta orang, meningkat sebanyak 2,8 juta dibandingkan Agustus 2024. Dari angka itu, 154 juta orang tergolong sebagai angkatan kerja, sedangkan 64,17 juta lainnya bukan termasuk dalam kelompok angkatan kerja.

Dari seluruh penduduk bekerja, sebanyak 67,32 persen atau setara dengan 98,65 juta orang dikategorikan sebagai pekerja penuh, yakni mereka yang bekerja setidaknya selama 35 jam per minggu. Persentase ini mengalami penurunan dibandingkan dengan Agustus 2024 yang berada di angka 68,08 persen dan tahun sebelumnya sebesar 68,92 persen. Penurunan ini menunjukkan adanya perubahan dalam struktur ketenagakerjaan nasional yang perlu dicermati lebih lanjut. Di sisi lain, BPS juga mencatat bahwa jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada periode yang sama mencapai sekitar 58 ribu orang, atau berkontribusi sebesar 0,77 persen terhadap total 7,46 juta pengangguran nasional.

Bila dilihat dari sektor penyumbangnya, industri pengolahan menjadi sektor dengan jumlah PHK tertinggi yakni mencapai 22.800 orang, disusul oleh sektor perdagangan dengan 9.700 orang, serta sektor pertambangan dengan 7.700 orang. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan bahwa fenomena PHK tersebut tidak dapat dipisahkan dari dinamika penyerapan tenaga kerja yang juga berlangsung bersamaan.

“Sebenarnya ada yang PHK dan ada yang masuk diserap lapangan kerja, kebetulan di Agustus itu juga jumlah angkatan kerjanya meningkat, tetapi dengan peningkatan jumlah angkatan kerja itu ada banyak yang diserap tetapi ada juga yang menganggur,” ujar Amalia saat berbincang dengan wartawan sebelum menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Saat Pertumbuhan Ekonomi
Tenaga Kerja Indonesia. Dok. Bisnis.com

Tenaga Kerja Indonesia Terus Bergerak Dinamis

Lebih lanjut, Amalia menegaskan bahwa pasar tenaga kerja Indonesia terus bergerak dinamis seiring dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Berdasarkan data Sakernas Agustus 2025, penduduk usia kerja meningkat sebanyak 2,8 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total tersebut, kelompok angkatan kerja meningkat sebesar 1,89 juta orang, sementara kelompok bukan angkatan kerja bertambah 0,91 juta orang.

Dalam kelompok angkatan kerja yang berjumlah 154 juta orang itu, sebanyak 146,54 juta orang tercatat telah bekerja, atau mengalami peningkatan sebesar 1,9 juta orang dibandingkan tahun lalu. Sementara jumlah pengangguran menurun sebanyak 4.000 orang, sehingga total pengangguran nasional menjadi 7,46 juta jiwa. Berdasarkan data tersebut, BPS menyimpulkan bahwa penyerapan tenaga kerja di Indonesia bertambah sebanyak 1,9 juta orang dalam rentang waktu Agustus 2024 hingga Agustus 2025. “Jadi memang di dalam pasar tenaga kerja itu ada yang masuk dan ada yang keluar,” ungkap Amalia yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Deputi di Kementerian PPN/Bappenas.

Kondisi Pasar Kerja Terus Alami Perubahan

Pergerakan ini menggambarkan kondisi pasar kerja Indonesia yang tengah beradaptasi dengan berbagai perubahan, baik dari sisi kebijakan ekonomi nasional maupun tekanan global. Meski terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja terserap, penurunan proporsi pekerja penuh dan meningkatnya angka PHK menunjukkan bahwa tantangan kualitas pekerjaan masih menjadi isu penting. Struktur tenaga kerja yang didominasi oleh sektor informal dan rentan terhadap guncangan ekonomi juga menjadi catatan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan ke depan.

Melalui data yang ditampilkan dalam hasil Sakernas Agustus 2025 menjadi cerminan bahwa di balik pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, dinamika pasar tenaga kerja Indonesia masih menyimpan berbagai tantangan. Keseimbangan antara penyerapan tenaga kerja baru, kualitas pekerjaan, dan upaya menjaga stabilitas sektor industri menjadi kunci penting dalam memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Sektor Pertanian yang Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Dok. Paskomnas.

Kunci Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan kembali menunjukkan ketangguhannya sebagai penopang utama perekonomian Indonesia. Sektor ini kembali menjadi garda depan dalam menjaga stabilitas nasional, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada triwulan III-2025 mencapai 14,35 persen. Angka tersebut naik dari 13,83 persen pada triwulan sebelumnya, menegaskan bahwa pertanian tetap menjadi sektor vital setelah industri pengolahan sekaligus menggambarkan daya tahan tinggi sektor ini terhadap tekanan eksternal.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diumumkan pada 5 November 2025, nilai PDB sektor pertanian pada triwulan III-2025 tercatat sebesar Rp869,4 triliun atas dasar harga berlaku, meningkat dari Rp822,6 triliun pada triwulan II-2025. Secara riil, pertumbuhan sektor pertanian mencapai 3,32 persen secara kuartalan (q-to-q) dan 4,93 persen secara tahunan (y-on-y), dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 5,37 persen (c-to-c) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian ini memperlihatkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan serta meningkatkan produktivitas pertanian mulai menampakkan hasil yang signifikan di lapangan.

