Sejumlah Negara yang Terdampak Akibat Penutupan Selat Hormuz

Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak global yang sangat vital bagi negara-negara timur tengah. Diduga ditutup oleh Iran akibat terjadinya ekskalasi.
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia yang terletak di selatan Iran, dilaporkan ditutup menyusul serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2). Penutupan ini segera memicu kekhawatiran luas di pasar global karena selat tersebut merupakan salah satu titik paling strategis dalam distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Akibat penutupan tersebut, sejumlah negara ini turut terkena dampak!

Sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan minyak, hingga perusahaan perdagangan komoditas memutuskan menahan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan LNG yang melintasi perairan tersebut. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan di kawasan Teluk. Meski belum ada penghentian total lalu lintas, ketidakpastian situasi membuat pelaku industri memilih menunggu perkembangan lebih lanjut.

Sejumlah Negara Sebut Penutupan Tak Memiliki Kekuatan Hukum Internasional

Di sisi lain, Angkatan Laut Inggris menilai perintah penutupan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum internasional. Otoritas maritim Inggris tetap meminta kapal-kapal niaga untuk melintas dengan kewaspadaan tinggi dan mengikuti protokol keamanan yang berlaku. Pernyataan ini menunjukkan adanya perbedaan sikap di antara aktor-aktor internasional terkait legitimasi penutupan jalur pelayaran tersebut.

BACA JUGA: Pembelian Emas di Thailand Dibatasi, Harga Terus Naik!

Perusahaan pialang Poten & Partners mencatat gangguan lalu lintas meningkat cepat dalam beberapa hari terakhir. Mengutip Reuters, seorang eksekutif perusahaan perdagangan besar menyatakan bahwa kapal-kapal mereka akan tetap berada di posisi saat ini selama beberapa hari ke depan. Sikap menahan diri ini memperlihatkan betapa tingginya ketidakpastian yang membayangi arus distribusi energi global.

Citra satelit pelacak kapal menunjukkan antrean tanker menumpuk di sekitar pelabuhan utama seperti Fujairah, Uni Emirat Arab, tanpa bergerak menuju Selat Hormuz. Kondisi tersebut mempertegas kekhawatiran pasar atas potensi tersendatnya pasokan energi dunia jika ketegangan terus berlanjut.

Selat Hormuz Jadi Jalur yang Sangat Krusial

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur krusial bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global. Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentah mereka melalui selat tersebut, terutama untuk memenuhi permintaan pasar Asia. Selain minyak, Qatar—salah satu eksportir LNG terbesar dunia—mengirimkan hampir seluruh pasokan gas alam cairnya melalui jalur yang sama.

Produsen utama dalam aliansi OPEC+, khususnya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dilaporkan telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari rencana darurat. Kedua negara juga berupaya memaksimalkan jalur alternatif guna mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz. Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS tahun lalu, terdapat sekitar 2,6 juta barel per hari kapasitas pipa yang tidak terpakai dari jaringan UEA dan Saudi yang dapat dimanfaatkan untuk menghindari jalur tersebut.

BACA JUGA: Arab Saudi Pertimbangkan Balas Serangan Iran

China Jadi Negara yang Paling Bergantung pada Minyak

Analisis Bloomberg menunjukkan bahwa sejumlah negara, termasuk China menjadi negara yang paling bergantung pada minyak yang transit di Selat Hormuz, dengan porsi sekitar 38 persen dari total aliran. India menyusul dengan 15 persen, kemudian kawasan Asia lainnya 14 persen, Korea Selatan 12 persen, dan Jepang 11 persen. Ketergantungan tinggi negara-negara Asia ini membuat kawasan tersebut paling rentan terhadap lonjakan harga dan gangguan pasokan.

Jika konflik berlarut tanpa penyelesaian cepat, harga minyak diperkirakan melonjak ketika perdagangan dibuka awal pekan. Harga minyak mentah Brent sebelumnya telah naik ke kisaran USD 70 per barel, tertinggi sejak Agustus 2025, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Pasar energi kini menghadapi salah satu guncangan terberat dalam beberapa dekade terakhir, di tengah ancaman balasan militer dan ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk.

Perhatian utama pasar tetap tertuju pada kelancaran arus di Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang setiap hari menangani hampir 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan. Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai gangguan total pengiriman, namun ancaman dan ketidakpastian saja sudah cukup mengguncang sentimen dan mendorong harga minyak global ke level yang lebih tinggi.

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like