NarayaPost – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengumumkan terbentuknya siklon tropis Hayley, sebuah sistem badai tropis yang kini aktif di Samudra Hindia selatan Indonesia. Selain itu, BMKG juga memantau bibit siklon tropis baru bernama 98S yang menunjukkan potensi awal pembentukan siklon, meski peluangnya untuk berkembang kuat dalam 24 jam mendatang masih diperkirakan rendah.
Siklon tropis merupakan fenomena cuaca ekstrem yang terbentuk di atas perairan hangat dengan angin berputar kencang dan tekanan rendah di pusat sistemnya. Siklon Hayley berasal dari bibit siklon tropis 96S yang kemudian menguat hingga memenuhi kriteria siklon. Sebaran angin kuat dan struktur sirkulasinya telah teridentifikasi oleh BMKG, sehingga diberi nama resmi sebagai sistem tropis bernama Hayley. Di wilayah Samudra Hindia selatan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), sistem ini berada cukup jauh dari wilayah daratan utama Indonesia, namun dampaknya tetap dirasakan melalui perubahan pola cuaca dan kondisi laut.
BACA JUGA : Kereta Cepat di China Cetak Rekor, Tembus Jarak Tempuh 50.000 Km
Siklon tropis Hayley terpantau bergerak menjauhi wilayah Indonesia menuju arah selatan laut terbuka, namun pergerakan dan intensitasnya terus dipantau secara berkala. BMKG memprediksi dalam 24 jam ke depan siklon ini berpotensi meningkat kekuatannya hingga kategori sedang dengan kecepatan angin maksimum yang konsisten, tetapi arah pergerakannya meminimalkan kemungkinan sistem ini memberikan dampak langsung berupa badai ke wilayah daratan Indonesia. Monitoring yang cermat tetap dilakukan untuk melihat perubahan arah atau intensitas yang mungkin terjadi seiring perubahan kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut, sehingga update informasi kepada publik dapat diberikan secepatnya jika diperlukan.
Walau pusat siklon tidak berada di atas daratan Indonesia, sistem ini tetap memiliki pengaruh signifikan terhadap kondisi cuaca di sejumlah wilayah, terutama bagian selatan Nusantara. BMKG mencatat bahwa dalam periode observasi saat ini, dampak tidak langsung dari siklon tropis Hayley dapat berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Hujan deras ini bisa terjadi ketika massa udara dari sistem siklon berinteraksi dengan pola pergerakan angin lokal yang membawa uap air ke wilayah yang lebih jauh dari pusat siklon itu sendiri.
Selain hujan, angin kencang juga mungkin terasa di beberapa daerah pesisir, khususnya di NTB dan NTT, yang dapat mempercepat gelombang laut dan memicu gelombang tinggi di perairan selatan. BMKG menyatakan bahwa potensi gelombang laut berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter di perairan selatan Jawa Tengah sampai Nusa Tenggara Timur, serta kemungkinan gelombang lebih tinggi mencapai 2,5–4 meter di Samudra Hindia selatan NTT. Kondisi ini menjadi perhatian bagi nelayan, pelaut, dan pihak yang beraktivitas di sekitar perairan tersebut, khususnya dalam beberapa hari ke depan hingga sistem siklon menunjukkan perubahan signifikan.
Selain Hayley, BMKG juga mencatat adanya bibit siklon tropis baru yang dinamakan 98S, yang mulai terbentuk pada pertengahan Desember di sekitar wilayah daratan Australia bagian utara. Bibit ini merupakan sistem tekanan rendah yang menunjukkan tanda-tanda awal pembentukan siklon tropis namun masih belum cukup kuat untuk ditetapkan sebagai siklon utama. Peluang 98S berkembang menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan masih tergolong rendah. Namun demikian, keberadaan sistem awal ini tetap perlu dipantau karena sirkulasi bibit tropis bisa mengalami perubahan jika kondisi lingkungan atmosfer dan laut mendukung peningkatan intensitas.
Fenomena bibit siklon tropis bukan hal yang jarang di perairan Samudra Hindia selatan dan sekitarnya. Bibit siklon, seperti 98S maupun 96S yang sebelumnya berkembang menjadi Hayley, merupakan bagian dari dinamika atmosfer global yang kerap memicu perubahan cuaca ekstrem dan gelombang laut tinggi tanpa harus secara langsung menjadi badai penuh. Bibit tropis ini sering disertai kawah tekanan rendah yang menarik massa udara lembap dan turut mempercepat pembentukan awan hujan tebal yang kemudian dapat membawa hujan deras hingga angin kencang di wilayah pesisir.
BACA JUGA : Kapolrestabes Surabaya Ingin Curanmor Diberantas
Siklon tropis dan bibitnya merupakan bagian dari sistem iklim global yang berpotensi membawa dampak luas. Meski terbentuk jauh dari garis khatulistiwa, tekanan rendah yang kuat sekaligus angin berputar di atas air hangat bisa memicu cuaca ekstrem yang tak terduga, terutama di wilayah pesisir dan lautan luas. Memahami ciri siklon dan bibitnya membantu masyarakat mempersiapkan langkah mitigasi sederhana, seperti merencanakan perjalanan laut, mengamankan properti di pesisir, atau sekadar menunda aktivitas luar ruangan saat hujan lebat diperkirakan terjadi.