Segini Pasokan Minyak Global yang Hilang Akibat Perang!

Cadangan Minyak Global yang diwacanakan berhenti akibat penutupan jalur perdagangan vital, Selat Hormuz.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) tengah melakukan konsultasi intensif dengan pemerintah di Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak. Langkah ini dipertimbangkan sebagai respons atas meningkatnya ketegangan geopolitik akibat perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berdampak langsung pada stabilitas pasokan minyak global.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menegaskan bahwa lembaganya akan mengambil langkah tambahan jika situasi memang mengharuskan. Namun, keputusan tersebut tidak akan diambil secara tergesa-gesa, melainkan melalui analisis menyeluruh terhadap kondisi pasar energi global.

“Jika memang diperlukan, tentu kami akan melakukannya. Kami akan melihat kondisi, menganalisis dan menilai pasar, serta berdiskusi dengan negara-negara anggota,” ujar Birol di Canberra, pada Senin (23/3), saat memulai rangkaian kunjungan globalnya.

BACA JUGA: Trik Ahli Gizi Menikmati Sajian Lebaran Tanpa Khawatir Kolesterol

Negara Anggota IEA Sepakat Lepas Cadangan Minyak Global

Sebelumnya, pada 11 Maret, negara-negara anggota IEA telah sepakat untuk melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar, yakni sekitar 400 juta barel. Jumlah tersebut setara dengan kurang lebih 20 persen dari total cadangan yang dimiliki bersama, dan menjadi salah satu pelepasan terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. Langkah ini diambil untuk meredam lonjakan harga minyak dunia yang dipicu ketidakpastian pasokan.

Meski demikian, Birol menegaskan bahwa tidak ada ambang batas harga tertentu yang secara otomatis memicu pelepasan tambahan cadangan minyak. Keputusan akan tetap berbasis pada dinamika pasar dan kebutuhan riil.

“Pelepasan cadangan dapat membantu menenangkan pasar, tetapi ini bukan solusi. Langkah ini hanya akan membantu mengurangi tekanan terhadap perekonomian,” ucap Birol.

Konflik Saat Ini Berdampak Serius Terhadap Sistem Energi

Lebih jauh, ia menilai bahwa konflik yang terjadi saat ini memiliki dampak yang sangat serius terhadap sistem energi global. Bahkan, menurutnya, skala krisis kali ini melampaui gabungan krisis minyak pada era 1970-an serta gangguan pasokan gas akibat perang Rusia-Ukraina.

Birol menyebut bahwa perang di Iran telah menghilangkan pasokan minyak global hingga sekitar 11 juta barel per hari, angka yang jauh lebih besar dibandingkan dua krisis sebelumnya. Kondisi ini memperburuk ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan energi di pasar internasional.

“Solusi paling penting untuk masalah ini adalah membuka Selat Hormuz,” lanjut Birol.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi dunia, terutama bagi kawasan Asia Pasifik yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Gangguan di wilayah ini secara langsung berdampak pada rantai pasok global, termasuk komoditas penting lain seperti pupuk dan helium.

Krisis Energi Belum Sepenuhnya Disadari

Birol juga mengingatkan bahwa tingkat keparahan krisis energi saat ini belum sepenuhnya disadari oleh para pengambil kebijakan di berbagai negara. Karena itu, ia memutuskan untuk mulai berbicara secara terbuka setelah konflik berlangsung selama tiga pekan.

Selain pelepasan cadangan minyak, IEA juga mempertimbangkan berbagai langkah alternatif untuk menekan konsumsi energi. Di antaranya adalah pembatasan kecepatan kendaraan serta penerapan kerja dari rumah atau work from home, seperti yang pernah dilakukan di Eropa pada 2022. Kebijakan tersebut terbukti efektif dalam mengurangi konsumsi energi secara signifikan.

Namun, Birol menekankan bahwa setiap negara perlu menyesuaikan kebijakan penghematan energi dengan kondisi domestik masing-masing. Tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan secara seragam di seluruh dunia.

BACA JUGA: Selama Mudik, Mayoritas Warga Gunakan Kendaraan Umum

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung kondisi Australia yang dinilai masih memiliki cadangan bahan bakar cair di bawah standar IEA. Meski begitu, pemerintah setempat disebut telah melakukan sejumlah perbaikan, termasuk menjaga cadangan solar selama 30 hari yang dinilai cukup solid.

Canberra menjadi titik awal tur global Birol, mengingat kawasan Asia Pasifik berada di garis depan krisis energi saat ini. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan kawasan terhadap pasokan energi yang melewati jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Setelah bertemu dengan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, Birol dijadwalkan melanjutkan kunjungannya ke Jepang sebelum menghadiri pertemuan negara-negara Group of Seven (G7), yang juga akan membahas isu ketahanan energi global.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like