NarayaPost – Proyek pembangunan tanggul beton di kawasan pesisir Cilincing, Jakarta Utara, kembali menjadi sorotan publik. Anggota DPR RI, khususnya dari Komisi IV, menegaskan bahwa solusi tanggul beton Cilincing tidak boleh berhenti hanya sebagai dokumen di atas kertas. Mereka menuntut adanya langkah nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya para nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari akses laut di kawasan tersebut.
BACA JUGA : Albania Pakai AI untuk Jadi Menteri, Sebut Tak Akan Korupsi
Sejak tanggul beton mulai dibangun, nelayan Cilincing mengeluhkan akses melaut mereka yang semakin sulit. Sebelum ada tanggul, perahu kecil bisa langsung menuju ke laut tanpa hambatan. Kini, jalur yang harus ditempuh lebih jauh dan berputar, sehingga mengakibatkan biaya bahan bakar meningkat, waktu melaut bertambah panjang, serta tenaga yang terkuras lebih besar.
Bagi nelayan kecil yang sehari-hari hanya mengandalkan hasil tangkapan untuk kebutuhan rumah tangga, kondisi ini sangat membebani. Beberapa di antaranya bahkan terpaksa mengurangi frekuensi melaut karena ongkos operasional lebih tinggi dibanding hasil tangkapan yang didapat.
Selain itu, ada kekhawatiran bahwa keberadaan tanggul akan mengubah ekosistem laut di sekitar Cilincing. Perubahan arus air dan sedimentasi dikhawatirkan berdampak pada berkurangnya populasi ikan di kawasan tradisional tangkapan nelayan.
Komisi IV DPR RI mengambil sikap tegas. Mereka menegaskan bahwa pembangunan fisik tidak boleh mengorbankan keberlangsungan hidup nelayan dan masyarakat pesisir. Untuk itu, DPR mendorong agar kementerian terkait, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), segera memberikan klarifikasi resmi mengenai status izin, AMDAL, serta mekanisme kompensasi kepada masyarakat terdampak.
Anggota DPR juga menekankan pentingnya pengawasan. Menurut mereka, sudah banyak proyek yang di atas kertas tampak ideal, tetapi pelaksanaannya di lapangan jauh dari harapan. Jangan sampai solusi tanggul beton Cilincing menjadi contoh buruk bagaimana proyek besar gagal memberi manfaat bagi rakyat kecil.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ikut terlibat dalam proses ini. Gubernur DKI bersama jajarannya telah memediasi pertemuan antara pihak perusahaan pengelola pelabuhan, kementerian, serta perwakilan nelayan. Hasilnya, ada beberapa kesepakatan awal, di antaranya bahwa jalur akses nelayan tetap harus dijaga, perusahaan diwajibkan menyalurkan program tanggung jawab sosial (CSR), dan pemerintah berkomitmen mengawasi implementasi perjanjian tersebut.
Meski begitu, nelayan masih menunggu bukti nyata. Mereka berharap janji itu tidak hanya sebatas rapat koordinasi, melainkan benar-benar diwujudkan dalam bentuk fasilitas, kompensasi, serta kebijakan yang berpihak.
Salah satu masalah besar yang muncul adalah terkait legalitas proyek. Publik mempertanyakan apakah izin pemanfaatan ruang laut, kesesuaian dengan RTRW, serta dokumen AMDAL sudah terpenuhi dengan benar. Jika prosedur tersebut belum lengkap, seharusnya pembangunan tidak boleh dilanjutkan.
Selain legalitas, transparansi juga menjadi persoalan. Banyak masyarakat yang mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses konsultasi publik. Padahal, prinsip pembangunan berkelanjutan mengharuskan adanya partisipasi aktif warga yang terdampak langsung.
Anggota DPR menegaskan pentingnya keterlibatan perusahaan dalam melaksanakan tanggung jawab sosial. CSR tidak boleh hanya berupa kegiatan seremonial, melainkan program nyata yang bisa mendukung ekonomi nelayan. Misalnya, pemberian subsidi bahan bakar, bantuan alat tangkap yang lebih efisien, atau pembukaan jalur akses khusus bagi perahu nelayan.
Dengan demikian, keberadaan tanggul bukan menjadi penghalang, tetapi justru bisa mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar.
Bagi nelayan Cilincing, solusi terbaik adalah yang bisa menjaga akses mereka ke laut tanpa menambah beban operasional. Mereka menuntut jalur khusus perahu tradisional yang aman dan mudah dilalui. Selain itu, nelayan berharap ada kompensasi yang adil bila mereka mengalami kerugian akibat berkurangnya hasil tangkapan.
Nelayan juga meminta agar pemerintah tidak hanya mendengarkan laporan dari perusahaan, tetapi juga turun langsung ke lapangan melihat kondisi nyata.
Kasus tanggul beton Cilincing menunjukkan tantangan besar dalam pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir. Di satu sisi, pembangunan pelabuhan dan tanggul dibutuhkan untuk kepentingan ekonomi yang lebih luas. Namun di sisi lain, kepentingan masyarakat lokal tidak boleh dikorbankan.
DPR merekomendasikan beberapa langkah strategis:
BACA JUGA : 10 Negara Tolak Deklarasi New York: Negara Palestina Merdeka?
Proyek tanggul beton di Cilincing menjadi ujian serius bagi pemerintah, DPR, dan pihak swasta. Solusi tanggul beton Cilincing tidak boleh berhenti di meja rapat atau dalam dokumen administrasi. Masyarakat menunggu bukti nyata berupa kebijakan yang berpihak, fasilitas yang mendukung, serta perlindungan lingkungan yang berkelanjutan.
Jika semua pihak berkomitmen, pembangunan bisa berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun jika tidak, proyek ini hanya akan menambah daftar panjang pembangunan yang menyisakan masalah bagi rakyat kecil.