Selat Hormuz Tutup Total Jika Pembangkit Listrik Iran Diserang

750 x 100 AD PLACEMENT

NarayaPost – Iran mengancam menutup total Selat Hormuz dan menyerang infrastruktur energi dan air di kawasan, jika Amerika Serikat (AS) menyerang fasilitas pembangkit listrik Iran.

“Iran akan sepenuhnya menutup Selat Hormuz dan meluncurkan serangan balasan terhadap infrastruktur energi dan air di kawasan, jika pembangkit listrik kami diserang,” kata otoritas Iran, seperti dilaporkan Al Jazeera, Senin (23/3/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga ancaman penutupan berpotensi mengguncang pasar energi global.

AS dan Israel terus menggempur wilayah Iran.

Israel mengeklaim berhasil mencegat sejumlah rudal yang diluncurkan Iran.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan menyatakan komitmennya menghancurkan Iran, setelah serangan yang melukai lebih dari 180 orang di Kota Arad dan Dimona.

Serangan udara juga dilaporkan menargetkan markas kelompok Popular Mobilisation Forces (PMF) yang berafiliasi dengan Iran di Baghdad, Irak.

Serangan ini terjadi setelah adanya serangan terhadap diplomat AS dan pusat logistik di bandara utama kota tersebut.

NATO Samakan Respons

Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Mark Rutte sangat yakin pihaknya mampu membuka kembali Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan Rutte, setelah Presiden AS Donald Trump akhir pekan lalu menyebut NATO penakut.

Lantaran operasi militer tersebut bersifat rahasia, kata Rutte, maka negara-negara NATO harus meluangkan waktu untuk menyamakan respons mereka.

“Sekutu dan mitra Eropa di seluruh dunia selama beberapa minggu terakhir ini terus memastikan kita bersatu.”

“Mereka mulai merencanakan untuk melihat apa yang dapat kita lakukan secara kolektif sebagai sekutu, sebagai mitra Amerika Serikat,” ungkap Rutte.

Dia juga menyebut operasi AS tersebut penting karena ancaman eksistensial dari Iran.

BACA JUGA: Selat Hormuz Terbuka untuk Semua Negara, Kecuali Musuh Iran

Sebelumnya, Trump mengecam NATO karena dianggap kurang mendukung perang AS dan Israel melawan Iran.

Trump bahkan menyebut NATO penakut.

“Negara-negara NATO adalah penakut,” tulis Trump di Truth Social, Sabtu (21/3/2o26).

Kecaman Trump ini muncul setelah pada Jumat NATO mengumumkan mereka ‘menyesuaikan’ misinya di Irak, setelah para pejabat di negara itu mengatakan pasukan non-tempur telah ditarik sementara karena perang Iran.

Pada Minggu, Trump mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam.

Trump mengancam bakal menghancurkan pembangkit listrik Iran, jika Selat Hormuz tidak dibuka.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dulu,” ancam Trump.

AS hingga kini menahan diri untuk tidak menargetkan lokasi energi Iran, di tengah kekhawatiran akan dampak langkah tersebut terhadap ekonomi global.

Tidak Ada Negara yang akan Kebal

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi yang sangat parah, buntut perang AS-Israel kontra Iran.

Dalam pidatonya di National Press Club, seperti diberitakan AFP pada Senin (23/3/2026), Birol membandingkan guncangan energi saat ini dengan krisis minyak bersejarah yang terjadi pada masa lalu.

Ia mencatat, skala gangguan pasokan saat ini melampaui gabungan dua krisis besar pada era 1970-an.

“Banyak dari kita yang mengingat dua krisis minyak berturut-turut pada tahun 1970-an.”

“Pada saat itu, di setiap krisis, dunia kehilangan sekitar lima juta barel per hari, jika keduanya digabungkan, menjadi 10 juta barel per hari,” ujar Birol.

Data terbaru menunjukkan lubang pasokan minyak global saat ini jauh lebih dalam dibandingkan periode kelam tersebut.

BACA JUGA: Ditutup Iran Saat Perang Lawan AS-Israel, Apa Itu Selat Hormuz?

Birol menekankan dampak yang dirasakan sekarang jauh lebih masif bagi stabilitas ekonomi dunia.

“Hingga hari ini, kita telah kehilangan 11 juta barel per hari, jadi ini lebih besar daripada gabungan dua guncangan minyak utama sebelumnya,” ungkapnya.

Birol juga menegaskan krisis ini merupakan isu global yang tidak mengenal batas wilayah.

Ia memperingatkan tidak ada negara yang akan kebal terhadap dampak luas krisis energi global yang tengah berlangsung. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like