Berbagai program yang dicanangkan pemerintah seperti modernisasi alat dan mesin pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, hingga perluasan area tanam menjadi faktor yang menopang peningkatan output sektor ini. Tidak hanya itu, kontribusi wilayah sentra produksi pangan turut memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Secara spasial, Sulawesi mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 5,84 persen, diikuti oleh Pulau Jawa dengan 5,17 persen, dan Sumatera dengan 4,90 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan-kawasan agraris tetap menjadi motor penggerak utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Ilustrasi Perdagangan. Dok. Finansial Today.

Kinerja Perdagangan Luar Negeri Tunjukkan Sisi Positif

Selain dari sisi produksi domestik, kinerja perdagangan luar negeri juga menunjukkan sinyal positif. Ekspor barang dan jasa mengalami peningkatan sebesar 9,91 persen secara tahunan (y-on-y). Tren ini sejalan dengan dorongan hilirisasi sektor pertanian yang dilakukan pemerintah, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan ekspor seperti kelapa sawit, kopi, dan hasil hortikultura yang terus dikembangkan untuk menembus pasar global.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai pencapaian tersebut sebagai bukti bahwa sektor pertanian kini tidak lagi hanya berperan sebagai penyedia bahan pangan, melainkan telah berevolusi menjadi penggerak utama ekonomi rakyat. “Kita tidak boleh hanya berpikir menanam dan panen, pertanian harus memberi nilai tambah, kita dorong hilirisasi dan ekspor agar petani menikmati hasil yang lebih besar,” ujar Mentan Amran dalam keterangannya.

Adanya peningkatan kontribusi yang berkelanjutan, sektor pertanian kini memegang peranan strategis dalam menopang ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat struktur ekonomi yang lebih inklusif dan berkeadilan. Momentum positif ini juga memperlihatkan bahwa penguatan sektor riil melalui investasi produktif di bidang pangan dan agribisnis dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan di masa mendatang.

Sektor ini bukan sekadar penyangga, melainkan juga simbol ketahanan bangsa dalam menghadapi tekanan global yang penuh ketidakpastian. Dengan langkah kebijakan yang konsisten, penguatan teknologi pertanian, serta peningkatan kesejahteraan petani, pertanian Indonesia perlahan meneguhkan posisinya sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi yang tak hanya berorientasi pada angka, tetapi juga pada kemandirian dan keberlanjutan.

Ilustrasi Tumbuh. Dok. Unsplash.

Fondasi Pertumbuhan Ekonomi Masih Terjaga

Melihat keseluruhan lanskap perekonomian Indonesia pada kuartal III-2025, terlihat bahwa fondasi pertumbuhan nasional masih terjaga di tengah tekanan global yang tidak menentu. Data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa meski laju pertumbuhan ekonomi sedikit melambat dibandingkan kuartal sebelumnya, kinerja berbagai sektor tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Sektor industri masih memegang peran utama sebagai penggerak pertumbuhan, diikuti oleh sektor jasa yang menjaga keseimbangan ekonomi domestik. Namun, sorotan justru datang dari sektor pertanian yang berhasil memperkuat kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menandai pergeseran penting dalam struktur ekonomi Indonesia.

BACA JUGA: Prabowo Subianto: Saya Tidak Takut Jokowi

Dari sisi ketenagakerjaan, dinamika pasar kerja menunjukkan arah yang beragam. Peningkatan jumlah penduduk usia kerja dan angkatan kerja menandakan potensi besar bagi ekonomi nasional, meski tantangan tetap hadir dalam bentuk penurunan jumlah pekerja penuh dan meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini mencerminkan bahwa kualitas dan stabilitas lapangan kerja masih menjadi isu utama dalam menjaga daya beli masyarakat dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi ke depan.

Sementara itu, di tengah situasi ekonomi global yang fluktuatif, Indonesia mampu mempertahankan surplus perdagangan dan pertumbuhan investasi yang positif. Dukungan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi, pengendalian suku bunga, serta efektivitas belanja negara menjadi faktor penting yang menahan perekonomian agar tetap berada di jalur yang sehat.

Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak hanya bergantung pada sektor industri, tetapi juga semakin bergeser ke arah penguatan sektor riil seperti pertanian dan jasa. Ketahanan sektor-sektor tersebut memberikan gambaran bahwa fondasi ekonomi nasional masih kokoh untuk menghadapi tantangan eksternal. Dengan menjaga konsistensi kebijakan, mendorong produktivitas, serta memperkuat daya saing ekspor, Indonesia memiliki peluang untuk mempertahankan stabilitas sekaligus memperluas ruang pertumbuhan yang inklusif di tahun-tahun mendatang.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like