Sekjen NATO Dinilai Rusak Negosiasi Damai Rusia-Ukraina

Menteri Pertahanan Belarusia Viktor Khrenin mengungkapkan, para pemimpin negara-negara NATO Eropa tidak merahasiakan fakta sedang bersiap perang melawan Moskow dan Minsk. Foto: ceris.be
750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto mengecam pernyataan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte, yang menyebut Rusia berpotensi menyerang aliansi tersebut dalam lima tahun ke depan.

Szijjarto menyebut pernyataan Rutte sebagai tindakan yang sembrono.

Melalui platform media sosial X, Jumat (12/12/2025), Szijjarto mengatakan Rutte telah melontarkan sejumlah pernyataan yang tidak bertanggung jawab, termasuk klaim NATO merupakan target Rusia berikutnya, serta anggapan keamanan Ukraina sama dengan keamanan negara-negara NATO.

Menurut Szijjarto, siapa pun yang masih meragukan ‘apakah akal sehat telah hilang sepenuhnya’ di Brussels, seharusnya diyakinkan oleh pernyataan-pernyataan tersebut.

Sebagai anggota NATO, Hungaria dengan tegas menolak klaim tersebut.

Ia menekankan, keamanan negara-negara Eropa dijamin oleh NATO sendiri, bukan oleh Ukraina.

BACA JUGA: Rusia Siap Kasih Jaminan Takkan Serang NATO dan Uni Eropa

Ukraina, katanya, berjuang untuk keamanan negaranya sendiri, bukan untuk keamanan Hungaria atau negara lain di Eropa.

Szijjarto juga menilai pernyataan Rutte sebagai sinyal jelas Brussels berdiri berseberangan dengan upaya perdamaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ia menyebut Sekretaris Jenderal NATO tersebut telah secara efektif merusak proses negosiasi perdamaian, di tengah berlanjutnya pembahasan rencana damai yang didukung Amerika Serikat antara Ukraina dan Rusia.

Ia menambahkan, pernyataan provokatif semacam itu bersifat tidak bertanggung jawab dan berbahaya.

Ia lantas mendesak Mark Rutte segera menghentikan tindakan yang dapat memperuncing ketegangan perang.

Target Berikutnya

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengingatkan, Rusia bisa menyerang negara-negara anggota pakta pertahanan itu, dalam lima tahun ke depan.

Dalam pidatonya di Konferensi Keamanan Munich di Berlin, Jerman, Kamis (11/12/2025), Rutte mendesak para anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan dan memperkuat daya tangkal.

“Kita harus benar-benar jelas tentang ancaman ini.”

“Kita adalah target berikutnya bagi Rusia,” tegasnya.

Menurut Rutte, pertahanan NATO saat ini masih mampu bertahan.

“Namun, dengan ekonomi yang didedikasikan untuk perang, Rusia bisa siap menggunakan kekuatan militernya terhadap NATO dalam waktu lima tahun,” imbuhnya.

BACA JUGA: Vladimir Putin: Rusia Tidak Berniat Serang Eropa

Rusia, kata Rutte, telah meningkatkan produksi pertahanannya secara signifikan selama perang di Ukraina.

Rutte mengeklaim, Rusia memproduksi sekitar 2.000 rudal jelajah dan balistik tahun ini, serta menghasilkan sekitar 2.900 drone serang setiap bulan.

Dia menuduh Rusia melancarkan perang hibrida terhadap negara-negara Barat, serta mendalangi operasi rahasia, serangan sabotase terhadap infrastruktur penting, dan pelanggaran wilayah udara, termasuk dengan drone.

“Respons NATO terhadap provokasi Rusia sejauh ini tenang, tegas, dan proporsional.”

“Namun, kita harus bersiap menghadapi potensi eskalasi dan konfrontasi lebih jauh.”

“Serangan terhadap satu anggota berarti serangan terhadap semuanya.”

“Setiap agresor harus tahu, kita bisa dan akan membalas dengan keras,” ucap Rutte.

Rutte menyambut keputusan Pemerintah Jerman meningkatkan belanja pertahanan dan rencana melakukan investasi pertahanan besar-besaran.

Dia menilai langkah Jerman itu signifikan, mengingat ekonominya paling besar di Eropa.

Dia juga mengkritik mereka yang menentang langkah itu dan mengingatkan ancaman Rusia itu nyata.

“Saya tahu di Jerman, ada sebagian orang yang mempertanyakan, apakah kita benar-benar perlu melakukan ini?”

“Ya. Jika Anda mencintai Bahasa Jerman dan tidak ingin berbicara bahasa Rusia, ini sangat penting.”

“Ini sesuatu yang mutlak, karena kalau tidak, orang ini tidak akan berhenti di Ukraina.”

“Itulah yang harus benar-benar kita waspadai,” kata Rutte dalam diskusi bersama Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul, merujuk pada seseorang yang kemungkinan adalah Presiden Rusia Vladimir Putin. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like