NarayaPost – Sektor pangan Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan besar sekaligus, yakni meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan potensi dampak fenomena iklim El Nino yang diperkirakan terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah menilai kedua faktor tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas ketahanan pangan nasional jika tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa ketahanan pangan Indonesia saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor domestik, tetapi juga dinamika global. Menurutnya, konflik di Timur Tengah dapat berdampak terhadap stabilitas rantai pasok pangan dunia serta harga komoditas global.
“Jadi, ada dua kita hadapi, kondisi geopolitik memanas dan pengumuman BMKG ada kekeringan. Ini dua-dua harus kita jawab. Kita ada pengalaman menghadapi El Nino yang paling keras. Ini kan El Nino, nanti bulan 4. El Nino kita hadapi yang paling dahsyat 2023, Ahamdulillah kita bisa lolos. Dari rencana impor waktu itu 10 juta, kami ikut ratas, alhamdulillah kita bisa redam hanya 3 juta lebih,” katanya dalam konferensi pers di Kementan, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
BACA JUGA : Spanyol Tolak Bantu AS, Presiden Iran: Nurani Masih Ada di Barat
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai dapat memengaruhi sistem perdagangan global, termasuk distribusi pangan dan energi. Konflik yang terjadi di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional serta meningkatkan harga energi dan logistik, yang pada akhirnya dapat berdampak pada biaya produksi pangan.
Dalam konteks global, sejumlah analis menilai konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah dapat memengaruhi rantai pasok pangan dunia. Jalur perdagangan penting, termasuk rute energi dan logistik internasional, menjadi sangat sensitif terhadap konflik berskala regional.
Dengan berbagai langkah tersebut, sektor pangan ataupun kondisi geopolitik timur tengah, Amran optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga. Apalagi produksi beras nasional terus berjalan setiap bulan dengan kisaran 2,6-5,7 juta ton, sementara kebutuhan nasional berada di sekitar 2,5 juta ton per bulan.
“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare. Pompa coverage-nya bisa menjangkau pompa kita 1,2 juta hektare yang tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare. Jadi, 2 juta nanti kita siapkan yang pada saat musim kering bisa kita airi. Pompanisasi sungai-sungai dan seluruhnya, sumur dalam, sumur dangka kita sudah siapkan. Jadi, infrastruktur sudah siap,” tegas Amran.
Menurut Amran, Indonesia pernah menghadapi El Nino yang lebih kuat pada periode 2015–2016 dan 2023. Pada saat itu, pemerintah sempat memperkirakan kebutuhan impor beras mencapai sekitar 10 juta ton, namun akhirnya berhasil ditekan hingga sekitar 3 juta ton melalui berbagai langkah mitigasi.
“Jadi ke depan insyaallah produksi kita aman. Jadi menghadapi geopolitik ini yang memanas dan menghadapi El Nino kita sudah ada pengalaman. Kami secara pribadi menghadapi di 2015-2016, kemudian 2023, dan itu jauh lebih dahsyat daripada sekarang, jadi ini nggak usah kita risaukan,” tutupnya.
Pengalaman tersebut menjadi dasar optimisme pemerintah dalam menghadapi potensi El Nino berikutnya. Strategi yang diterapkan antara lain peningkatan produksi domestik, optimalisasi lahan pertanian, serta penguatan cadangan pangan nasional.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong peningkatan teknologi pertanian, pembangunan irigasi, serta penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, pemerintah menyatakan bahwa kondisi stok beras nasional masih berada pada level yang relatif aman. Cadangan beras nasional saat ini tercatat sekitar 3,76 juta ton, yang disebut sebagai level tertinggi untuk periode bulan Maret sepanjang sejarah sehingga sektor pangan aman.
Pemerintah bahkan memperkirakan cadangan beras nasional dapat meningkat hingga mencapai sekitar 5 juta ton dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan peningkatan produksi padi di berbagai daerah.
Cadangan tersebut dinilai cukup untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan bagi masyarakat dalam jangka pendek.
BACA JUGA : Datang Lebih Awal, Musim Kemarau 2026 Memuncak di Agustus
Dengan pengalaman menghadapi El Nino sebelumnya serta kesiapan infrastruktur saat ini, Amran memastikan Indonesia mampu menghadapi potensi kekeringan sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian global.